Liputan6.com, Washington D.C - Seorang remaja berusia 19 tahun dari Connecticut, Amerika Serikat (AS), Aleysha Ortiz, mengajukan gugatan terhadap mantan sekolah menengahnya, Hartford Public High School, dengan tuduhan kelalaian dalam pendidikannya. Ortiz menuding sekolah tersebut telah membiarkannya lulus dengan predikat honors, padahal ia nyaris buta huruf.
Dikutip dari laman Oddity Central, Jumat (7/3/2025), Ortiz, yang lahir di Puerto Rico, telah mengalami kesulitan belajar sejak kecil. Setelah pindah ke AS pada usia lima tahun, ia merasa tidak mendapat dukungan yang cukup dari pihak sekolah.
Baca Juga
Baru sebulan sebelum kelulusan, sekolah akhirnya melakukan tes tambahan yang selama ini dimintanya. Hasilnya mengejutkan di mana kemampuannya membaca setara dengan anak kelas satu SD.
Advertisement
Alih-alih memberikan solusi yang lebih baik, pihak distrik sekolah hanya menawarkan opsi untuk menunda penerimaan ijazah agar bisa mendapatkan layanan pendidikan intensif. Namun, Ortiz menolak tawaran tersebut.
"Mereka sudah punya waktu 12 tahun. Sekarang ini giliran saya," ujar Ortiz kepada CNN.
Ortiz tidak hanya lulus dari Hartford Public High School, tetapi juga memperoleh beasiswa kuliah dan diterima di University of Connecticut. Namun, banyak yang mempertanyakan bagaimana ia bisa mencapai prestasi akademik seperti itu jika ia hampir tidak bisa membaca dan menulis.
Menuntut Pendidikan yang Lebih Baik
Ortiz mengungkapkan bahwa ia mengandalkan berbagai aplikasi smartphone untuk membantunya dalam belajar. Ia menggunakan aplikasi yang bisa menerjemahkan teks ke suara dan sebaliknya, bahkan saat mengisi formulir pendaftaran kuliah dan menulis esai masuk universitas.
Namun, perjuangan Ortiz semakin berat di dunia perkuliahan. Ia mengaku mengalami kesulitan besar dan akhirnya berhenti menghadiri kelas sejak awal Februari. Ia berencana mengambil cuti sementara untuk fokus pada kesehatan mentalnya, tetapi berharap bisa kembali ke kampus dalam waktu dekat.
Ortiz mengatakan bahwa ia mengajukan gugatan ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga agar sekolah bertanggung jawab dan tidak mengulang kesalahan yang sama terhadap siswa lain.
"Saya adalah orang yang sangat bersemangat dan suka belajar," kata Ortiz. "Tapi kesempatan saya untuk belajar telah dirampas. Sekarang saya ingin mengambil kendali atas pendidikan saya."
Advertisement
