Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dilaporkan memindahkan sejumlah Bitcoin (BTC) sitaan ke sebuah dompet kripto.
Mengutip News.bitcoin.com, Jumat (28/3/2025) laporan firma analisis blockchain Arkham Intelligence mengungkapkan Pemerintah AS telah memindahkan sebanyak 97,34 BTC pada Kamis (27/3), yang sesuai dengan tinggi blok 889.703.
Advertisement
Baca Juga
"Pemerintah AS baru saja memindahkan USD 8,46 juta BTC dari Dana Sitaan Sae-Heng," tulis Arkham dalam postingannya di platform media sosial X.
Advertisement
Sebelum aktivitas ini, pemerintah AS menyimpan total 198.109 BTC. Dengan memperhitungkan transfer terbaru dan dengan asumsi alamat terkait tetap berada di bawah kendali federal, kepemilikan Bitcoin pemerintah AS saat ini (tanpa dompet tersebut) mencapai 198.012 BTC.
Transfer sebesar 97,34 BTC berasal dari dompet Segwit asli berkode Bech32, yang mengirimkan 0,00011516 BTC senilai USD 10 ke bc1qs0q, bersama dengan jumlah yang lebih besar yaitu 97,3358 BTC yang bernilai USD 8,46 juta ke dompet pertukaran bc1q7qf.
Sebelumnya, pada 12 Maret 2025 Forbes melaporkan otoritas Amerika Serikat telah menyita sekitar 749 Bitcoin dengan nilai sekitar USD 62,5 juta atau sekitar Rp 1 triliun (asumsi kurs Rp 16.430 per dola AS).
Aset digital ini dikaitkan dengan aktivitas ilegal di Silk Road, sebuah pasar gelap online yang beroperasi hingga 2013 dan dikenal sebagai pusat perdagangan narkoba serta pencucian uang.
Penyitaan ini dilakukan atas perintah Jaksa AS untuk Distrik Barat Texas. Aset tersebut diduga berasal dari dua individu yang tidak disebutkan namanya, seorang mantan penjual narkoba di Silk Road dan seorang kaki tangan yang bertanggung jawab mencuci hasil kejahatan melalui bursa kripto.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Michael Saylor Borong Bitcoin, Rogoh Kocek Rp 9,6 Triliun
Perusahaan publik analisis bisnis, Strategy (sebelumnya dikenal MicroStrategy) kembali menambah kepemilikan Bitcoin dengan mengakuisisi 6.911 BTC.
Melansir Cryptonews, Selasa (25/3/2025) akusisi terbaru menaikkan total kepemilikan BTC Strategy menjadi lebih dari 500.000 BTC.
Dalam sebuah postingan di platform media sosial X pada Senin (24/3), pendiri Strategy Michael Saylor mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut membeli 6.911 BTC seharga USD 584,1 juta atau Rp 9,6 triliun pekan lalu lalu.
Pengajuan pengungkapan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS juga menunjukkan, Strategy membeli tranche tersebut dengan harga rata-rata sekitar USD 84.529 per BTC.
Dengan pembelian terakhir, Strategy kini megantongi BTC Yield sebesar 7,7% YTD dan hingga tanggal 23 Maret telah memegang 506.137 BTC yang diperoleh dengan harga lebih dari USD 33,7 miliar atau Rp 547,7 triliun.
Adapun data dari Bitcoin Treasuries menunjukkan, Strategy sekarang memegang lebih dari 2,3% pasokan BTC yang beredar.
Pembelian tersebut dilakukan tak lama setelah Strategy mengumumkan rencana untuk meningkatkan modal tambahan guna mendanai pembelian Bitcoin, meskipun pasar sedang merosot dan dibayangi ketidakpastian makro.
Crypto.news sebelumnya melaporkan, perusahaan berencana untuk mengumpulkan modal sebesar USD 21 miliar melalui saham preferen kelas A, untuk memperkuat portofolio investasinya.
Advertisement
Analis: Harga Bitcoin Menguat Bukan Cuma Dampak Suku Bunga AS
Nilai Bitcoin meningkat positif seiring dengan penetapan suku bunga Amerika Serikat (AS) oleh Federal Reserve (The Fed). Namun, menguatnya nilai Bitcoin digadang bukan sebatas karena tak naiknya suku bunga tersebut.
Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan, lonjakan harga Bitcoin tidak hanya dipicu oleh keputusan hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Tapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti meningkatnya minat institusional dan perkembangan politik.
“Rencana Donald Trump untuk berbicara di Digital Asset Summit (DAS) yang diselenggarakan di New York pada 20 Maret 2025, turut mendongkrak pasar kripto," kata Fyqieh dalam keterangannya, Jumat (21/3/2025).
Di samping itu, investor kakap yang kembali aktif di pasar kripto turut memberikan pengaruh. Ini terluhat dari arus masuk dana yang diinvestasikan.
"Selain itu, data menunjukkan bahwa ETF Bitcoin spot AS mencatat arus masuk bersih sebesar USD 209 juta pada 19 Maret, menegaskan bahwa investor besar kembali aktif di pasar,” tegas Fyqieh.
Asal tahu saja, harga Bitcoin mengalami lonjakan signifikan hingga USD 87.453 atau sekitar Rp 1,44 miliar pada 20 Maret 2025.
Hal ini didorong oleh reaksi pasar terhadap keputusan hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dan pernyataan dari Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.
