Update Rabu 24 Agustus 2022: 6.329.143 Positif Covid-19, Sembuh 6.123.342, Meninggal 157.438

Data update pasien Covid-19 tersebut tercatat sejak Selasa 23 Agustus 2022 pukul 12.00 WIB, hingga hari ini, Rabu (24/8/2022) pada jam yang sama.

oleh Devira Prastiwi diperbarui 24 Agu 2022, 17:03 WIB
Diterbitkan 24 Agu 2022, 16:32 WIB
FOTO: Waspada Ancaman Omicron hingga Februari Mendatang
Kepadatan calon penumpang kereta Commuter Line (KRL) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Rabu (12/1/2022). Data sementara Kementerian Kesehatan hingga 10 Januari 2022, total ada 506 kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Masih terus dilaporkan di Indonesia bertambahnya kasus positif, sembuh, dan meninggal dunia akibat virus Corona yang menyebabkan Covid-19.

Ada penambahan 5.428 orang pada hari ini, Rabu (24/8/2022) positif Corona dilaporkan Tim Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19.

Sehingga total akumulatif ada 6.329.143 orang terkonfirmasi positif terinfeksi virus Corona yang menyebabkan Covid-19 di Indonesia sampai saat ini.

Kasus sembuh bertambah 5.550 orang pada hari ini. Hingga kini total akumulatif terdapat 6.123.342 pasien berhasil sembuh dan dinyatakan negatif Covid-19 di Indonesia.

Sementara itu, penambahan kasus meninggal dunia pada hari ini ada 18 orang. Total akumulatifnya hingga saat ini sebanyak 157.438 orang meninggal dunia akibat virus Corona yang menyebabkan Covid-19.

Data update pasien Covid-19 tersebut tercatat sejak Selasa 23 Agustus 2022 pukul 12.00 WIB, hingga hari ini, Rabu (24/8/2022) pada jam yang sama.

Sebelumnya, berdasarkan hasil studi, imunitas atau antibodi seseorang dapat menurun setelah 6 bulan pemberian vaksin Covid-19. Lantas, perlukah masyarakat untuk disuntik vaksin Covid-19 setiap 6 bulan sekali?

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengakui adanya antibodi yang turun selang 6 bulan vaksinasi Covid-19 menimbulkan kekhawatiran. Sebab, kata dia, masyarakat dapat kembali rentan terpapar dan antibodi terhadap virus Corona tidak efektif.

"Walau kekebalan turun, sistem imun tetap akan merespons apabila virus Corona sewaktu-waktu masuk ke dalam tubuh," ujar Menkes Budi saat Press Conference The 3rd G20 Health Working Group di Hilton Resort, Nusa Dua Bali, Senin 22 Agustus 2022.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Pentingnya Jaga Kekebalan Tubuh

Menkes Budi Gunadi Sadikin update Omicron dari Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 3 Januari 2022. (Tangkapan Layar YouTube Perekonomian RI)
Menkes Budi Gunadi Sadikin update Omicron dari Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 3 Januari 2022. (Tangkapan Layar YouTube Perekonomian RI)

Menurut Budi, kunci yang terpenting adalah menjaga daya tahan tubuh tetap fit dan sehat, sehingga respons tubuh untuk kekebalan terhadap virus dapat terus aktif.

"Ya memang benar, tingkat kekebalan Anda akan turun, tetapi Anda masih memilikinya. Ingat, jika virus ini masuk ke dalam tubuh Anda, mereka akan membuat respons dan sistem kekebalan manusia sangat, sangat unik," kata dia.

"Tetapi itu sangat tergantung pada seberapa baik sistem kekebalan Anda," sambung Menkes Budi.

Demi menjaga kekebalan tubuh tetap baik, Menkes Budi Gunadi mengingatkan agar tetap rutin menjaga kesehatan, istirahat yang cukup agar tidak lelah, dan mengonsumsi asupan vitamin D.

"Jika Anda sehat, tidak lelah, seperti terus mengonsumsi vitamin D, kadarnya tinggi. Biasanya Anda memiliki sistem kekebalan yang jauh lebih baik daripada jika Anda lelah, tidak sehat, dan tidak mengonsumsi vitamin D," ucapnya.


Tergantung Respons Tubuh Masing-Masing

Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin pada Kamis, 22 Juli 2022 mengunjungi sejumlah sekolah yang berada di kawasan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin pada Kamis, 22 Juli 2022 mengunjungi sejumlah sekolah yang berada di kawasan Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Terkait kekebalan, menurut Budi Gunadi Sadikin, setiap individu mempunyai respons berbeda-beda. Persoalan, apakah vaksin Covid-19 perlu disuntikan tiap 6 bulan atau tidak, tergantung pada sistem respons tubuh masing-masing.

"Beberapa orang memiliki respons kekebalan yang lebih baik terhadap orang lain. Jadi, apakah Anda harus melakukan suntikan lagi? Sebenarnya, tergantung pada kondisi Anda," ujarnya.

"Memang benar bahwa tingkat antibodi akan turun setelah enam bulan (suntik vaksin Covid-19), tetapi ketika virus masuk ke tubuh Anda, respons yang Anda harapkan bahkan sistem kekebalan antara orang-orang ya berbeda-beda," sambung Menkes Budi.

Pada sejumlah orang dengan tingkat kekebalan sangat rendah, respons imun bisa menjadi tinggi saat virus Corona masuk. Sementara itu, ketika virus masuk beberapa orang yang lain bisa saja hanya memiliki respons yang sangat lambat.

"Itu sangat tergantung pada kondisi dasar Anda. Saran saya, jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah, terutama jika Anda seorang jurnalis," pesan Menkes Budi Gunadi.


Perjalanan Kasus Corona di Indonesia

Jakarta Menuju Kenormalan Baru
Pejalan kaki menggunakan masker di trotoar Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (27/5/2020). Empat provinsi di Indonesia termasuk DKI Jakarta akan mulai melakukan persiapan menuju new normal atau tatanan kehidupan baru menghadapi COVID-19. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Kasus infeksi virus Corona pertama kali muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China Desember 2009. Dari kasus tersebut, virus bergerak cepat dan menjangkiti ribuan orang, tidak hanya di China tapi juga di luar negara tirai bambu tersebut.

2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Pengumuman dilakukan di Veranda Istana Merdeka.

Ada dua suspect yang terinfeksi Corona, keduanya adalah seorang ibu dan anak perempuannya. Mereka dirawat intensif di Rumah Sakit Penyakit Infeksi atau RSPI Prof Dr Sulianti Saroso, Jakarta Utara.

Kontak tracing dengan pasien Corona pun dilakukan pemerintah untuk mencegah penularan lebih luas. Dari hasil penelurusan, pasien positif Covid-19 terus meningkat.

Sepekan kemudian, kasus kematian akibat Covid-19 pertama kali dilaporkan pada 11 Maret 2020. Pasien merupakan seorang warga negara asing (WNA) yang termasuk pada kategori imported case virus Corona. Pengumuman disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Urusan Virus Corona, Achmad Yurianto, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat

Yurianto mengatakan, pasien positif Covid-19 tersebut adalah perempuan berusia 53 tahun. Pasien tersebut masuk rumah sakit dalam keadaan sakit berat dan ada faktor penyakit mendahului di antaranya diabetes, hipertensi, hipertiroid, dan penyakit paru obstruksi menahun yang sudah cukup lama diderita.

Jumat 13 Maret 2020, Yurianto menyatakan pasien nomor 01 dan 03 sembuh dari Covid-19. Mereka sudah dibolehkan pulang dan meninggalkan ruang isolasi.

Pemerintah kemudian melakukan upaya-upaya penanganan Covid-19 yang penyebarannya kian meluas. Di antaranya dengan mengeluarkan sejumlah aturan guna menekan angka penyebaran virus Corona atau Covid-19. Aturan-aturan itu dikeluarkan baik dalam bentuk peraturan presiden (perpres), peraturan pemerintah (PP) hingga keputusan presiden (keppres)

Salah satunya Keppres Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Keppres ini diteken Jokowi pada Jumat, 13 Maret 2020. Gugus Tugas yang saat ini diketuai oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo ini dibentuk dalam rangka menangani penyebaran virus Corona.

Gugus Tugas memiliki sejumlah tugas antara lain, melaksanakan rencana operasional percepatan penanangan virus Corona, mengkoordinasikan serta mengendalikan pelaksanaan kegiatan percepatan penanganan virus Corona.

Sementara itu, status keadaan tertentu darurat penanganan virus Corona di Tanah Air ternyata telah diberlakukan sejak 28 Januari sampai 28 Februari 2020. Status ditetapkan pada saat rapat koordinasi di Kementerian Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) saat membahas kepulangan WNI di Wuhan, China.

Kapusdatinkom BNPB Agus Wibowo menjelaskan, karena skala makin besar dan Presiden memerintahkan percepatan, maka diperpanjang dari 29 Februari sampai 29 Mei 2020. Sebab, daerah-daerah di tanah air belum ada yang menetapkan status darurat Covid-9 di wilayah masing-masing.

Agus Wibowo menjelaskan jika daerah sudah menetapkan status keadaan darurat, maka status keadaan tertentu darurat yang dikeluarkan BNPB tidak berlaku lagi.

Penanganan kasus virus corona (Covid 19) pun semakin intens dilakukan. Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mereduksi sekaligus memberikan pengobatan terhadap mereka yang terpapar Covid-19.

Berdasarkan situs covid19.go.id, sebanyak 140 rumah sakit di Tanah Air dijadikan rujukan untuk penanganan pasien Covid-19. Ada pula sejumlah tempat yang dijadikan rumah sakit darurat.

Salah satunya, pemerintah resmi menjadikan Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, sebagai rumah sakit darurat untuk pasien Covid 19. Peresmian dilakukan langsung oleh Presiden Jokowi, Senin 23 Maret 2020. Begitu dibuka, Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran langsung menerima pasien.

Ada pula Rumah Sakit Darurat di Pulau Galang, Kepulauan Riau. Pulau tersebut dulunya merupakan tempat penampungan warga Vietnam. Tempat tersebut telah dirapikan dan bisa menampung 460 pasien. Sejumlah tempat milik pemerintah lainnya juga dijadikan tempat isolasi pasien yang terpapar Covid-19.

Infografis Melihat Cakupan Vaksin Covid-19 Dosis 3 di Indonesia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Melihat Cakupan Vaksin Covid-19 Dosis 3 di Indonesia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya