Tujuan Aksi Kamisan: Perjuangan Keadilan HAM di Indonesia

Aksi Kamisan merupakan gerakan perjuangan keadilan HAM yang dilakukan secara rutin setiap Kamis di depan Istana Negara. Simak tujuan dan sejarahnya.

oleh Ayu Rifka Sitoresmi Diperbarui 26 Feb 2025, 09:30 WIB
Diterbitkan 26 Feb 2025, 09:30 WIB
tujuan aksi kamisan
tujuan aksi kamisan ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Aksi Kamisan telah menjadi simbol perjuangan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia selama lebih dari satu dekade. Gerakan damai yang dilakukan setiap hari Kamis ini memiliki tujuan mulia untuk menuntut keadilan atas berbagai kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan. Mari kita telaah lebih dalam mengenai tujuan, sejarah, dan makna di balik Aksi Kamisan ini.

Sejarah Lahirnya Aksi Kamisan

Aksi Kamisan pertama kali digelar pada 18 Januari 2007 di depan Istana Merdeka, Jakarta. Gerakan ini lahir sebagai respons atas lambatnya proses penegakan hukum terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia, terutama yang terjadi pada masa Orde Baru. Para penggagas awal aksi ini adalah keluarga korban pelanggaran HAM seperti keluarga Marsinah, Munir Said Thalib, dan aktivis-aktivis yang hilang di era 1997-1998.

Inspirasi utama di balik Aksi Kamisan adalah Ibu Sumarsih, ibunda dari Wawan yang menjadi korban dalam Tragedi Semanggi. Didorong oleh keinginan kuat untuk mendapatkan keadilan bagi putranya dan korban-korban lain, Ibu Sumarsih bersama keluarga korban lainnya memulai tradisi berdiri di depan Istana Merdeka setiap hari Kamis. Aksi ini menjadi cara mereka untuk terus mengingatkan negara akan tanggung jawabnya dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM.

Sejak saat itu, Aksi Kamisan terus berlangsung secara konsisten selama lebih dari 13 tahun, melewati dua era kepemimpinan presiden - Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. Selama periode tersebut, para peserta Aksi Kamisan telah melakukan lebih dari 640 aksi di depan Istana Negara dan mengirimkan hampir 600 surat kepada pemerintah.

Tujuan Utama Aksi Kamisan

Aksi Kamisan memiliki beberapa tujuan utama yang menjadi landasan perjuangan mereka:

  1. Menuntut penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang belum terselesaikan di Indonesia.
  2. Mendesak pemerintah untuk mengakui terjadinya kejahatan kemanusiaan di masa lalu.
  3. Mendorong pembentukan pengadilan HAM ad hoc untuk mengadili para tersangka pelaku pelanggaran HAM.
  4. Meminta pemerintah untuk memulihkan nama baik dan memberikan kompensasi kepada para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM.
  5. Menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya penegakan HAM di Indonesia.

Secara lebih spesifik, beberapa tuntutan konkret yang disuarakan dalam Aksi Kamisan meliputi:

  1. Penerbitan Keputusan Presiden (Keppres) terkait pembentukan pengadilan HAM ad hoc.
  2. Pembentukan tim pencarian korban yang masih hilang dalam kasus-kasus pelanggaran HAM.
  3. Ratifikasi Konvensi Internasional Menentang Penghilangan Paksa.
  4. Pengungkapan dokumen hasil penyelidikan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus meninggalnya aktivis HAM Munir Said Thalib.
  5. Penyidikan oleh Jaksa Agung terhadap 9 peristiwa pelanggaran HAM berat yang telah diselidiki Komnas HAM.

Makna Simbolis dalam Aksi Kamisan

Aksi Kamisan memiliki beberapa elemen simbolis yang khas dan sarat makna:

1. Pakaian Hitam

Para peserta Aksi Kamisan selalu mengenakan pakaian serba hitam. Warna hitam ini memiliki beberapa makna penting:

  • Simbol duka yang mendalam atas korban-korban pelanggaran HAM
  • Representasi ketabahan dalam menghadapi ketidakadilan
  • Lambang perlawanan terhadap impunitas dan kelalaian negara
  • Wujud solidaritas di antara para pejuang keadilan

2. Payung Hitam

Selain pakaian hitam, para peserta juga membawa payung hitam yang menjadi ciri khas Aksi Kamisan. Payung hitam ini memiliki makna simbolis sebagai berikut:

  • Perlindungan dari ketidakadilan dan pelanggaran HAM
  • Naungan spiritual dalam perjuangan mencari kebenaran
  • Simbol keteguhan hati menghadapi berbagai tantangan
  • Representasi perlindungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan

3. Aksi Diam

Berbeda dengan demonstrasi pada umumnya, Aksi Kamisan dilakukan dalam keheningan. Para peserta berdiri diam tanpa teriakan atau orasi. Kesunyian ini memiliki makna mendalam:

  • Bentuk protes damai yang menunjukkan kedewasaan bersikap
  • Simbol keteguhan hati yang tak tergoyahkan oleh waktu
  • Cara menarik perhatian publik melalui kekontrasan dengan hiruk-pikuk kota
  • Representasi "suara" korban yang telah dibungkam

Kasus-kasus Utama yang Diperjuangkan

Aksi Kamisan menyoroti berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia, terutama yang belum mendapatkan penyelesaian hukum yang adil. Beberapa kasus utama yang menjadi fokus perjuangan Aksi Kamisan antara lain:

1. Tragedi 1965

Peristiwa pembantaian massal yang terjadi setelah peristiwa G30S, dimana ratusan ribu orang yang dituduh terlibat dengan komunisme menjadi korban. Hingga kini, banyak aspek dari tragedi ini yang belum terungkap dan para pelakunya belum diadili.

2. Peristiwa Tanjung Priok 1984

Insiden penembakan terhadap massa yang melakukan protes di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Peristiwa ini menewaskan puluhan orang dan mencederai ratusan lainnya. Meski telah ada pengadilan HAM ad hoc, banyak pihak menilai proses hukumnya belum memuaskan rasa keadilan.

3. Penculikan dan Penghilangan Paksa Aktivis 1997-1998

Serangkaian penculikan terhadap para aktivis pro-demokrasi yang terjadi menjelang dan selama masa Reformasi. Beberapa aktivis hingga kini masih dinyatakan hilang, termasuk penyair Wiji Thukul.

4. Tragedi Trisakti dan Semanggi I & II

Peristiwa penembakan terhadap mahasiswa yang terjadi pada Mei 1998 (Trisakti) dan November 1998 serta September 1999 (Semanggi I & II). Kasus-kasus ini belum sepenuhnya terungkap dan para pelakunya belum diadili secara tuntas.

5. Pembunuhan Munir Said Thalib

Kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada tahun 2004 yang hingga kini dalang utamanya belum terungkap. Meski ada yang telah dihukum, banyak pihak meyakini masih ada aktor intelektual di balik pembunuhan ini yang belum tersentuh hukum.

Perkembangan dan Dampak Aksi Kamisan

Selama lebih dari satu dekade berjalan, Aksi Kamisan telah mengalami berbagai perkembangan dan memberikan dampak yang signifikan:

1. Perluasan Jaringan

Aksi Kamisan yang awalnya hanya dilakukan di Jakarta, kini telah menginspirasi gerakan serupa di berbagai kota di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Tercatat ada sekitar 39 titik aksi di 23 provinsi di Indonesia dan satu negara bagian di Australia yang melakukan Aksi Kamisan.

2. Peningkatan Kesadaran Publik

Melalui konsistensi aksinya, Aksi Kamisan telah berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM. Isu-isu yang tadinya cenderung terlupakan kembali mendapat perhatian publik.

3. Tekanan terhadap Pemerintah

Meski belum sepenuhnya berhasil mencapai tujuannya, Aksi Kamisan telah memberikan tekanan yang konsisten kepada pemerintah untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM. Beberapa respons pemerintah, meski belum memuaskan, menunjukkan bahwa suara mereka didengar.

4. Inspirasi bagi Gerakan Sosial Lain

Metode aksi damai dan konsisten yang ditunjukkan oleh Aksi Kamisan telah menginspirasi berbagai gerakan sosial lain di Indonesia. Banyak kelompok masyarakat yang kemudian mengadopsi pendekatan serupa dalam menyuarakan aspirasinya.

5. Dokumentasi Sejarah

Aksi Kamisan telah menjadi bentuk dokumentasi hidup atas perjuangan HAM di Indonesia. Konsistensi mereka dalam mengingatkan publik dan pemerintah tentang kasus-kasus pelanggaran HAM menjadi catatan penting dalam sejarah penegakan HAM di negeri ini.

Tantangan dan Kritik terhadap Aksi Kamisan

Meski telah berjalan lebih dari satu dekade, Aksi Kamisan masih menghadapi berbagai tantangan dan kritik:

1. Keterbatasan Dampak Langsung

Beberapa pihak mengkritisi bahwa meski telah berlangsung lama, Aksi Kamisan belum berhasil mencapai tujuan utamanya yaitu penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM. Pemerintah masih terkesan lamban dalam merespons tuntutan mereka.

2. Kurangnya Dukungan Massa

Dibandingkan dengan aksi-aksi massa lainnya, jumlah peserta Aksi Kamisan relatif kecil dan stabil. Hal ini bisa dilihat sebagai kekuatan dalam hal konsistensi, namun juga bisa dianggap sebagai kelemahan dalam hal tekanan massa.

3. Politisasi Isu

Ada kekhawatiran bahwa isu-isu yang diangkat dalam Aksi Kamisan kadang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politik praktis, terutama menjelang momentum politik seperti pemilihan umum.

4. Keberlanjutan Gerakan

Dengan sebagian besar inisiator dan peserta setia Aksi Kamisan yang sudah berusia lanjut, muncul pertanyaan tentang keberlanjutan gerakan ini di masa depan. Diperlukan regenerasi dan pewarisan semangat perjuangan kepada generasi yang lebih muda.

5. Kejenuhan Publik

Seiring berjalannya waktu, ada risiko bahwa publik menjadi terbiasa dan kurang responsif terhadap Aksi Kamisan. Diperlukan strategi baru untuk terus menarik perhatian dan dukungan masyarakat luas.

Peran Media dan Teknologi dalam Aksi Kamisan

Seiring perkembangan zaman, Aksi Kamisan juga memanfaatkan media dan teknologi untuk memperluas jangkauan dan dampak gerakannya:

1. Penggunaan Media Sosial

Para aktivis Aksi Kamisan aktif menggunakan platform media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram untuk menyebarluaskan informasi tentang aksi mereka dan isu-isu HAM terkait. Hashtag seperti #AksiKamisan dan #KamisanOnline sering digunakan untuk meningkatkan visibilitas gerakan ini di dunia maya.

2. Livestreaming dan Dokumentasi Digital

Aksi Kamisan kini sering didokumentasikan secara langsung melalui livestreaming di berbagai platform media sosial. Hal ini memungkinkan lebih banyak orang untuk "hadir" secara virtual dan merasakan atmosfer aksi tersebut.

3. Petisi Online

Selain aksi fisik, para aktivis juga memanfaatkan platform petisi online untuk mengumpulkan dukungan publik terhadap tuntutan-tuntutan mereka. Hal ini memungkinkan partisipasi lebih luas dari masyarakat yang tidak bisa hadir langsung dalam aksi.

4. Podcast dan Konten Digital

Beberapa aktivis Aksi Kamisan mulai membuat podcast dan konten digital lainnya untuk mengedukasi publik tentang isu-isu HAM dan latar belakang perjuangan mereka. Ini menjadi cara baru untuk menjangkau audiens yang lebih muda dan tech-savvy.

5. Kolaborasi dengan Influencer

Untuk meningkatkan visibilitas, Aksi Kamisan terkadang berkolaborasi dengan influencer atau tokoh publik yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu HAM. Hal ini membantu memperluas jangkauan pesan mereka ke audiens yang lebih luas.

Aksi Kamisan dalam Konteks Global

Aksi Kamisan bukan hanya fenomena lokal Indonesia, tetapi juga memiliki relevansi dalam konteks perjuangan HAM global:

1. Inspirasi dari Gerakan Internasional

Aksi Kamisan terinspirasi oleh gerakan serupa di negara lain, terutama aksi Madres de Plaza de Mayo di Argentina. Gerakan ibu-ibu yang menuntut keadilan atas hilangnya anak-anak mereka selama rezim militer di Argentina ini menjadi model bagi Aksi Kamisan.

2. Solidaritas Internasional

Aksi Kamisan telah mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai organisasi HAM internasional. Beberapa aktivis HAM dari luar negeri bahkan pernah berpartisipasi langsung dalam aksi ini sebagai bentuk solidaritas.

3. Advokasi di Forum Internasional

Para aktivis Aksi Kamisan sering membawa isu-isu yang mereka perjuangkan ke forum-forum internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai konferensi HAM internasional. Hal ini membantu meningkatkan tekanan internasional terhadap pemerintah Indonesia.

4. Pembelajaran bagi Gerakan HAM di Negara Lain

Konsistensi dan metode damai Aksi Kamisan telah menjadi contoh dan pembelajaran bagi gerakan-gerakan HAM di negara-negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara.

5. Kontribusi pada Wacana HAM Global

Melalui perjuangannya, Aksi Kamisan turut berkontribusi pada perkembangan wacana HAM global, terutama dalam hal penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu dan perjuangan melawan impunitas.

Kesimpulan

Aksi Kamisan telah menjadi simbol penting dalam perjuangan hak asasi manusia di Indonesia. Selama lebih dari satu dekade, gerakan ini telah konsisten mengingatkan pemerintah dan masyarakat akan pentingnya penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM. Meski belum sepenuhnya mencapai tujuannya, Aksi Kamisan telah memberikan kontribusi signifikan dalam menjaga isu HAM tetap relevan dalam diskursus publik Indonesia.

Tantangan ke depan bagi Aksi Kamisan adalah bagaimana mempertahankan relevansi dan momentumnya, sambil terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Diperlukan strategi baru untuk menarik perhatian generasi muda dan memanfaatkan teknologi secara lebih optimal. Yang pasti, selama kasus-kasus pelanggaran HAM belum terselesaikan, Aksi Kamisan akan terus menjadi suara penting yang mengingatkan kita semua akan tanggung jawab bersama dalam menegakkan keadilan dan hak asasi manusia di Indonesia.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya