Liputan6.com, Jakarta - Daftar Miliarder Forbes 2025 menyoroti semakin besarnya pengaruh pemimpin kripto dalam dunia keuangan global. Masuknya tokoh-tokoh industri kripto ke dalam daftar ini mencerminkan pertumbuhan pesat sektor aset digital dan dampaknya terhadap akumulasi kekayaan.
Dilansir dari Coinmarketcap, Jumat (4/4/2025), sektor kripto mencatat peningkatan yang signifikan dalam daftar miliarder tahun ini, menunjukkan aset digital semakin menjadi bagian utama dalam penciptaan kekayaan global.
Baca Juga
Beberapa nama baru yang masuk berasal dari perusahaan kripto terkemuka serta para inovator di bidang blockchain. Fenomena ini menunjukkan pergeseran dalam tatanan keuangan dunia, di mana aset digital mulai menggantikan dominasi tradisional.
Advertisement
Kripto Semakin Diterima di Kalangan Elit Keuangan
Kehadiran para miliarder kripto dalam daftar ini menjadi bukti penerimaan yang lebih luas terhadap aset digital oleh komunitas finansial.
Minat investor terhadap sektor ini terus meningkat, yang berpotensi mengubah strategi pasar dan menarik lebih banyak modal institusional. Para analis menilai kripto kini semakin mendapat legitimasi, yang bisa memicu perubahan kebijakan dan regulasi pemerintah.
“Di era di mana aset digital membentuk kembali lanskap ekonomi, keunggulan miliarder kripto merupakan bukti revolusi yang dipelopori oleh teknologi blockchain,” kata CEO Binance, Changpeng Zhao.
Dampak Kekayaan Kripto: Mengulang Sejarah Revolusi Teknologi
Kemunculan pemimpin kripto dalam daftar miliarder Forbes 2025 mengingatkan pada pergeseran ekonomi besar yang terjadi di era ledakan dot-com. Kala itu, para inovator teknologi mendominasi daftar kekayaan dunia, dan tren yang sama kini terlihat dalam sektor aset digital.
Tren Ini Masih Akan Berlanjut
Para ahli prediksi tren ini masih akan berlanjut, seiring dengan semakin luasnya adopsi aset digital dalam investasi arus utama. Dengan semakin kuatnya posisi pemimpin kripto dalam hierarki keuangan, dunia kini menyaksikan revolusi baru dalam penciptaan kekayaan berbasis teknologi blockchain.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Advertisement
Pasar Kripto Bergejolak, Bitcoin Terkoreksi Imbas Kebijakan Tarif Donald Trump
Sebelumnya, pasar kripto mengalami tekanan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang signifikan. Bitcoin, sebagai aset utama dalam dunia kripto, mengalami fluktuasi tajam akibat ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh kebijakan ini.
Setelah rincian tarif diumumkan pada 3 April 2025, harga Bitcoin sempat mencapai USD 87.000 atau setara Rp 1,44 miliar (asumsi kurs Rp 16.560 per dolar AS) sebelum akhirnya turun ke level USD 82.000 atau setara Rp 1,35 miliar. Penurunan ini sejalan dengan tekanan yang juga dialami pasar saham AS, di mana Nasdaq 100 anjlok 2,3% dan S&P 500 turun 1,7%.
Investor Kripto Makin Hati-Hati
Kebijakan tarif baru ini mencakup bea masuk sebesar 25% untuk semua mobil impor, serta tarif umum 10% bagi berbagai barang impor yang mulai berlaku dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, beberapa negara seperti China, Vietnam, Taiwan, dan Uni Eropa dikenakan tarif lebih tinggi.
Analis crypto exchange Reku, Fahmi Almuttaqin, ketidakpastian ini mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka ke aset berisiko tinggi seperti saham dan kripto.
"Kebijakan ini bisa memicu inflasi lebih tinggi, yang pada akhirnya menunda penurunan suku bunga dan berdampak pada pasar investasi," jelas Fahmi dalam keterangannya, Kamis (3/4/2025)
Namun, di sisi lain, koreksi harga ini juga bisa menjadi peluang bagi investor yang ingin melakukan strategi "buy on weakness". Beberapa perusahaan besar masih menunjukkan minat untuk berinvestasi dalam Bitcoin, seperti GameStop yang dikabarkan memiliki dana segar senilai hampir USD 1,5 miliar yang sebagian bisa digunakan untuk mengakuisisi Bitcoin.
Strategi Investasi yang Bisa Diterapkan
Bagi investor yang ingin tetap masuk ke pasar kripto di tengah volatilitas ini, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) bisa menjadi opsi yang menarik. Dengan strategi ini, investor mengakumulasi aset secara bertahap dalam jangka waktu tertentu untuk mendapatkan harga rata-rata yang lebih baik.
"Dengan tekanan pasar saat ini, investor yang melakukan DCA akan mendapat keuntungan jika kondisi membaik. Namun, pemilihan aset tetap harus dilakukan dengan cermat, terutama pada aset berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas tinggi," tambah Fahmi.
Selain itu, fitur investasi seperti Packs di Reku dapat membantu investor dalam mendiversifikasi portofolio mereka secara otomatis. Dengan sistem rebalancing, investor bisa menyesuaikan alokasi aset mereka sesuai dengan kondisi pasar.
Meskipun kebijakan tarif Trump menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global, tekanan ini juga bisa menjadi peluang bagi investor yang siap menghadapi risiko. Dengan strategi investasi yang tepat dan pemilihan aset yang cermat, investor dapat memanfaatkan momen ini untuk memperkuat portofolio mereka di masa depan.
Advertisement
