Liputan6.com, Jakarta - Salat tarawih adalah salah satu ibadah yang sangat dinanti-nanti oleh umat Islam, terutama saat bulan Ramadan tiba.
Selain menjalankan puasa wajib, umat Islam juga dianjurkan untuk mengerjakan berbagai ibadah sunah untuk menambah pahala, yaitu salah satunya salat tarawih.
Advertisement
Baca Juga
Salat tarawih merupakan ibadah malam yang dikerjakan setelah salat Isya dan biasanya dilakukan secara berjemaah di masjid.
Advertisement
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya berapa jumlah rakaat yang seharusnya dilakukan saat melaksanakan salat tarawih?
Sebenarnya, tidak ada kesepakatan tunggal di kalangan umat Islam mengenai jumlah rakaat ini. Perbedaan ini muncul karena adanya variasi dalam mazhab dan praktik yang berkembang di berbagai daerah.
Di Indonesia, praktik salat tarawih bisa berbeda-beda tergantung pada komunitas atau organisasi keagamaan yang diikuti.
Sebagai contoh, Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, menetapkan jumlah rakaat salat tarawih sebanyak 8 rakaat ditambah 3 rakaat witir, sehingga totalnya menjadi 11 rakaat.
Jumlah tersebut diambil dari praktik awal Rasulullah SAW yang hanya melaksanakan shalat Tarawih 8 rakaat.
Namun, ada juga kelompok lain yang lebih umum mempraktikkan 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir, sehingga totalnya menjadi 23 rakaat. Jumlah ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari empat mazhab utama, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali.
Dalam konteks ini, kita bisa melihat bahwa ada banyak variasi dalam pelaksanaan shalat Tarawih, dan semuanya memiliki landasan serta argumentasi masing-masing.
Perbedaan Jumlah Rakaat Salat Tarawih
Berikut adalah beberapa jumlah rakaat salat tarawih yang umum dipraktikkan:
- 8 rakaat + 3 rakaat witir (total 11 rakaat): Jumlah ini ditetapkan oleh Muhammadiyah dan banyak diikuti di Indonesia. Ini adalah praktik yang kembali ke zaman Rasulullah SAW.
- 20 rakaat + 3 rakaat witir (total 23 rakaat): Ini adalah jumlah yang paling umum dipraktikkan di banyak masjid di Indonesia dan di seluruh dunia.
- 13 rakaat: Beberapa masjid juga menerapkan jumlah ini, meskipun tidak sepopuler dua jumlah sebelumnya.
- 36 rakaat atau lebih: Ada juga praktik salat tarawih yang melaksanakan jumlah rakaat ini, meskipun jarang ditemui.
Setiap jumlah rakaat tersebut memiliki dasar dan argumentasi masing-masing. Misalnya, mereka yang memilih 20 rakaat berargumen bahwa jumlah ini lebih mendekati praktik yang dilakukan oleh para sahabat Nabi.
Sementara itu, kelompok yang memilih 8 rakaat berpendapat bahwa ini adalah jumlah yang lebih sesuai dengan sunnah Nabi.
Advertisement
Makna dan Pentingnya Salat Tarawih
Penting untuk diingat bahwa salat tarawih adalah shalat sunnah, bukan salat wajib. Oleh karena itu, jumlah rakaatnya tidak bersifat mutlak.
Tidak ada satu jumlah rakaat yang secara universal dianggap sebagai 'benar' atau 'salah'. Yang terpenting adalah niat ikhlas dalam beribadah dan konsistensi dalam melaksanakannya.
Apapun jumlah rakaat yang dipilih, selama dilaksanakan dengan khusyuk dan sesuai dengan tuntunan agama, pahala akan tetap didapatkan.
Dalam konteks ini, ibadah salat tarawih bukan hanya sekadar jumlah rakaat, tetapi juga tentang kedekatan hati kepada Allah SWT dan penghayatan terhadap makna Ramadan itu sendiri.
Dengan memahami variasi jumlah rakaat ini, kita bisa lebih menghargai perbedaan yang ada dalam praktik ibadah di kalangan umat Islam.
Setiap kelompok memiliki alasan dan tradisi yang mendasarinya, dan semua ini adalah bagian dari kekayaan budaya Islam yang harus kita jaga.
Dalam menjalankan salat tarawih, mari kita fokus pada kualitas ibadah kita, bukan hanya kuantitasnya. Dengan demikian, kita bisa meraih manfaat maksimal dari ibadah ini dan mendapatkan keberkahan di bulan suci Ramadan.
Niat Salat Tarawih
Seperti kita ketahui salat tarawih adalah salat sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan oleh umat muslim. Biasanya ibadah sunnah ini dilaksanakan usai shalat isya secara berjamaah di masjid ataupun sendiri-sendiri. Berikut ini adalah niat dari salat tarawih:
1. Niat salat tarawih berjamaah di masjid sebagai Imam
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى
(Ushalli sunnatat Tarawihi rak’atayni mustaqbilal qiblati ada’an imaman lillahi ta’ala)
Artinya: “Aku menyengaja sembahyang sunah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah”
2. Niat salat tarawih berjamaah di masjid sebagai makmum
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
(Ushalli sunnatat Tarawihi rak’atayni mustaqbilal qiblati ada’an ma’muman lillahi ta’ala)
Artinya: “Aku menyengaja sembahyang sunah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah”
3. Niat salat tarawih sendiri di rumah
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى
(Usholli sunnatat tarawihi rok’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala)
Artinya: “Saya niat salat tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah SWT”
Advertisement
