Gunung Semeru Erupsi 4 Kali, Semburkan Abu Vulkanik hingga 800 Meter

Gunung Semeru di Jawa Timur erupsi empat kali pada Jumat pagi, menyemburkan abu vulkanik hingga ketinggian 800 meter di atas puncaknya, dengan status gunung masih siaga level III.

oleh Nila Chrisna Yulika Diperbarui 04 Apr 2025, 12:15 WIB
Diterbitkan 04 Apr 2025, 12:15 WIB
Gunung Semeru Erupsi Tinggi Letusan capai 800 Meter (Istimewa)
Gunung Semeru Erupsi Tinggi Letusan capai 800 Meter (Istimewa)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan puncak Mahameru setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl), kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Jumat pagi, 3 April 2025, gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur ini erupsi sebanyak empat kali. Erupsi tersebut memuntahkan abu vulkanik hingga ketinggian mencapai 800 meter di atas puncak, menimbulkan kepulan asap tebal yang terlihat dari berbagai wilayah sekitar.

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 05.00 WIB, dengan kolom letusan mencapai 800 meter di atas puncak atau sekitar 4.476 mdpl. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal terlihat mengarah ke timur laut. 

Aktivitas vulkanik ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 160 detik. Kejadian ini tentu saja mengundang kekhawatiran dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat sekitar.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, dalam laporannya menjelaskan kronologi erupsi. Ia menyebutkan erupsi susulan terjadi pada pukul 06.28 WIB, 07.15 WIB, dan 08.23 WIB, dengan ketinggian kolom letusan bervariasi antara 500 hingga 800 meter di atas puncak. 

Warna abu bervariasi dari putih hingga kelabu, dengan intensitas tebal mengarah ke timur laut dan utara. Semua erupsi terekam seismograf dengan amplitudo dan durasi yang sedikit berbeda, namun tetap menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan.

Erupsi Semeru dan Rekomendasi PVMBG

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status Gunung Semeru pada level III atau Siaga. Oleh karena itu, PVMBG mengeluarkan beberapa rekomendasi penting untuk keselamatan masyarakat. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena potensi bahaya lontaran batu pijar. 

Di luar radius 13 km, masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak. Hal ini perlu diperhatikan mengingat potensi bahaya yang ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik Semeru.

Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. 

Potensi lahar juga perlu diwaspadai pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan. Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi PVMBG sangat penting untuk meminimalkan risiko bencana.

Karakteristik Gunung Semeru

Gunung Semeru, selain dikenal dengan aktivitas vulkaniknya yang aktif, juga memiliki karakteristik geografis dan ekologis yang unik. Gunung ini terbentuk akibat subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Sunda. Puncaknya, yang bernama Jonggring Saloko, memiliki kawah yang aktif mengeluarkan material vulkanik. Vegetasi di lereng Semeru beragam, mulai dari hutan Dipterokarp Bukit hingga hutan Ericaceous (hutan gunung), mencerminkan variasi iklim dan ketinggian.

Iklim di wilayah Gunung Semeru termasuk tipe B (Schmidt dan Ferguson), dengan curah hujan yang bervariasi. Suhu di puncak berkisar antara 0-4 derajat Celcius, sedangkan suhu di lereng lebih hangat, antara 3-8 derajat Celcius pada malam dan dini hari, dan 15-21 derajat Celcius pada siang hari. Meskipun demikian, potensi hujan salju kecil tetap ada, terutama saat pergantian musim. Kondisi alam yang unik ini menjadikan Semeru sebagai gunung yang menantang bagi para pendaki.

Gunung Semeru juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat Jawa. Ia dikaitkan dengan Gunung Meru dalam kepercayaan Hindu-Buddha, menjadikannya tempat yang sakral dan dihormati. Namun, penting untuk selalu mengutamakan keselamatan dan mengikuti arahan dari pihak berwenang saat mengunjungi atau mendaki gunung ini.

 

Sumber: Antara

Infografis Kejutan Tak Terduga Erupsi Gunung Semeru. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Kejutan Tak Terduga Erupsi Gunung Semeru. (Liputan6.com/Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya