Liputan6.com, Jakarta - Tujuan penggunaan internet di Indonesia kini makin beragam. Dulu, internet mungkin hanya digunakan oleh kalangan terbatas, misalnya kalangan pebisnis, kaum intelektual, dan aparatur pemerintahan. Tapi sekarang, cakupan penggunaan internet bertambah luas, baik dari segi penggunanya, maupun dari segi tujuan pengunaannya.
Salah satu produk internet terpopuler di Indonesia adalah jejaring sosial. Situs jejaring sosial pada awalnya muncul agar siapa saja bisa berkenalan dan berbagi dengan orang-orang di belahan dunia manapun.
Sayangnya, jejaring sosial juga kerap dimafaatkan untuk tujuan negatif, seperti penyebaran kebencian rasial, diskriminasi dan radikalisasi.
Berkaitan dengan hal itu, status Facebook dari akun berinisial AM akhir-akhir ini menjadi buah bibir di antara para netizen. Status Facebook milik AM ini jelas sarat akan kebencian terhadap ras tertentu. Dengan entengnya, si pemilik akun mengajak orang-orang untuk melakukan aksi kekerasan berdasarkan kebencian rasial.
Sehubungan dengan hal tersebut, Forum Demokrasi Digital menggelar sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta pada hari Rabu (26/08/2015).
Diskusi ini, selain dihadiri awak media, juga dihadiri oleh Ibu Ruyati Darwin (ibu salah satu korban tragedi Mei ’98), perwakilan Komisi Nasional untuk Perempuan, Perwakilan Kementerian Kominfo, dan pihak-pihak lainnya.
Di dalam diskusi ini, dikatakan bahwa akun-akun penyebar kebencian dan provokatif di situs jejaring sosial tidak hanya satu, melainkan masih banyak. Bahkan, di antara akun-akun tersebut, ada yang hanya sekadar akun "anonim", namun mempunyai jumlah pengikut yang banyak, bisa ribuan bahkan puluhan ribu. Akun-akun tersebut gencar menggelindingkan isu dan mencoba untuk menggiring opini netizen ke arah yang sesuai dengan keinginan mereka.
Di satu sisi, teknologi informasi yang cepat sudah membantu membentuk wajah baru demokrasi Indonesia yang lebih partisipatif dengan melibatkan netizen dalam kanal-kanal demokrasi baru, tapi di sisi lain dihancurkan oleh kepentingan sepihak kelompok yang ingin melanggengkan kebencian rasial, diskriminasi, dan radikalisasi,” kata Damar Juniarto dari Forum Demokrasi Digital.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Amang ini menambahkan, "Netizen sering mencampuradukkan antara kebebasan berekspresi dengan hasutan kebencian rasial. Padahal, hasutan kebencian rasial bukanlah bentuk kebebasan berekspresi, melainkan musuh besar kebebasan itu sendiri. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan."
Sementara itu, Ibu Ruyati Darwin juga mengungkapkan kegeraman yang ia rasakan, "Seharusnya pemerintah bisa bertindak tegas. Kan sudah ada aturan hukum yang melindungi negara ini dari diskriminasi rasial. Juga ada tanggung jawab pemerintah untuk menjamin kejadian seperti Mei 1998 tidak akan terulang lagi di masa depan."
(why/dhi)
Forum Demokrasi Digital: Stop Sebarkan Kebencian di Internet
Status Facebook dari akun berinisial AM akhir-akhir ini menjadi buah bibir di antara para netizen.
diperbarui 26 Agu 2015, 20:14 WIBDiterbitkan 26 Agu 2015, 20:14 WIB
Status Facebook dari akun berinisial AM akhir-akhir ini menjadi buah bibir di antara para netizen. ... Selengkapnya
Advertisement
Video Pilihan Hari Ini
EnamPlus
powered by
POPULER
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Berita Terbaru
Arti ASMR: Fenomena Sensasi Menenangkan yang Mendunia
PDIP: 100 Hari Pemerintahan Sudah Cukup Untuk Prabowo Evaluasi Para Menteri
25 Oktober Zodiak Apa? Mengenal Karakteristik dan Ramalan Scorpio
FGD Adalah: Pengertian, Tujuan, dan Cara Melaksanakannya
Temui PT LIB, Patrick Kluivert, Alex Pastoor, Denny Landzaat, dan Gerald Vanenburg Bahas Ini
Memahami Apa Arti Prioritas dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Hasil Sidang Etik Pemerasan Anak Bos Prodia: AKP Zakaria Dipecat, AKBP Gogo dan Ipda ND Demosi 8 Tahun
Caption untuk Langit: 350 Frasa Inspiratif dan Penuh Makna
Viral Pendaftaran Saldo E-Toll Gratis, Simak Tanggapan Jasa Marga
Cara Menurunkan Bengkak pada Kaki Akibat Asam Urat, Mudah dan Efektif
Indonesia Swasembada Pangan 2027, Yakin Bisa?
Link Live Streaming Piala FA Manchester United vs Leicester City, Sabtu 8 Februari 2025 Pukul 03.00 WIB