Liputan6.com, Jakarta Di Indonesia, sekitar 4.050.000 jiwa hidup dengan tunanetra, sebuah kondisi yang beragam dengan tantangan dan kebutuhan berbeda-beda. Namun, potensi mereka seringkali terabaikan karena stigma dan miskonsepsi yang berkembang di masyarakat.
Banyak penyandang tunanetra memiliki kapabilitas dan kompetensi yang mumpuni untuk bersaing di dunia kerja formal. Sayangnya, anggapan keliru tentang keterbatasan mereka seringkali menjadi penghalang utama dalam meraih kesuksesan profesional.
Baca Juga
“Alasan mengapa para pemberi kerja belum berkeinginan merekrut tunanetra adalah stigma dan asumsi yang keliru. Pada dasarnya stigma dan mispersepsi tentang tunanetra diawali dari ketidakpahaman masyarakat tentang kehidupan tunanetra, khususnya yang telah mandiri,” kata penulis disabilitas di Yayasan Mitra Netra, Juwita Maulida, dikutip Rabu (25/12/2024).
Advertisement
Peluang Kerja bagi Tunanetra: Mitos vs Realita
Meskipun jumlah penyandang tunanetra di Indonesia cukup signifikan, peluang kerja bagi mereka masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh stigma negatif dan asumsi keliru yang berkembang di masyarakat.
Banyak perusahaan masih ragu untuk merekrut tunanetra karena ketidakpahaman tentang kemampuan dan potensi mereka. Padahal, dengan dukungan teknologi asistif dan pelatihan yang tepat, tunanetra mampu berkontribusi secara optimal di berbagai bidang pekerjaan.
Faktanya, banyak penyandang tunanetra yang telah mandiri dan menguasai teknologi asistif seperti komputer bicara, smartphone, dan berbagai aplikasi pendukung. Mereka juga mampu bermobilitas mandiri dengan bantuan tongkat putih.
Advertisement
Stigma Negatif Tunanetra: Hambatan Menuju Kesetaraan
Salah satu hambatan utama bagi penyandang tunanetra dalam memasuki dunia kerja adalah stigma negatif yang masih melekat. Masyarakat seringkali berasumsi bahwa tunanetra tidak mampu bekerja secara mandiri atau tidak dapat berkontribusi secara efektif dalam tim.
Menurut Juwita, masih banyak perusahaan atau pihak pemberi kerja yang mempercayai stereotip bahwa tunanetra tidak mampu bekerja secara mandiri atau tidak dapat berkontribusi secara efektif dalam tim kerja.
Anggapan bahwa semua dokumen pekerjaan harus dalam huruf Braille juga menjadi salah satu miskonsepsi yang perlu diluruskan. Penyandang tunanetra yang telah mandiri umumnya mampu mengoperasikan teknologi asistif untuk mengakses informasi digital.
Di samping itu, tunanetra juga dapat mobilisasi secara mandiri jika telah menguasai keterampilan orientasi mobilitas dengan penggunaan alat bantu tongkat putih. Apabila seorang penyandang disabilitas netra berpendidikan tinggi dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja, maka tunanetra tersebut layak untuk diperhitungkan dalam proses perekrutan. Dan memiliki peluang yang sama dengan individu non tunanetra dalam mendapatkan pekerjaan.
Menghilangkan Asumsi Negatif: Membuka Jalan Inklusi
Untuk mengatasi stigma negatif dan asumsi keliru tentang tunanetra, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Perusahaan perlu mengubah paradigma lama yang menganggap tunanetra sebagai beban, bukan aset berharga.
Memberikan kesempatan magang atau pekerjaan paruh waktu dapat menjadi langkah awal yang efektif. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk melihat langsung potensi calon karyawan tunanetra dan mengidentifikasi jenis pekerjaan yang sesuai.
Selain itu, kampanye edukasi publik tentang kemampuan dan potensi tunanetra juga sangat penting. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan membantu mengurangi stigma dan mendorong penerimaan yang lebih inklusif.
- Kampanye edukasi publik
- Pelatihan dan pengembangan keterampilan
- Pengembangan teknologi asistif
Advertisement
Komunikasi Efektif dengan Tunanetra: Membangun Jembatan Pemahaman
Minimnya pengetahuan tentang cara berinteraksi dengan penyandang tunanetra juga menjadi tantangan tersendiri. Ketidakpahaman ini dapat menyebabkan komunikasi yang kurang efektif dan menciptakan hambatan dalam proses perekrutan.
“Penyebab perusahaan belum berkeinginan merekrut tunanetra adalah kurangnya pemahaman pihak pemberi kerja tentang cara berinteraksi dengan tunanetra,” jelas Juwita Maulida.
Untuk mengatasi hal ini, perusahaan dapat menginisiasi kegiatan yang melibatkan interaksi langsung dengan tunanetra, seperti jalan sehat bersama atau nonton film bareng. Pengalaman ini akan membantu membangun pemahaman dan komunikasi yang lebih nyaman.
Membuka Peluang dan Kesempatan: Menuju Dunia Kerja yang Inklusif
Penyandang tunanetra memiliki potensi besar untuk berkontribusi di dunia kerja. Dengan menghilangkan stigma negatif, memberikan kesempatan yang sama, dan membangun komunikasi yang efektif, kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan setara.
Dukungan dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan perubahan positif ini. Dengan begitu, tunanetra dapat berpartisipasi penuh dalam pembangunan bangsa dan meraih kesuksesan sesuai potensi mereka.
Mari kita bersama-sama membangun Indonesia yang lebih inklusif, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi, tanpa memandang keterbatasan fisik.
Advertisement
