Kementerian Kesehatan Singapura Larang Anak Usia di Bawah 18 Bulan Terpapar Layar Gadget

Kementerian Kesehatan Singapura menekankan bahwa paparan layar gawai dapat berdampak negatif terhadap perkembangan kognitif bayi, sehingga menyebabkan kemampuan bahasa yang lebih buruk dan rentang perhatian yang lebih pendek.

oleh Dyah Puspita Wisnuwardani Diperbarui 09 Feb 2025, 20:28 WIB
Diterbitkan 09 Feb 2025, 20:07 WIB
Gambar Ilustrasi Anak Bermain Gadget
Sumber: Freepik... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura memperkenalkan pedoman baru terkait paparan layar gadget pada anak-anak di bawah usia 18 bulan. Pedoman tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Singapura guna mempromosikan gaya hidup sehat. Aturan baru ini dirancang untuk mengatasi dampak buruk dari Waktu menonton (screen time) yang berlebihan terhadap perkembangan fisik, kognitif serta social anak-anak.

Mengutip laporan Straits Times, pedoman yang diperbarui tersebut melarang penggunaan layar latar belakang untuk bayi di bawah usia 18 bulan. Anak-anak di bawah usia itu tidak diperbolehkan terpapar layar, termasuk penggunaan layar di latar belakang seperti pada perangkat televisi atau ponsel pintar. Hal ini berlaku bahkan ketika anak tidak sedang menonton secara aktif.

Kementerian Kesehatan Singapura menekankan bahwa paparan layar gawai dapat berdampak negatif terhadap perkembangan kognitif bayi, sehingga menyebabkan kemampuan bahasa yang lebih buruk dan rentang perhatian yang lebih pendek.

Layar hanya boleh digunakan untuk tujuan pendidikan bagi anak berusia 18 bulan hingga enam tahun. Pergeseran kebijakan ini mencerminkan penelitian terbaru, yang menyoroti korelasi yang lebih kuat antara waktu menatap layar dan tantangan perkembangan pada anak kecil.

Perubahan-perubahan ini merupakan bagian dari inisiatif kesehatan nasional Singapura yang baru, “Grow Well SG,”. Kebijakan tersebut bertujuan untuk memerangi meningkatnya risiko gaya hidup tidak aktif di kalangan anak-anak. Selain membuat aturan waktu menatap layar gawai, inisiatif ini juga mengatasi permasalahan seperti gizi buruk, kurang tidur, dan kurangnya aktivitas fisik.

 

Promosi 1

Bentuk Kebiasaan Sehat untuk Anak

Menteri Kesehatan Ong Ye Kung menekankan perlunya langkah-langkah yang lebih kuat untuk membentuk kebiasaan anak-anak, dan mengakui bahwa penggunaan layar secara signifikan berdampak pada aktivitas fisik, interaksi sosial, dan kesejahteraan emosional.

“Kita memerlukan tindakan yang lebih tegas,” kata Ong.

“Pedoman baru ini lebih ketat dari sebelumnya, termasuk larangan penggunaan layar di latar belakang, yang merupakan praktik umum di banyak rumah tangga.”

 

Panduan Penggunaan Layar untuk Anak yang Lebih Besar

Pedoman tersebut merekomendasikan pembatasan penggunaan layar di luar sekolah hingga kurang dari satu jam setiap hari untuk anak-anak berusia 3 hingga 6 tahun. Bagi mereka yang berusia 7 hingga 12 tahun, batas ini diperpanjang menjadi dua jam per hari. Kementerian Kesehatan juga menyarankan agar tidak membatasi perangkat seluler dan akses media sosial bagi anak-anak.

Untuk mendukung langkah-langkah ini, taman kanak-kanak harus mematuhi Kode Praktik yang telah direvisi mulai Februari, dengan memastikan bahwa waktu menatap layar dibatasi dan memiliki tujuan.

Badan Pengembangan Anak Usia Dini (ECDA) akan mengawasi perubahan ini, memberikan konseling kepada anak-anak prasekolah tentang penggunaan layar yang tepat dan memastikan bahwa teknologi meningkatkan dan bukan menggantikan kegiatan pendidikan.

 

Sesuai Temuan Internasional

Inisiatif ini sejalan dengan tren global dalam mengatasi dampak penggunaan layar pada anak-anak. Negara-negara seperti Brasil dan Australia telah mengeluarkan undang-undang yang membatasi waktu menatap layar bagi kaum muda.

Di tingkat lokal Singapura, penelitian seperti “Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes” dan “Singapore Longitudinal Early Development Study” menunjukkan bahwa waktu menatap layar yang berlebihan pada anak-anak berkaitan dengan keterlambatan kognitif dan masalah perilaku.

Sebuah studi baru-baru ini dari Institute of Mental Health (IMH) mengungkapkan bahwa 46,4% warga Singapura berusia 15 hingga 21 tahun menunjukkan masalah penggunaan ponsel cerdas, dan kecanduan layar berkontribusi terhadap masalah-masalah seperti kesehatan mental yang buruk.

Terkait temuan itu, para ahli berpendapat bahwa orang tua harus mencontohkan kebiasaan layar yang sehat, memastikan anak-anak tumbuh dengan pengalaman digital dan offline yang seimbang.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya