Liputan6.com, Dodoma - Namanya Mzee Ernesto Muinuchi Kapinga. Pria asal desa kecil di Tanzania ini memiliki kehidupan keluarga yang luar biasa. Mengklaim punya 16 istri, 104 anak, dan 144 cucu. Keluarganya berkembang menjadi seperti sebuah komunitas tersendiri, lengkap dengan rumah untuk setiap istri dan anak-anak yang tumbuh bersama dalam lingkungan yang terorganisir.
Dikutip Oddity Central, Kamis (27/2/2025), kisah Kapinga berawal dari permintaan ayahnya yang ingin memperluas klan keluarga mereka. Setelah menikahi istri pertamanya pada tahun 1961 dan memiliki anak pertama setahun kemudian, sang ayah meyakinkannya bahwa satu istri tidaklah cukup. Ia bahkan menawarkan untuk membayar mas kawin bagi beberapa istri tambahan agar Kapinga mau menambah jumlah anggota keluarganya.
Dengan dukungan sang ayah, Kapinga menikah dengan lima wanita pertama. Namun, perjalanannya tak berhenti di sana. Pada puncak kehidpan poligaminya, ia memiliki 20 istri. Beberapa memilih pergi, sementara yang lain telah meninggal dunia, sehingga saat ini ia masih hidup bersama 16 istri, tujuh di antaranya adalah saudara kandung.
Advertisement
Meskipun berbagi suami bukanlah hal yang umum, para istri Kapinga mengaku hidup rukun dan tidak merasa cemburu. Salah satu istri awalnya mendengar tentang kehidupan bahagia saudarinya bersama Kapinga, lalu memutuskan untuk menikah dengannya. Hal ini akhirnya membuat tujuh bersaudara menjadi istri dalam keluarga besar tersebut.
"Di sini, semua orang memiliki peran masing-masing," ujar Kapinga.
"Setiap istri memiliki rumah dan dapurnya sendiri. Tidak ada persaingan, semua tahu tempatnya. Kami bertani bersama, makan bersama, dan bekerja sama. Ini bukan sekadar rumah, tetapi sebuah sistem yang berjalan."
Â
Hidup dari Bertani dan Beternak
Menghidupi ratusan anggota keluarga tentu bukan tugas mudah. Namun, Kapinga dan keluarganya mengandalkan pertanian dan peternakan sebagai sumber kehidupan. Mereka menanam jagung, kacang, singkong, dan pisang untuk dikonsumsi sendiri. Hasil lebihnya mereka jual atau tukarkan dengan kebutuhan lain.
Banyak yang mengira bahwa Kapinga mengendalikan seluruh keluarga, tetapi ia menegaskan bahwa peran utama justru ada di tangan para istri.
"Orang berpikir saya yang mengontrol semuanya," katanya.
"Tapi kenyataannya, para perempuanlah yang menjaga keluarga ini tetap bersatu. Saya hanya membimbing mereka."
Dalam keluarga sebesar ini, perselisihan pasti terjadi. Namun, Kapinga menekankan pentingnya komunikasi terbuka. Para istri selalu berbicara satu sama lain untuk menyelesaikan masalah. Jika ada konflik yang sulit diselesaikan, mereka datang kepada Kapinga yang bertindak sebagai penasihat tanpa memihak. Sistem ini, menurutnya, telah terbukti efektif selama bertahun-tahun.
Meski memiliki keluarga besar, Kapinga juga telah mengalami kehilangan besar. Ia telah kehilangan 40 anaknya akibat penyakit dan kecelakaan. Meski begitu, ia tetap melangkah maju untuk merawat dan membimbing anak-anak serta cucu-cucunya yang masih hidup.
Â
Advertisement
