Hadiri Pesta Saat Masa Karantina Spanyol, Pangeran Belgia Kena Denda dan Positif COVID-19

Joachim, seorang pangeran dari Belgia didenda lebih dari $ 10.000 atau Rp 141 juta lebih setelah melanggar aturan karantina Spanyol.

oleh Ade Nasihudin Al Ansori diperbarui 12 Jun 2020, 06:00 WIB
Diterbitkan 12 Jun 2020, 06:00 WIB
Suasana Kota Barcelona Setelah Spanyol Berlakukan Lockdown
Warga berjalan di sepanjang La Ramblas, Barcelona, Spanyol, Minggu (15/3/2020). Pemerintah Spanyol memberlakukan lockdown setelah negara berpenduduk 47 juta jiwa itu terdampak virus corona COVID-19 paling parah kedua di Eropa setelah Italia. (AP Photo/Emilio Morenatti)

Liputan6.com, Jakarta Joachim, seorang pangeran dari Belgia didenda lebih dari $ 10.000 atau senilai Rp 141 juta lebih setelah melanggar aturan karantina Spanyol. Selain kena denda, ia juga terkena COVID-19 setelah menghadiri sebuah pesta di negara tersebut.

Keponakan Raja Philippe dari Belgia ini pergi ke Spanyol pada 24 Mei untuk sebuah pekerjaan, tetapi ia gagal mematuhi aturan negara yang mengamanatkan para pelancong yang masuk untuk mengkarantina diri selama 14 hari, kata pejabat di Andalusia.

Alih-alih mengkarantina diri, sang pangeran pergi ke sebuah pesta di kota selatan Cardoba dua hari setelah kedatangannya dan kemudian dinyatakan positif terkena virus.

Ada 27 orang yang hadir dalam pesta yang diadakan dengan melanggar aturan karantina Spanyol, Brussels Times melaporkan.

Pangeran 28 tahun ini mengaku melanggar karantina dan dituntut dengan denda yang tidak sedikit. 

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Simak Video Berikut Ini:


Permintaan Maaf

Pangeran itu mengeluarkan pernyataan publik pekan lalu meminta maaf setelah berita itu menyebar dan sekarang berada di Spanyol mengikuti aturan karantina.

"Saya ingin meminta maaf karena tidak menghormati semua tindakan karantina selama perjalanan saya," kata Joachim. "Di saat-saat sulit ini, saya tidak bermaksud menyinggung atau tidak menghormati siapa pun."

Spanyol adalah salah satu negara yang paling parah terkena virus ini, berdasarkan data yang ada lebih dari 242.000 kasus COVID-19 dan 27.000 kematian terkait.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya