Liputan6.com, Semarang - Ekonomi Indonesia sedang dianggap tak baik-baik saja. Daya beli melemah, lapangan kerja susah didapat, dan anak muda makin gelisah memikirkan masa depan. Banyak sistem yang lebih mengandalkan koneksi orang dalam ketimbang meritokrasi.
Profesi trader, yang sebenarnya bisa jadi jalan keluar. Celakanya saat ini ada cap buruk. Mulai penipuan, kedok judi online, hingga pencucian uang.
Baca Juga
Kemudian para trader yang berhimpun di Cuantainment, mencoba membuktikan bahwa trading bukan momok, melainkan peluang. Cuantainment kemudian membuka edukasi gratis serta aksi nyata.
Advertisement
CEO Cuantainment, Josh Hartwich, mengumpulkan anak-anak muda dengan program membagi 100 makanan dan 100 minuman gratis di Lapangan Pancasila, Salatiga.
"Di sela-sela acara, kami akhirnya ngobrol dan berdiskusi tentang peluang di era digital. Banyak yang tak paham kalau mindset dan afirmasi itu fondasi penting sebelum uang datang menghampiri kita,” katanya.
Ia lalu mengutip filsuf ekonomi John Stuart Mill yang menyebut bahwa kekayaan adalah hasil dari pikiran yang terbuka dan tangan yang bekerja.
Josh paham betul kegelisahan anak muda saat ini. Di Indonesia, meritokrasi sering tak jalan.
“Ekonomi lagi terpuruk, tapi ini juga momentum. Era digital membuka pintu. Semua orang bisa cari uang dari rumah, pakai handphone atau laptop," katanya.
Trading, menurutnya, adalah salah satu jalan keluar. Bukan gambling atau tipu-tipu, tapi keahlian yang bisa dipelajari dan dikuasai.
"Tapi ini ini bukan soal kerja keras semata. Ada kerja cerdas dan kemampuan menangkap momentum," katanya.
Cuantainment hadir bukan semata berbekal motivasi kosong, tapi bimbingan konkret secara gratis.
Dari nol, mereka ajarkan dasar-dasar trading sampai strategi yang masuk akal, khususnya buat anak muda yang ingin mandiri.