Liputan6.com, Jakarta - Baju astronaut atau spacesuit adalah perlengkapan esensial yang memungkinkan para astronaut bertahan di luar angkasa. Tidak sekadar pakaian, spacesuit dirancang sebagai sistem pendukung kehidupan mini yang melindungi astronaut dari suhu ekstrem, radiasi matahari, serta kekurangan oksigen di ruang hampa.
Sejak era pertama penjelajahan luar angkasa, desain spacesuit terus berkembang, menggabungkan teknologi canggih untuk meningkatkan kenyamanan, fleksibilitas, dan keselamatan para astronaut. Lalu apa yang akan terjadi jika baju astronaut mengalami kerusakan di luar angkasa?
Advertisement
Melansir laman NASA pada Jumat (04/04/2025), baju astronaut dilengkapi dengan pengatur tekanan udara. Dengan mengenakan baju astronaut, memungkinkan seorang astronaut berada pada kondisi tekanan udara bumi meskipun mereka sedang berada di luar angkasa yang hampir tidak ada tekanan.
Advertisement
Baca Juga
Hal ini penting untuk menjaga kelangsungan hidup seorang astronaut ketika berada di luar angkasa. Kondisi mengerikan akan dialami seorang astronaut jika baju astronaut yang mereka pakai mengalami kerusakan, khususnya pada fitur pengatur tekanan.
Pada kondisi ini, tubuh seorang astronaut dapat mengalami pembengkakkan yang diakibatkan gas dalam tubuh mengembang, yang dalam waktu singkat mampu membahayakan nyawa. Tubuh manusia terdiri dari 60 persen cairan dari total berat badannya.
Hal ini sangat potensial menyebabkan tubuh manusia mengalami pembengkakkan ketika berada di luar angkasa tanpa perlindungan baju astronaut. Dengan demikian, ketika seorang astronaut berada di luar angkasa tanpa perlindungan baju astronaut, maka cairan dalam tubuh akan cepat mencapai titik didihnya dan menghasilkan gas serta uap air yang akan menumpuk dalam sel dan pembuluh darah.
Secara visual tubuh astronaut akan membengkak. Secara medis kondisi tersebut akan menyebabkan kerusakan pada fungsi tubuh yang berdampak pada kematian.
Baju astronaut juga dilengkapi dengan tabung oksigen. Tabung ini sangat penting untuk menyediakan oksigen bagi astronaut saat berada di luar angkasa, sehingga mereka dapat bernapas.
Ketika baju astronaut bermasalah, khususnya pada fungsi penyedia oksigen, maka seorang astronaut akan kekurangan oksigen yang bisa menyebabkan hipoksia. Seseorang yang mengalami hipoksia biasanya akan merasa pusing dan lemas.
Pada tahap berikutnya, orang tersebut akan mengalami kebingungan dan disorientasi. Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis pada tahap yang berbahaya, dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan kematian.
Material pembuat baju astronaut dibuat dengan menggunakan bahan anti radiasi. Hal ini untuk melindungi astronaut dari bahaya paparan sinar kosmik.
Ketika berada di luar angkasa, dampak dari terpapar radiasi sinar kosmik menjadi sangat besar. Selain tidak adanya lapisan atmosfer yang menyaring sinar kosmik seperti di Bumi, di luar angkasa juga memiliki lebih banyak sumber radiasi sinar kosmik, yaitu dari supernova dan black hole.
Jika astronaut sedang berada di luar angkasa dengan kondisi baju astronaut yang tidak berfungsi dengan baik atau rusak, maka potensi terpapar sinar kosmik akan menjadi lebih besar. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perlindungan dari baju astronaut dan juga tidak adanya lapisan atmosfer yang mampu menyaring radiasi sinar kosmik. Hal ini dapat berdampak kerusakan DNA atau kanker.
(Tifani)