Liputan6.com, Jakarta Dalam ajaran Islam, terdapat berbagai kewajiban dan ibadah yang harus dilaksanakan oleh umatnya. Salah satu di antaranya adalah puasa di bulan Ramadhan. Namun, ada kalanya seseorang tidak dapat menjalankan ibadah puasa karena alasan tertentu. Dalam situasi seperti ini, Islam memberikan solusi berupa fidyah. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan fidyah? Bagaimana ketentuan dan cara membayarnya? Mari kita bahas secara mendalam dalam artikel berikut ini.
Pengertian Fidyah dalam Islam
Fidyah merupakan istilah yang berasal dari bahasa Arab "fadaa" yang memiliki arti mengganti atau menebus. Dalam konteks syariat Islam, fidyah dapat didefinisikan sebagai bentuk kompensasi atau tebusan yang wajib diberikan kepada orang yang membutuhkan sebagai pengganti ibadah yang telah ditinggalkan.
Secara lebih spesifik, fidyah adalah kewajiban membayar denda berupa makanan pokok kepada orang miskin sebagai pengganti atas ketidakmampuan seseorang dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kewajiban ini berlaku bagi mereka yang memiliki alasan syar'i yang memungkinkan untuk tidak berpuasa.
Konsep fidyah ini mencerminkan fleksibilitas dan kemurahan hati dalam ajaran Islam. Allah SWT memberikan alternatif bagi hamba-Nya yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa, namun tetap dapat menunaikan kewajiban dengan cara lain yang bermanfaat bagi sesama.
Advertisement
Dasar Hukum Fidyah dalam Al-Quran dan Hadits
Kewajiban membayar fidyah memiliki landasan yang kuat dalam Al-Quran dan Hadits. Berikut ini adalah beberapa dalil yang menjadi dasar hukum fidyah:
1. Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 184
Allah SWT berfirman:
(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 184)
Ayat ini secara jelas menyebutkan kewajiban membayar fidyah bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam menjalankan puasa. Hal ini menunjukkan bahwa fidyah merupakan alternatif yang disyariatkan oleh Allah SWT bagi hamba-Nya yang memiliki uzur tertentu.
2. Hadits Riwayat Abu Dawud
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda:
"Menceritakan Muhammad bin Abdillah, menceritakan Mu'az yu'ni bin al-Matsna, menceritakan Masdad menceritakan Yahya dari Ibnu Harij dari Atha' dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad SAW tentang orang yang sakit di bulan ramadhan, kemudian ia sehat dan tidak berpuasa sampai bulan ramadhan berikutnya. Nabi SAW bersabda: 'ia harus berpuasa pada bulan ramadhan yang baru, setelah itu ia boleh mengqadha' hutang puasanya, dan memberi makan seorang miskin setiap harinya."
Hadits ini memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kewajiban membayar fidyah bagi mereka yang tidak mampu mengganti puasa yang ditinggalkan hingga datangnya Ramadhan berikutnya.
Kriteria Orang yang Wajib Membayar Fidyah
Tidak semua orang yang meninggalkan puasa Ramadhan diwajibkan untuk membayar fidyah. Ada beberapa kriteria khusus yang menentukan siapa saja yang termasuk dalam kategori wajib membayar fidyah. Berikut ini adalah penjelasan mengenai kriteria tersebut:
1. Lansia atau Orang Tua Renta
Orang lanjut usia yang sudah tidak mampu lagi untuk berpuasa karena kondisi fisiknya yang lemah termasuk dalam kategori yang diperbolehkan untuk membayar fidyah. Mereka tidak diwajibkan untuk berpuasa, namun sebagai gantinya harus membayar fidyah untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.
2. Penderita Penyakit Kronis
Seseorang yang menderita penyakit kronis atau penyakit parah yang tidak ada harapan untuk sembuh juga termasuk dalam golongan yang diperbolehkan untuk membayar fidyah. Kondisi kesehatan mereka yang tidak memungkinkan untuk berpuasa menjadi alasan diperbolehkannya mengganti puasa dengan fidyah.
3. Ibu Hamil dan Menyusui
Wanita hamil dan menyusui yang khawatir akan keselamatan dirinya atau bayinya jika berpuasa, diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan fidyah. Namun, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan:
- Jika kekhawatiran hanya terkait keselamatan bayi, maka wajib membayar fidyah.
- Jika kekhawatiran mencakup keselamatan diri sendiri dan bayi, maka tidak ada kewajiban fidyah, tetapi harus mengqadha puasa di lain waktu.
4. Orang yang Meninggal Dunia dengan Hutang Puasa
Dalam kasus seseorang yang meninggal dunia namun masih memiliki hutang puasa, terdapat dua kondisi:
- Jika orang tersebut meninggalkan puasa karena uzur dan tidak memiliki kesempatan untuk mengqadha, maka tidak ada kewajiban fidyah.
- Jika orang tersebut meninggalkan puasa tanpa uzur atau memiliki kesempatan untuk mengqadha namun tidak dilakukan, maka wajib bagi ahli waris untuk membayarkan fidyah atas nama almarhum.
5. Orang yang Menunda Qadha Puasa Ramadhan
Seseorang yang menunda-nunda qadha puasa Ramadhan hingga datangnya Ramadhan berikutnya, padahal ia memiliki kesempatan untuk mengqadha, maka ia wajib membayar fidyah sebagai denda atas keterlambatan tersebut. Namun, jika penundaan disebabkan oleh alasan yang dibenarkan syariat, seperti sakit berkepanjangan, maka tidak ada kewajiban membayar fidyah.
Advertisement
Besaran dan Cara Menghitung Fidyah
Dalam menentukan besaran fidyah yang harus dibayarkan, terdapat beberapa pendapat dari para ulama. Berikut ini adalah penjelasan mengenai besaran dan cara menghitung fidyah:
1. Besaran Fidyah Menurut Mazhab Syafi'i dan Maliki
Menurut pendapat Imam Syafi'i dan Imam Malik, besaran fidyah yang harus dibayarkan adalah sebesar satu mud makanan pokok. Satu mud setara dengan sekitar 675 gram atau 0,75 kg beras atau gandum. Jumlah ini dikalikan dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan.
2. Besaran Fidyah Menurut Mazhab Hanafi
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa besaran fidyah yang harus dikeluarkan adalah sebesar dua mud atau setara dengan 1,5 kg beras atau gandum. Pendapat ini sering digunakan sebagai acuan bagi mereka yang membayar fidyah dalam bentuk beras.
3. Cara Menghitung Fidyah
Untuk menghitung jumlah fidyah yang harus dibayarkan, gunakan rumus berikut:
Jumlah fidyah = Besaran fidyah per hari x Jumlah hari puasa yang ditinggalkan
Contoh perhitungan:
- Jika mengikuti pendapat Syafi'i dan Maliki: 0,75 kg x 30 hari = 22,5 kg beras
- Jika mengikuti pendapat Hanafi: 1,5 kg x 30 hari = 45 kg beras
4. Konversi Fidyah dalam Bentuk Uang
Beberapa ulama kontemporer memperbolehkan pembayaran fidyah dalam bentuk uang yang setara dengan nilai beras atau makanan pokok. Untuk menghitung nilai fidyah dalam bentuk uang, dapat menggunakan rumus:
Nilai fidyah = Harga beras per kg x Jumlah kg fidyah
Sebagai contoh, jika harga beras Rp10.000 per kg dan jumlah fidyah 22,5 kg, maka nilai fidyah dalam bentuk uang adalah Rp225.000.
Tata Cara Membayar Fidyah
Setelah mengetahui besaran fidyah yang harus dibayarkan, langkah selanjutnya adalah memahami tata cara pembayaran fidyah yang benar. Berikut ini adalah panduan lengkap mengenai tata cara membayar fidyah:
1. Menentukan Penerima Fidyah
Fidyah harus diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, yaitu fakir miskin. Pastikan untuk memilih penerima fidyah yang benar-benar membutuhkan bantuan makanan.
2. Menyiapkan Makanan atau Uang
Siapkan makanan pokok atau uang yang setara dengan nilai fidyah yang telah dihitung. Jika membayar dalam bentuk makanan, pastikan makanan tersebut berkualitas baik dan layak konsumsi.
3. Mengucapkan Niat
Sebelum memberikan fidyah, ucapkan niat dalam hati. Contoh niat membayar fidyah:
"Nawaitu an ukhrija fidyatal murdhi'I Fardhaa Syar a' lillaita'ala"
Artinya: "Saya niat membayar fidyah karena (alasan, misal: hamil/sakit) lillahi ta'ala"
4. Menyerahkan Fidyah
Serahkan fidyah kepada penerima yang berhak. Jika membayar melalui lembaga amil zakat, ikuti prosedur yang ditetapkan oleh lembaga tersebut.
5. Membayar Fidyah untuk Setiap Hari
Ingat bahwa fidyah harus dibayarkan untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Jika meninggalkan puasa selama beberapa hari, maka fidyah harus dibayarkan sesuai jumlah hari tersebut.
Advertisement
Perbedaan Fidyah, Kafarat, dan Zakat Fitrah
Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa istilah yang terkait dengan kewajiban memberi kepada orang yang membutuhkan. Tiga di antaranya adalah fidyah, kafarat, dan zakat fitrah. Meskipun ketiganya memiliki tujuan yang sama yaitu membantu sesama, namun terdapat perbedaan mendasar yang perlu dipahami:
1. Fidyah
Fidyah adalah tebusan yang dibayarkan sebagai pengganti puasa yang ditinggalkan karena alasan tertentu yang dibenarkan syariat. Fidyah diberikan kepada fakir miskin dalam bentuk makanan pokok atau uang yang setara.
2. Kafarat
Kafarat adalah denda yang harus dibayarkan karena melanggar larangan tertentu dalam ibadah, seperti berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan. Kafarat biasanya lebih berat daripada fidyah dan memiliki tingkatan tertentu, mulai dari memerdekakan budak, puasa dua bulan berturut-turut, hingga memberi makan 60 orang miskin.
3. Zakat Fitrah
Zakat fitrah adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim menjelang hari raya Idul Fitri. Tujuannya adalah untuk menyucikan diri dan membantu orang-orang yang kurang mampu agar dapat merayakan hari raya. Zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk makanan pokok atau uang yang setara.
Perbedaan utama antara ketiganya terletak pada sebab dan waktu pelaksanaannya. Fidyah terkait dengan ketidakmampuan berpuasa, kafarat terkait dengan pelanggaran ibadah, sedangkan zakat fitrah terkait dengan kewajiban tahunan menjelang Idul Fitri.
Manfaat dan Hikmah di Balik Kewajiban Fidyah
Kewajiban membayar fidyah bukan hanya sekadar aturan tanpa makna. Ada banyak manfaat dan hikmah yang terkandung di dalamnya, baik bagi pemberi maupun penerima. Berikut ini adalah beberapa manfaat dan hikmah di balik kewajiban fidyah:
1. Meringankan Beban Orang yang Tidak Mampu Berpuasa
Fidyah memberikan alternatif bagi mereka yang tidak mampu berpuasa karena alasan kesehatan atau usia lanjut. Dengan adanya fidyah, mereka tetap dapat menunaikan kewajiban agama tanpa harus memaksakan diri berpuasa yang mungkin membahayakan kesehatan mereka.
2. Membantu Fakir Miskin
Pembayaran fidyah secara langsung membantu meringankan beban hidup fakir miskin. Mereka mendapatkan bantuan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
3. Menumbuhkan Rasa Empati dan Kepedulian Sosial
Kewajiban membayar fidyah mengajarkan umat Islam untuk selalu peduli dan memperhatikan kondisi saudara-saudara mereka yang kurang beruntung. Hal ini menumbuhkan rasa empati dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
4. Mendidik Sikap Bertanggung Jawab
Fidyah mengajarkan umat Islam untuk bertanggung jawab atas kewajiban yang tidak dapat mereka laksanakan. Meskipun tidak dapat berpuasa, mereka tetap harus menunaikan kewajiban dalam bentuk lain.
5. Menjaga Keseimbangan Spiritual dan Sosial
Dengan adanya fidyah, Islam mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga mencakup hubungan horizontal dengan sesama manusia. Fidyah menjembatani aspek spiritual dan sosial dalam beribadah.
Advertisement
Pertanyaan Umum Seputar Fidyah
Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait dengan fidyah beserta jawabannya:
1. Apakah fidyah bisa dibayar sekaligus di akhir Ramadhan?
Ya, fidyah bisa dibayarkan sekaligus di akhir Ramadhan. Namun, sebaiknya dibayarkan segera setelah mengetahui ketidakmampuan untuk berpuasa.
2. Bolehkah fidyah diberikan kepada satu orang saja?
Pada dasarnya, fidyah sebaiknya diberikan kepada orang yang berbeda untuk setiap harinya. Namun, jika sulit menemukan penerima yang berbeda, diperbolehkan memberikan kepada satu orang saja.
3. Apakah fidyah bisa diganti dengan sedekah dalam bentuk lain?
Pada prinsipnya, fidyah harus dalam bentuk makanan pokok. Namun, beberapa ulama kontemporer memperbolehkan pembayaran dalam bentuk uang yang setara dengan nilai makanan tersebut.
4. Bagaimana jika seseorang meninggal dunia dan masih memiliki hutang puasa?
Jika seseorang meninggal dunia dan masih memiliki hutang puasa, maka ahli warisnya dianjurkan untuk membayarkan fidyah atas nama almarhum.
5. Apakah ada batas waktu untuk membayar fidyah?
Tidak ada batas waktu spesifik untuk membayar fidyah. Namun, sebaiknya dibayarkan segera setelah mengetahui ketidakmampuan untuk berpuasa atau sebelum Ramadhan berikutnya tiba.
Kesimpulan
Fidyah merupakan salah satu bentuk keringanan dan kemudahan yang diberikan Allah SWT dalam menjalankan ibadah puasa. Melalui fidyah, mereka yang tidak mampu berpuasa karena alasan tertentu tetap dapat menunaikan kewajiban agama sekaligus membantu sesama yang membutuhkan. Pemahaman yang benar tentang fidyah, mulai dari pengertian, ketentuan, hingga cara membayarnya, sangat penting agar ibadah ini dapat dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai syariat Islam.
Sebagai umat Islam, hendaknya kita senantiasa bersyukur atas kemudahan yang diberikan Allah SWT dalam menjalankan ibadah. Fidyah bukan hanya sekadar pengganti puasa, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial dan spiritual yang mendalam. Dengan menunaikan fidyah, kita tidak hanya memenuhi kewajiban agama, tetapi juga turut berperan dalam meringankan beban saudara-saudara kita yang kurang beruntung.
Semoga penjelasan mengenai apa itu fidyah ini dapat memberikan pemahaman yang komprehensif dan bermanfaat bagi kita semua. Mari kita jadikan fidyah sebagai sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Advertisement
