Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat ada Sulamadaha yang mendiami wilayah pesisir Ternate Maluku Utara memiliki berbagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu ritual sakral yang masih dilestarikan hingga kini adalah Uci Dowong.
Diketahui, Ritual Uci Dowong merupakan upacara tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk menghindarkan diri dari marabahaya, penyakit, serta berbagai bencana yang bisa menimpa kampung mereka. Uci Dowong bukan sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan leluhur.
Uci Dowong berasal dari kepercayaan leluhur masyarakat adat Sulamadaha bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh manusia, tetapi juga oleh roh-roh gaib yang bersemayam di laut, hutan, dan gunung. Keyakinan ini melahirkan berbagai ritual untuk menjaga keseimbangan alam, salah satunya adalah Uci Dowong.
Advertisement
Baca Juga
Dalam bahasa setempat, Uci berarti persembahan atau penghormatan, sementara Dowong merujuk pada roh atau entitas gaib yang dipercaya bersemayam di sekitar wilayah Sulamadaha. Ritual ini biasanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu, terutama ketika kampung sedang mengalami musibah seperti wabah penyakit, kemarau panjang, atau berbagai kejadian alam yang dianggap sebagai pertanda buruk.
Uci Dowong juga dapat dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen melimpah atau kesuksesan yang diraih oleh masyarakat. Ritual Uci Dowong dimulai dengan persiapan berbagai sesaji yang harus dipersembahkan kepada para roh penunggu alam.
Sesaji tersebut terdiri dari makanan khas seperti nasi kuning, ikan bakar, ayam kampung, sirih pinang, serta air yang diambil dari sumber mata air suci. Selain itu, ada juga wewangian dari kemenyan dan dupa yang dibakar untuk mengundang kehadiran roh leluhur.
Pelaksanaan ritual dipimpin oleh seorang tetua adat atau dukun kampung yang memiliki pengetahuan spiritual mendalam. Ia akan membacakan doa-doa khusus dalam bahasa adat sambil mengayunkan daun palma atau dedaunan tertentu yang dipercaya memiliki kekuatan magis.
Doa-doa tersebut bertujuan untuk mengundang roh penjaga kampung agar mereka berkenan menerima persembahan dan memberikan perlindungan kepada masyarakat. Bagian inti dari Uci Dowong adalah prosesi pelepasan sesaji ke laut atau ke tempat yang dianggap suci, seperti pohon tua atau batu besar yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya roh.
Â
Simak Video Pilihan Ini:
Pelestarian Tradisi
Warga berkumpul dan mengikuti prosesi dengan penuh kekhidmatan, sering kali diiringi dengan nyanyian adat dan tabuhan alat musik tradisional seperti tifa atau gong.
Selain memiliki dimensi spiritual, Uci Dowong juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial dalam komunitas. Masyarakat yang terlibat dalam ritual ini akan merasakan kebersamaan yang erat, karena mereka harus bekerja sama dalam menyiapkan segala kebutuhan ritual.
Kaum laki-laki biasanya bertanggung jawab atas pengadaan bahan-bahan utama, sementara kaum perempuan menyiapkan makanan dan perlengkapan lainnya. Anak-anak juga diajarkan untuk menghormati tradisi ini sejak dini agar warisan budaya tidak hilang ditelan zaman.
Selain itu, ritual ini menjadi salah satu bentuk pendidikan budaya bagi generasi muda. Mereka diajarkan untuk memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ritual, seperti penghormatan kepada leluhur, kepedulian terhadap lingkungan, serta pentingnya menjaga keseimbangan hidup.
Dengan demikian, Uci Dowong tidak hanya menjadi ritual semata, tetapi juga bagian dari identitas dan jati diri masyarakat Sulamadaha. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, keberlangsungan ritual Uci Dowong menghadapi berbagai tantangan.
Generasi muda yang semakin terpapar dengan budaya luar sering kali kurang tertarik untuk mengikuti tradisi ini. Selain itu, pengaruh agama yang lebih dominan juga membuat beberapa kelompok masyarakat mulai meninggalkan praktik ritual adat yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran tertentu.
Namun, ada upaya dari para tetua adat dan budayawan lokal untuk tetap melestarikan ritual ini. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengemas ritual Uci Dowong dalam bentuk yang lebih dapat diterima oleh masyarakat modern, misalnya dengan memasukkan unsur seni pertunjukan atau festival budaya yang dapat menarik perhatian generasi muda.
Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan juga mulai berperan dalam mendukung pelestarian tradisi ini melalui dokumentasi serta promosi dalam kegiatan wisata budaya. Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai upacara tolak bala, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial dan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Meski menghadapi berbagai tantangan, upaya pelestarian terus dilakukan agar tradisi ini tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan memahami dan menghargai ritual seperti Uci Dowong, kita turut berkontribusi dalam menjaga kekayaan budaya Nusantara yang begitu beragam dan penuh makna.
Penulis: Belvana Fasya Saad
Advertisement
