Kapitalisasi Pasar S&P 500 Terpangkas USD 5 Triliun Usai Pengumuman Tarif Dagang Donald Trump

Wall street yang melemah terjadi seiring investor khawatir perang dagang Presiden AS Donald Trump akan mendorong dunia ke dalam resesi. Koreksi indeks acuan di wall street memangkas kapitalisasi pasar.

oleh Agustina Melani Diperbarui 05 Apr 2025, 19:39 WIB
Diterbitkan 05 Apr 2025, 19:39 WIB
Kapitalisasi Pasar S&P 500 Terpangkas USD 5 Triliun Usai Pengumuman Tarif Dagang Donald Trump
Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memutuskan menerapkan tarif timbal balik atau tarif resiprokal berdampak ke bursa saham AS atau wall street.(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memutuskan menerapkan tarif timbal balik atau tarif resiprokal berdampak ke bursa saham AS atau wall street. Kapitalisasi pasar indeks S&P 500 turun USD 5 triliun atau sekitar Rp 33.352 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.676) hanya dalam dua hari.

Mengutip CNBC, Sabtu (5/4/2025), pada penutupan perdagangan Jumat, 4 April 2025, indeks Dow Jones merosot 2.231,07 poin atau 5,5 persen ke posisi 38.314,86. Indeks S&P 500 terpangkas 5,97 persen menjadi 5.074,08. Indeks Nasdaq susut 5,82 persen ke posisi 15.587,79.

Koreksi wall street terjadi seiring investor khawatir perang dagang Presiden AS Donald Trump akan mendorong dunia ke dalam resesi. Kurang dari 48 jam setelah Donald Trump menaikkan hambatan tarif ke level tertinggi dalam lebih dari satu abad, China menyatakan pada Jumat, 4 April 2025, akan mengenakan bea tambahan sebesar 34 persen pada semua impor AS. Hal itu meningkatkan perang dagang global ke level baru, demikian mengutip Yahoo Finance.

Harapan investor terhadap ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell yang akan menyelamatkan dengan isyaratkan kesiapan untuk memangkas suku bunga pupus. Hal ini lantaran Powell menekankan risiko yang meningkat terhadap pertumbuhan dan inflasi.

"Pendekatan tunggu dan lihat ini semakin mengguncang wall street. Penurunan 6 persen di indeks S&P 500 berarti kapitalisasi pasar indeks anjlok USD 5 triliun hanya dalam dua hari,” demikian seperti dikuti.

The Fed benar-benar dalam kesulitan, menghadapi risiko resesi yang meningkat pesat dan tekanan harga yang melonjak. Obligasi pemerintah AS mungkin terjebak di antara kedua posisi ini pada Jumat, tetapi sangat jelas di mana para pelaku pasar akan menaruh uangnya, dengan empat pemotongan suku bunga sudah diperhitungkan sepenuhnya untuk tahun ini, dimulai pada Juni.

Aksi Jual di Pasar Saham

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)... Selengkapnya

Namun, mengingat aksi jual yang masif di pasar saham, jatuhnya kepercayaan, dan prospek yang sangat tidak pasti, tidak akan menjadi kejutan penuh jika The Fed memangkas suku bunga pada pertemuan 6-7 Mei. Bahkan, dapatkah langkah antar-pertemuan dikesampingkan jika kemerosotan pasar berlanjut minggu depan?

Ini adalah penurunan terberat di seluruh saham global sejak pandemi pada 2020. Namun, tidak seperti kejatuhan itu dan krisis keuangan global pada 2008, kekacauan saat ini di Wall Street adalah hasil dari pilihan kebijakan yang jelas yang dibuat oleh pemerintah yang akan tahu hasil seperti ini sangat mungkin terjadi, jika tidak sangat mungkin terjadi.

Banyak analis memperkirakan hal ini belum pernah terlihat sebelumnya. Beberapa angka ekonomi dan pasar yang telah tertanam dalam kesadaran investor minggu ini juga belum terlihat dalam waktu yang lama:

-Tarif tertinggi AS dalam lebih dari 100 tahun

-Analis JPMorgan menuturkan, resesi global lebih mungkin terjadi di tengah kenaikan pajak AS terbesar sejak 1968

-Kapitalisasi pasar saham AS lenyap USD 5 triliun dalam dua hari. Total kapitalisasi pasar lenyap hampir USD 8 triliun sejak pelantikan Trump pada Januari

-Ekonom Barclays memperkirakan inflasi AS akan melebihi 4 persen pada 2025, sedangkan produk domestik bruto (PDB) akan berkontraksi pada kuartal IV.

Dunia akan terdampak kebijakan perdagangan AS. Ekonom Citu menuturkan, pertumbuhan zona euro akan terpukul hingga satu persen pada 2025 sehingga mendorong zona euro ke ambang resesi. Sedangkan China alami pukulan serupa terhadap pertumbuhan PDB-nya yang menurut mereka sudah melambat hingga di bawah 5 persen.

 

S&P 500 hingga Dow Jones Anjlok Parah, Penurunan Terbesar sejak Pandemi Covid-19

Wall Street Anjlok Setelah Virus Corona Jadi Pandemi
Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)... Selengkapnya

Sebelumnya, pasar saham Amerika Serikat terpukul setelah China membalas dengan tarif baru atas barang-barang impor dari AS.

Melansir CNBC International, Sabtu (5/4/2025) saham Dow Jones Industrial Average melemah 2.231,07 poin, atau 5,5%, menjadi 38.314,86 pada hari Jumat. Ini menandai penurunan terbesar sejak Juni 2020 selama pandemi Covid-19.

Ini menyusul penurunan 1.679 poin pada Kamis dan menandai pertama kalinya Dow Jones kehilangan lebih dari 1.500 poin pada hari-hari berturut-turut.

Saham S&P 500 juga merosot 5,97% menjadi 5.074,08, penurunan terbesar sejak Maret 2020.

Adapun saham Nasdaq Composite, yang menaungi banyak perusahaan teknologi yang menjual ke China dan juga memproduksi di negara itu, anjlok 5,8% menjadi 15.587,79. Penurunan ini menyusul penurunan hampir 6% pada hari Kamis dan membuat indeks turun 22% dari rekor Desember, pasar yang lesu dalam terminologi Wall Street.

Saham teknologi memimpin penurunan pada hari Jumat (4/4) waktu setempat.

Saham Apple merosot 7%, sehingga kerugiannya untuk minggu ini menjadi 13%. Saham Nvidia juga tersungkur 7% selama sesi tersebut, sementara Tesla turun 10%.

Seperti diketahui, etiga perusahaan tersebut memiliki eksposur besar ke China dan termasuk yang paling terpukul oleh tindakan balasan Beijing.

Di luar sektor teknologi, saham Boeing dan Caterpillar, yang dikenal sebagai eksportir besar ke China mengalami penurunan terbesar di bursa Dow, masing-masing turun 9% dan hampir 6%.

"Meskipun pasar mungkin mendekati titik terendah dalam jangka pendek, kami khawatir tentang dampak perang dagang global terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang," kata Emily Bowersock Hill, CEO dan mitra pendiri di Bowersock Capital Partners.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump mengguncang pasar global dalam beberapa pekan terakhir dengan serangkaian kebijakan baru tarif impor. Langkah tersebut mendorong respon balasan dari China dengan tarif baru lainnya.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global
Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya