28 Februari 1991: Mengenang Si 'Buaya Keroncong' Kusbini

Lagu Bagimu Negeri merupakan lagu wajib perjuangan. Menariknya lagi, lagu ini terdiri dari delapan kata yang diulang sebagian. Secara keseluruhan, sebanyak 17 kata diulang dalam lagu ini.

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 28 Feb 2025, 19:00 WIB
Diterbitkan 28 Feb 2025, 19:00 WIB
Penerbit Karya Musik Pertiwi
Pihak publishing dari Penerbit Karya Musik Pertiwi, mendampingi beberapa penyanyi anak asuh dari Presidenmusikindo, untuk mengunjungi ahli waris Kusbini serta Sri Widodo, pecipta lagu "Terima Kasihku (Guruku)". (Dok. Penerbit Karya Musik Pertiwi - PMP)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Kusbini merupakan tokoh keroncong yang cukup populer era 1930-1955. Sosok yang dijuluki Buaya Keroncong ini merupakan maestro keroncong legendaris sekaligus pencipta lagu perjuangan Bagimu Negeri.

Mengutip dari Pusaka Jawatimuran Disperpusip Jatim, Kusbini lahir di Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur, pada 1 Januari 1910. Kusbini menjadi salah satu tokoh keroncong era dahulu bersama Annie Landouw, Gesang, S. Abdoellah, Miss Roekiah, dan lainnya.

Karier keroncongnya dimulai bersama Jong Indisce Stryken Tokkel Orkest (Jitso), sebuah kumpulan musik keroncong di Surabaya. Kusbini mengikuti pendidikan musik Apollo di Malang. Sambil belajar, ia juga kerap tampil sebagai penyanyi keroncong dan pemain biola dalam siaran Nirom dan Cirvo di Surabaya.

Ia menjadi tokoh penyanyi dan komponis Indonesia di era Keroncong Abadi 1920-1960. Pada 1935-1939, Kusbini menjadi pemain musik dan penyanyi untuk perusahaan rekaman piringan hitam Hoo Soen Hoo.

Bersamaan dengan itu, ia juga aktif bernyanyi dan bermain musik keroncong bersama Annie Landouw, S. Abdoellah, dan Gesang sekitar era 1937-1942. Pada masa Hindia Belanda, Kusbini menuliskan kembali (transkrip) lagu Keroncong Telomoyo dan menciptakan puluhan lagu keroncong, seperti Keroncong Purbakala, Pamulatsih, Bintang Senja Kala, Keroncong Sarinande, Keroncong Moresko, Dwi Tunggal, Nina Bobo, Ngumandang Kenang, dan Keroncong Purbakala.

Pada 1941, nama Kusbini semakin dikenal saat dirinya mulai mendalami musik keroncong dan stambul. Saat itu, ia mendapat kesempatan bermain film. Sejumlah lagunya juga digunakan untuk mengisi musik yang khusus diciptakan untuk film Jantung Hati dan film Air Mata Ibu.

Pada masa pendudukan Jepang 1942, Kusbini sempat bekerja di Radio Militer Hooso Kanri Kyoku dan Pusat Kebudayaan Jepang di bidang musik. Pada masa itu, Kusbini banyak bekerja sama dengan komponis Ismail Marzuki dan Cornel Simanjuntak, sastrawan dan Redaktur Balai Pustaka Sanusi Pane, serta seniman lainnya

Pada tahun tersebut Kusbini juga menciptakan lagu Bagimu Negeri. Pada 1945-1952, Kusbini banyak menciptakan lagu-lagu perjuangan bersama Cornel Simanjuntak, Ismail Marzuki, L. Manik, dan lainnya.

Lagu Bagimu Negeri merupakan lagu wajib perjuangan. Menariknya lagi, lagu ini terdiri dari delapan kata yang diulang sebagian. Secara keseluruhan, sebanyak 17 kata diulang dalam lagu ini.

Beberapa orang mengaitkan kebetulan tersebut dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Padahal, lagu ini diciptakan sebelum masa proklamasi.

Pada 1950, Kusbini bekerja di P&K Yogyakarta untuk urusan musik. Hingga pada 1954, ia mendirikan SMINDO (Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta) milik Pemerintah yang kemudian menjadi AMI dan ISI Yogyakarta. Kusbini juga mendirikan SOSI (Sekolah Olah Seni Indonesia) yang sekarang diteruskan oleh anak-anaknya.

Pada 1952-1956, Kusbini memenangkan Pemilihan Bintang Radio dan Lagu Keroncong yang dilenggarakan RRI. Saat itu, ia menang dengan lagu Kr. Pastoral.

Pada 1971, anak-anak Kusbini memberikan pengajaran keterampilan bermusik di SOSI, termasuk piano dan biola. Pada 1972, Kusbini mendapat anugerah Piagam Seni dari Pemerintah Republik Indonesia.

Pada 1976, Kusbini mendapat penghargaan lain dari Departemen Keamanan Komando Wilayah Pertahanan II. Penghormatan lain ia dapatkan dari Pemerintah Daerah Yogyakarta yang mengganti nama jalan di depan rumahnya yang semula bernama Jalan Jetishardjo menjadi Jalan Kusbini. Adapun rumahnya yang berada di Jalan Kusbini 25, Klitren, Gondokusuman, saat ini digunakan sebagai sekolah musik Sanggar Olah Seni Indonesia (SOSI).

Selain Bagimu Negeri, Kusbini juga mengarang lagu-lagu bertema semangat kemerdekaan lainnya, seperti Cinta Tanah Air, Merdeka, Pembangunan, dan Salam Merdeka. Adapun lagu Kewajiban Manusia merupakan satu-satunya lagu bertema semangat merdeka yang berirama keroncong.

 

Promosi 1

Wafat

Pada 28 Februari 1991, Kusbini wafat di usia 81 tahun. Ia dimakamkan dengan iringan musik lagu Perdamaian ciptaannya sendiri.

Sepeninggalannya, Penerbit Musik Pertiwi (PMP) memberikan royalti atas lagu-lagu karangannya pada 1996. Royalti tersebut berasal dari hasil penjualan kepingan compact disk atau kaset yang terjual di dalam maupun luar negeri.

Pemberian royalti tersebut diberikan melalui mekanisme Undang-Undang No.19 tahun 2002 tentang Hak Cipta dan memenuhi peraturan perpajakan yang berlaku. Pada 2011, Kusbini mendapat penganugerahan gelar maestro di bidang seni musik yang dipilih Taman Budaya Yogyakarta.

Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memberikan penghargaan terhadap tokoh seniman di Yogyakarta yang telah berjasa dalam menjaga dan melestarikan seni budaya. Semasa hidupnya, Kusbini telah meninggalkan berbagai warisan kekayaan intelektual yang masih terus bermanfaat untuk banyak orang.

Penulis: Resla

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya