Liputan6.com, Jakarta Bulan Ramadhan selalu identik dengan tradisi sahur yang menjadi bagian penting dalam ibadah puasa. Di berbagai daerah Indonesia, terdapat kebiasaan unik untuk membangunkan orang-orang saat sahur, salah satunya adalah dengan menyanyikan lirik lagu Hai Ibu Bapak Sahur versi Indonesia. Lagu sahur yang berasal dari Aceh ini telah menjadi fenomena nasional yang menggema di berbagai pelosok tanah air saat bulan suci Ramadhan tiba, mengundang kehangatan dan nostalgia bagi yang mendengarnya.
Advertisement
Baca Juga
Advertisement
Lirik lagu Hai Ibu Bapak Sahur versi Indonesia atau yang dikenal juga dengan "Watee Ka Sahoe" dalam bahasa Aceh, memiliki makna yang mendalam tentang pentingnya bangun sahur dan menikmati waktu bersama keluarga sebelum menjalani puasa. Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh para remaja yang berkeliling kampung untuk membangunkan warga sambil memainkan alat musik tradisional, menciptakan suasana khas Ramadhan yang tak terlupakan.
Keunikan lirik lagu Hai Ibu Bapak Sahur versi Indonesia terletak pada kesederhanaan pesannya yang mengajak semua orang untuk bangun dan menyiapkan diri menjalani ibadah puasa. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, mendengar lirik lagu Hai Ibu Bapak Sahur versi Indonesia sudah menjadi alarm alami yang menandakan waktu sahur telah tiba.
Lagu ini tidak hanya sekadar pengingat untuk bangun dan makan sahur, tetapi juga membawa pesan kebersamaan dan semangat beribadah selama bulan Ramadhan. Popularitas lagu ini semakin meningkat di era digital, di mana banyak orang mencari dan membagikan lirik lagu Hai Ibu Bapak Sahur versi Indonesia melalui platform media sosial sebagai bagian dari merayakan suasana Ramadhan yang penuh berkah.
Lebih jelasnya, berikut ini telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber informasi lengkapnya, pada Rabu (26/2).
Lirik Lengkap Lagu Hai Ibu Bapak Sahur Versi Indonesia
Berikut adalah lirik lengkap dari lagu "Hai Ibu Bapak Sahur" versi Indonesia yang telah menjadi tradisi di berbagai daerah selama bulan Ramadhan:
Hai ibu bapak (Ibu Bapak)Â
Sudah bisa bangun waktunya SahurÂ
Wahai Ibu Bapak yang masih tidurÂ
Sudah waktunya bangun sahurÂ
Â
Untuk memananaskan nasi dan memanaskan kuahÂ
Untuk makan bersama keluargaÂ
Bulan Ramadhan bulan muliaÂ
Ayo kita rekan kita puasaÂ
Â
Makan sahur supaya kita ada tenagaÂ
Besok siang waktu berkerjaÂ
Wahai Ibu Bapak yang masih tidur
Sudah waktunya bangun sahur
Â
Untuk memanaskan nasi dan memanaskan kuahÂ
Untuk makan bersama keluargaÂ
Ayo kita beribadah supaya di beri rahmat berlipat gandaÂ
Sudah waktunya bangun hai rekan semuaÂ
Â
Wahai Ibu Bapak yang masih tidurÂ
Sudah waktunya bangun sahurÂ
Untuk memananaskan nasi dan memanaskan kuah
Untuk makan bersama keluarga.
Lirik lagu ini memiliki struktur yang sederhana namun mengandung pesan yang kuat. Dimulai dengan sapaan yang ramah "Hai ibu bapak", lagu ini langsung mengajak pendengarnya untuk bangun dan mempersiapkan sahur. Pengulangan frasa "Sudah waktunya bangun sahur" menegaskan pentingnya tidak melewatkan waktu sahur yang terbatas.
Dalam lagu ini juga terdapat penekanan pada aspek kebersamaan keluarga saat sahur melalui lirik "Untuk memananaskan nasi dan memanaskan kuah, Untuk makan bersama keluarga". Hal ini menunjukkan bahwa sahur bukan hanya tentang makan sebelum berpuasa, tetapi juga menjadi momen berharga untuk berkumpul bersama keluarga di waktu yang spesial.
Lagu ini juga mengingatkan tentang keberkahan bulan Ramadhan melalui lirik "Bulan Ramadhan bulan mulia", mengajak pendengarnya untuk menjalankan ibadah puasa dengan baik. Kemudian dilanjutkan dengan mengingatkan manfaat sahur untuk memberikan tenaga selama berpuasa dengan lirik "Makan sahur supaya kita ada tenaga, Besok siang waktu berkerja".
Pada bagian akhir, lagu ini mengajak untuk meningkatkan ibadah selama bulan Ramadhan dengan lirik "Ayo kita beribadah supaya di beri rahmat berlipat ganda", menekankan bahwa Ramadhan adalah kesempatan untuk mendapatkan pahala yang berlipat dari Allah SWT. Keseluruhan lirik lagu ini mencerminkan semangat Ramadhan yang penuh keberkahan dan kebersamaan.
Advertisement
Lirik Asli Watee Ka Sahoe dalam Bahasa Aceh
Untuk memahami akar budaya dari lagu sahur yang populer ini, penting untuk mengenal versi aslinya dalam bahasa Aceh. Berikut adalah lirik lengkap "Watee Ka Sahoe" dalam bahasa Aceh:
Hai Ibu Bapak (Ibu bapak ibu bapak)Â
Hai Ka jeut beudoeh, wate ka sahoe (2x)Â
Hai Ibu Bapak yang Mantong teunget
 Hai kajeut beudoh wate ka sahoe (2x)Â
Â
Ta pe su'um bu, pe su'um kuahÂ
Ngak jeut ta pajoh ngon keluarga (2x)Â
Buleun Ramadhan buleun muliaÂ
Jak tanyo rakan ta jak puasa (2x)Â
Â
Pajoh bu sahoe ngekna teunaga
 'Oh singoeh leuhoe beu ek ta kerja (2x)Â
Ta meu ibadah le that pahalaÂ
Meulimpah rahmat meulipat ganda (2x)Â
Â
Kajeut beudoh eh hai rakan mudaÂ
Bukuah leumak mangat that rasa (2x)
Bahasa Aceh memiliki keunikan tersendiri dengan dialek dan intonasi yang khas. Kata "sahoe" dalam bahasa Aceh berarti "sahur", sementara "beudoh" berarti "bangun". Frasa "Ka jeut beudoeh, wate ka sahoe" secara harfiah berarti "Sudah bisa bangun, waktunya sahur". Keindahan bahasa Aceh tercermin dalam lirik ini, dengan kata-kata yang melodis dan mengalir dengan ritme yang khas.
Istilah "Mantong teunget" berarti "masih tidur", sementara "Ta pe su'um bu, pe su'um kuah" berarti "Memanaskan nasi, memanaskan kuah". Ini menunjukkan budaya kuliner khas Aceh di mana hidangan berkuah seperti kuah pliek u, kuah beulangong, atau sie reuboh (daging rebus) sering menjadi menu sahur favorit masyarakat Aceh.
Kata "pajoh" berarti "makan", dan frasa "Ngak jeut ta pajoh ngon keluarga" berarti "Untuk makan bersama keluarga". Ini menekankan nilai kebersamaan yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Aceh, di mana makan bersama keluarga dianggap sebagai momen penting untuk memperkuat ikatan kekeluargaan.
"Buleun Ramadhan buleun mulia" berarti "Bulan Ramadhan bulan mulia", dan "Jak tanyo rakan ta jak puasa" berarti "Ayo kita teman, kita puasa". Ini mencerminkan semangat kolektif masyarakat Aceh dalam menjalankan ibadah puasa, di mana kebersamaan dan saling mengingatkan menjadi nilai yang dijunjung tinggi.
Frasa "Pajoh bu sahoe ngekna teunaga, 'Oh singoeh leuhoe beu ek ta kerja" berarti "Makan sahur agar ada tenaga, besok siang bisa bekerja". Ini menunjukkan karakter masyarakat Aceh yang pekerja keras, yang tetap produktif bahkan saat bulan puasa.
Sejarah dan Asal Usul Lagu Hai Ibu Bapak Sahur
Lagu "Hai Ibu Bapak Sahur" atau yang dikenal dengan judul asli "Watee Ka Sahoe" merupakan warisan budaya dari Aceh yang telah berlangsung selama beberapa generasi. Tradisi membangunkan sahur di Aceh memiliki akar historis yang dalam, mencerminkan nilai-nilai keislaman yang kuat di daerah tersebut. Sejarah mencatat bahwa Aceh merupakan salah satu pintu masuk Islam pertama di Indonesia, sehingga tradisi-tradisi yang berkaitan dengan bulan Ramadhan telah berkembang dan mengakar di sana sejak berabad-abad lalu.
Lagu ini mulanya dinyanyikan dalam bahasa Aceh dengan judul "Watee Ka Sahoe" yang secara harfiah berarti "Waktu Sudah Sahur". Tradisi menyanyikan lagu ini dilakukan oleh anak-anak muda yang bergabung dalam kelompok yang disebut "meurukon" di Aceh.
Mereka akan berkeliling kampung pada dini hari sambil memukul bedug atau alat musik lainnya untuk membangunkan penduduk desa agar tidak melewatkan waktu sahur. Seiring berjalannya waktu, lagu ini kemudian dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia agar dapat dinikmati oleh masyarakat di seluruh Nusantara.
Dalam perkembangannya, lagu Hai Ibu Bapak Sahur versi Indonesia mengalami beberapa adaptasi dan variasi sesuai dengan dialek dan budaya lokal di berbagai daerah. Namun, esensi dan pesan utama lagu ini tetap sama, yaitu mengingatkan orang-orang untuk bangun dan menyiapkan sahur sebagai bagian dari persiapan menjalani ibadah puasa.
Kini, lagu ini tidak hanya dinyanyikan secara langsung oleh kelompok pemuda yang berkeliling kampung, tetapi juga sering diputar melalui pengeras suara masjid atau musholla, bahkan melalui aplikasi media sosial dan platform digital lainnya.
Menurut beberapa tokoh budaya Aceh, lagu "Watee Ka Sahoe" memiliki nilai filosofis yang dalam. Lagu ini tidak sekadar pengingat untuk bangun sahur, tetapi juga mengandung pesan moral tentang pentingnya memulai hari dengan semangat beribadah dan kebersamaan keluarga. Dalam konteks masyarakat Aceh yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, lagu ini menjadi simbol harmonisasi antara budaya lokal dan ajaran agama yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Advertisement
