Rupiah terhadap Dolar AS Turun Tipis Hari Ini 26 Februari 2025, Bagaimana Besok?

Rupiah diramal fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 16.320 - Rp 16.390 pada Kamis, 27 Februari 2025.

oleh Natasha Khairunisa Amani Diperbarui 26 Feb 2025, 16:31 WIB
Diterbitkan 26 Feb 2025, 16:31 WIB
Rupiah terhadap Dolar AS Turun Tipis Hari Ini 26 Februari 2025, Bagaimana Besok?
Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memastikan keseimbangan supply dan demand di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Rupiah  melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 26 Februari 2025 yang didorong data ekonomi AS. Pergerakan rupiah terhadap dolar AS diprediksi fluktuatif pada perdagangan Kamis, 27 Februari 2025.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan Rupiah ditutup melemah tipis 9 poin terhadap dolar AS (USD) pada perdagangan Rabu sore, 26 Februari 2025 setelah sempat melemah 40 poin di level Rp 16.380 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.371.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 16.320 - Rp 16.390," kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (26/2/2025).

"Selera risiko diguncang oleh Presiden AS Donald Trump yang mengancam tarif perdagangan lebih tinggi, sementara data kepercayaan konsumen yang lemah memicu meningkatnya kekhawatiran atas ekonomi AS yang melambat," ujar dia.

Ibrahim juga menyoroti naiknya sentimen negatif menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyelidiki dan mengenakan tarif pada impor tembaga. Sebelumnya, Trump juga mengisyaratkan tarif 25% pada Kanada dan Meksiko akan dikenakan pada awal Maret 2025.

Trump memastikan, pungutan impor terhadap Kanada dan Meksiko akan berlaku sesuai jadwal meskipun keduanya telah berupaya untuk memperkuat keamanan perbatasan.

Namun, Trump tidak secara khusus menyebutkan batas waktu 4 Maret saat tarif akan mulai berlaku. Langkah tersebut akan berlaku untuk impor AS senilai lebih dari $918 miliar dari Kanada dan Meksiko, dan mengancam akan mengacaukan ekonomi Amerika Utara yang sangat terintegrasi.

Adapun data kepercayaan konsumen AS pada Februari 2025 yang menunjukkan pelemahan pada kecepatan tertajamnya dalam 3-1/2 tahun, dengan ekspektasi inflasi 12 bulan melonjak. Sementara itu, ekonomi Jerman menyusut dalam tiga bulan terakhir tahun 2024 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

 

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan saya pribadi sebagai seorang pengamat. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor transaksi terkait. 

Sesuai dengan UU PBK No.32 Tahun 1997 yang diperbaharui dengan UU No.10 Tahun 2011 serta Perba No.107/BAPPEBTI/PER/11/2013 bahwa transaksi di Valas beresiko tinggi dan keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

RI Resmi Luncurkan Bank Emas

Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan layanan Bank Emas atau bullion bank pertama dalam sejarah Indonesia, pada Rabu (26/2/2025).
Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan layanan Bank Emas atau bullion bank pertama dalam sejarah Indonesia, pada Rabu (26/2/2025). (Liputan6.com/Lizsa Egeham)... Selengkapnya

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan meluncurkan layanan bisnis emas atau bullion service pertama di RI, hari ini,  PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) sudah resmi memperoleh izin untuk usaha bullion tersebut.

Adapun pedoman penyelenggaraannya melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion. Berikut merupakan pengertian dan mekanisme transaksinya mengacu pada POJK tersebut.

Sebagai informasi, Bullion adalah lembaga jasa keuangan (LJK) yang melakukan usaha berkaitan dengan emas dalam bentuk simpanan emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, penitipan emas, dan/atau kegiatan lainnya.

Usaha Bullion Berpotensi Tingkatkan Konsumsi Ritel Emas

Bisnis bank emas ini pun diyakini akan prospektif, mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil emas terbesar dunia.

"Usaha Bullion dapat berpotensi meningkatkan konsumsi emas ritel yang akan memacu peningkatan industri emas dan keseluruhan bisnis dalam ekosistem emas yang mewadahi dengan tambahan value added (VA) hingga sebesar Rp30 triliun-Rp 50 triliun. Hadirnya Bullion Bank sejalan dengan pergerakan harga emas dunia yang terus melesat sejak 2024 dan berlanjut di sepanjang tahun ini," kata Ibrahim.

Rupiah Menguat Seiring Kepercayaan Konsumen AS, Sekarang Segini

FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)... Selengkapnya

Sebelumnya, nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan pada pembukaan perdagangan hari Rabu di Jakarta, mencatat kenaikan sebesar 24 poin atau 0,15 persen ke level 16.347 per dolar Amerika Serikat (AS) dari posisi rupiah sebelumnya di 16.371 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa penguatan nilai tukar rupiah ini terjadi seiring dengan pelemahan dolar AS yang terdorong oleh penurunan kepercayaan konsumen di Amerika Serikat.

“Rupiah berpotensi terus menguat terhadap dolar AS yang sedang melemah setelah survei kepercayaan konsumen AS menunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan,” ujarnya dikutip dari ANTARA, Rabu (26/2/2025).

Indeks Kepercayaan Konsumen

Survei terbaru menunjukkan bahwa indeks kepercayaan konsumen AS mengalami penurunan dari 102,5 menjadi 98,3, jauh di bawah ekspektasi yang berada di angka 105,3.

Menurut Lukman, sentimen negatif ini dipicu oleh kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump serta pemutusan hubungan kerja terhadap banyak pegawai pemerintah AS.

Pemerintah AS mengumumkan rencana pemberhentian sekitar dua ribu karyawan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) serta penempatan hampir seluruh staf lainnya dalam status cuti administratif. Langkah ini dinilai memberikan dampak terhadap kepercayaan pasar dan turut berkontribusi pada pelemahan dolar AS.

 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya