Abdullah PKB Sayangkan Pernyataan Hasan Nasbi soal Wartawan Tempo Diteror Kepala Babi

Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyayangkan pernyataan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Juru Bicara Istana Hasan Nasbi soal wartawan Tempo yang dikirim kepala babi.

oleh Tim News Diperbarui 29 Mar 2025, 15:54 WIB
Diterbitkan 29 Mar 2025, 11:30 WIB
Abdullah
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Abdullah di Kompleks Parlemen Jakarta. (Ist).... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyayangkan pernyataan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi yang meremehkan intimidasi terhadap jurnalis Bocor Alus Politik atau Tempo Media yakni Fransisca Christy Rosana atau Cica.

"Intimidasi terhadap Cica mulai dari kepala babi tanpa kuping, bangkai tikus yang telah dipenggal, kemudian doxing terhadap Cica dan peretasan akun WhasApp Ibunya Cica bukanlah masalah yang sepeleh," ujar Abduh, melalui keterangan tertulis, Sabtu (29/3/2025).

Dia melanjutkan, dalam bingkai komunikasi publik, Pakar Komunikasi Gun Gun Haryanto juga telah menyatakan komunikasi publik Hasan Nasbi yang menyatakan agar kepala babi yang didapat Cica saat diintimidasi agar dimasak saja adalah pernyataan tak tepat dan justru memperkeruh suasana.

"Artinya dengan begitu komunikasi publik oleh pemerintah atau Jubir Istana itu mesti dievaluasi," terang Abduh.

Menurut dia, klarifikasi yang dilakukan Hasan Nasbi pun tidak mempunyai dasar yang kuat, misalnya dengan mengacu pada konsep dan teori akademis, melainkan lebih kepada pembenaran atau cocoklogi semata.

"Klarifikasi yang dilakukan oleh Jubir Istana tidak nampak mengubah apa pun. Yang terjadi sentimen negatif terhadap pemerintah yang dibuat Jubir Istana justru menambah beban baru bagi Presiden Prabowo yang sedang membuat dan mensosialisasikan kebijakan-kebijakan baru," papar Abduh.

 

Soal Komunikasi Publik Pemerintah

Anggota Komisi III DPR RI Abdullah mengingatkan kepada instansi yang berwenang untuk segera memproses penyidikan dan penyelidikan soal pagar laut.
Anggota Komisi III DPR RI Abdullah mengingatkan kepada instansi yang berwenang untuk segera memproses penyidikan dan penyelidikan soal pagar laut. (Ist)... Selengkapnya

Untuk mengubah model komunikasi publik pemerintah, legislator dari Dapil Jawa Tengah (Jateng) VI itu meminta komunikasi publik pemerintah mempunyai empati dan dapat berperspektif pada HAM dan penegakan hukum, khususnya terkait pelanggaran terhadap nilai-nilai demokrasi.

"Jika tidak, ya seperti yang terjadi sekarang. Ada pandangan pemerintah tidak mendukung kebebasan pers dan tidak berikhtiar memperkuat demokrasi. Hal ini mesti diperbaiki mulai dari komunikasi publiknya tadi," ucap Abduh.

Selain evaluasi komunikasi publik tadi, Abduh pun menilai kebuntuan komunikasi publik dari Jubir Istana terkait intimidasi terhadap jurnalis Tempo dapat dipatahkan melalui pengungkapan pelaku teror itu secepat mungkin oleh polisi.

Dirinya pun menyebut pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang akan mengungkap pelaku intimidasi terhadap jurnalis Tempo kini ditunggu buktinya oleh masyarakat luas.

"Masyarakat menunggu kepolisian mengungkap, pelaku dari teror ke jurnalis Tempo dan menghukum pelaku seberat-beratnya," ujar Mas Abduh.

Tidak hanya mengatasi peristiwa ancaman terhadap kebebasan pers, Mas Abduh pun meminta semua pihak untuk pro aktif dalam memberikan jaminan keamanan bagi insan pers.

"Saya mengajak semua pihak, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum dan masyarakat luas untuk berperan mewujudkan ekosistem pers yang aman dan sehat. Tidak boleh ada ancaman terhadap kebebasan pers yang terus berulang," kata Abduh.

"Komisi III DPR akan mengawal kasus hukum intimidasi terhadap jurnalis Tempo ini agar tidak menguap. Ini untuk mendukung penegakan hukum dan peningkatan kualitas demokrasi Indonesia," pungkas dia.

 

Wartawan Tempo Diteror Kepala Babi, Kepala PCO Hasan Nasbi: Dimasak Saja

hasan
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)... Selengkapnya

Sebelumnya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi merespons soal teror pengiriman paket berisi kepala babi yang ditujukan kepada wartawan Tempo Francisca Christy Rosana (Cica) pada Rabu, 20 Maret 2025. Hasan pun berkelakar jika kepala babi tersebut dimasak saja.

"Sudah dimasak saja, sudah dimasak saja," kata Hasan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat 21 Maret 2025.

Lebih lanjut, Hasan pun menilai, jika teror yang diterima jurnalis tempo bukanlah sebuah ancaman. Sebab, sikap jurnalis Tempo yang diunggah di mesia sosial santai atas teror tersebut.

"Enggaklah (sebagai ancaman), saya lihat ya saya lihat dari media sosialnya Francisca yang wartawan Tempo itu. Dia justru minta dikirimin daging babi," ucap Hasan.

"Ya sama artinya, dia enggak terancam kan. buktinya dia bisa bercanda. Kirimin daging babi," sambung dia.

Lebih lanjut, Hasan Nasbi meminta untuk tidak melebih-lebihkan permasalahan ini. Dia menilai teror tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya.

"Apakah itu benaran seperti itu? Atau cuma jokes, karena saya lihat juga mereka menanggapinya dengan jokes. Jadi menurut saya enggak usah dibesarkan," ucap Hasan Nasbi.

Hasan kembali menegaskan bahwa pemerintah menjunjung tinggi kebebasan pers.

"Ada yang dihalang-halangi bikin berita? Kalau enggak ada yang dihalang-halangi bikin berita, itu artinya kebebasan pers kita bagus," tutur Hasan.

"Ada yang disetop buat bikin berita dan wawancara? Enggak ada. Itu artinya kebebasan pers kita bagus. Ada yang takut enggak sekarang bikin berita? Ada yang dihalang-halangi enggak untuk liputan di Istana? Kan enggak. Itu artinya enggak ada kebebasan pers yang dikekang," tambahnya.

Hasan kembali menekankan, pemerintah tidak akan ikut campur mengenai kebebasan pers.

"Pemerintah enggak ikut campur sama sekali, enggak ganggu sama sekali. Pemerintah itu hanya berusaha meluruskan kalau medianya salah paham, kita luruskan. Kalau salah menulis statement, kita luruskan. Sisanya enggak. Enggak ada tindakan apa-apa," ucap Hasan.

 

Tuai Kritik, Kepala PCO Hasan Nasbi Klarifikasi Pernyataannya soal Teror Kepala Babi

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menjelaskan kerja Kantor Komunikasi Presiden usai dilantik Presiden Jokowi. (Liputan6.com/M Radityo Priyasmoro)
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menjelaskan kerja Kantor Komunikasi Presiden usai dilantik Presiden Jokowi. (Liputan6.com/M Radityo Priyasmoro)... Selengkapnya

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi mengklarifikasi pernyataannya saat merespons kasus teror kepala babi ke wartawan Tempo Fransisca Christy Rosana alias Cica.

Hasan mengklaim tidak bermakud melecehkan wartawan dan media massa. Sebelumnya, Hasan menyebut jika kepala babi yang dikirim ke wartawan Tempo dimasak saja. Setelah banyak mendapat kritik, Hasan Nasbi mencoba mengklarifikasi pernyataannya itu.

"Respons yang benar itu adalah respons seperti si Fransisca itu dengan mengecilkan si peneror," kata Hasan Nasbi kepada wartawan, Sabtu (22/3/2025).

"Saya itu kemarin hanya menyempurnakan responsnya Cica, itu saja," sambungnya.

Menurutnya, suatu teror biasanya bertujuan untuk menakut-nakuti. Respons santai seperti pernyataan atau cuitan Cica di akun X-nya, dinilai cara paling efektif untuk menghadapi ancaman. Sebab, dengan begitu maka pelaku atau peneror akan kehilangan tujuannya.

"Kalau sudah dikecilkan kayak gitu, sekalian saja dikecilkan si penerornya dengan cara dimasak, ya kan? Dan si Cica itu makan babi kan? Jadi bukan pelecehan itu. Coba lihat X-nya si Cica, menurut saya, itu respons yang benar kayak gitu, jadi saya meneruskan itu," ujar Hasan.

Dia menilai, suatu ancaman jangan terlalu dibesar-besarkan, karena sikap itu justru membuat peneror merasa tujuannya tercapai.

Di sisi lain, Hasan Nasbi mengaku heran dengan respons publik yang menyudutkannya. Padahal dia hanya bermaksud untuk menjatuhkan peneror.

"Jadi saya bingung kenapa marah-marah, tetapi kirim sajalah, namanya orang kan. Jadi jangan sampai kita justru ikut membesar-besarkan ketakutan, karena itu targetnya si peneror. Kita harus mengecilkan dia," ucap Nasbi.

Prihal teror terhadap Tempo dinilai sebagai ancaman terhadap kebebasan pers, Hasan menjamin bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sangat menjamin kebebasan.

Dia mengatakan, pemerintah tidak pernah melarang jurnalis menulis atau membuat produk-produk jurnalistik. Pemerintah juga tidak memperkarakan muatan informasi suatu produk berita.

Menurutnya, sangat tidak mendasar apabila ada yang menuding bahwa teror terhadap Tempo dianggap sebagai cara pemerintah untuk mengekang kebebasan pers.

"Bagi pemerintah, itu sudah bukti nyata, jadi bukan teori lagi, gitu lho. Jadi tuduhan-tuduhan semacam itu enggak masuk akal. Tuduhan mengekang kebebasan pers itu enggak masuk akal, buktinya semua orang boleh ngomong kok," tegas Hasan.

Infografis Jepang Peringatkan Potensi Teror di Asia Tenggara. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Jepang Peringatkan Potensi Teror di Asia Tenggara. (Liputan6.com/Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya