Gamer Alami Patah Leher saat Pakai Kacamata VR

Ekstrem, seorang gamer mengalami patah leher saat mengenakan headset/kacamata VR (virtual reality).

oleh Iskandar diperbarui 01 Feb 2022, 08:00 WIB
Diterbitkan 01 Feb 2022, 08:00 WIB
Ilustrasi VR, Virtual Reality, VR Headset, Virtual Reality Headset
Ilustrasi VR, Virtual Reality, VR Headset, Virtual Reality Headset. Kredit: Jan Vašek (JESHOOTS-com) via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Seorang gamer di Jerman mengalami patah leher saat mengenakan headset/kacamata VR (virtual reality) karena bergerak terlalu 'keras'.

Dokter yang merawat pria berusia 31 tahun tersebut mengatakan bahwa gamer melakukan gerakan 'berulang-ulang' sehingga menyebabkan lehernya rusak dan bagian tulang akhirnya retak.

Pria yang tak disebutkan identitasnya itu kemudian pergi ke rumah sakit setelah mengalami rasa sakit yang menusuk di bahunya.

Dilansir New York Post, Selasa (1/2/2022), pemindaian sinar-X mengungkapkan bahwa pria pemakai headset VR itu telah mematahkan tulang belakang leher C7 yang berada di dekat pangkal leher di atas bahu.

Para ahli dari Rumah Sakit Universitas Leipzig yang merawat sang gamer meyakini bahwa kondisi ini adalah 'fraktur stres' terkait VR pertama yang didokumentasikan di dunia.

Sementara para peneliti mengatakan cedera patah leher yang dialami pria tersebut mirip dengan yang terlihat pada pelari dan tentara seperti yang dijelaskan dalam jurnal medis.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Pakai Penyangga Leher

Kembangkan Teknologi VR, Facebook Caplok Engineer Microsoft
Oculus Rift (ubergizmo.com)

Headset VR senilai hampir £400, bisa memiliki bobot hampir 610 gram, meskipun petugas medis dalam kasus pria Jerman itu tidak merinci merek yang digunakan.

Pria tersebut perlu memakai sejenis penyangga leher selama enam minggu untuk menopang lehernya dan diprediksi akan sembuh total setelah 12 minggu.

Headset VR menjadi peralatan yang semakin populer di kalangan gamer, dengan jutaan di antaranya dijual di Inggris dan AS dalam beberapa tahun terakhir.

Dr David Baur, seorang spesialis ortopedi dan trauma di rumah sakit tempat pria itu dirawat, mengatakan cedera itu menyerupai "patah tulang pemukul tanah liat".

Fraktur ini dinamai berdasarkan cedera yang tercatat pada penambang tanah liat di Australia pada 1940-an. Mereka terluka setelah melemparkan material ke atas bahu mereka dari lubang penambangan menggunakan sekop.

 


Kerap Dialami Atlet Profesional

Ilustrasi AR/VR.  (Sophia Sideri-Unsplash)
Ilustrasi AR/VR. (Sophia Sideri-Unsplash)

Cedera itu juga tercatat pada atlet profesional seperti pemain bola voli dan penunggang kuda.

"Gerakan berulang dan kebiasaan bermain game yang intens bisa menyebabkan patah tulang akibat kelelahan," kata Dr Baur.

Menurut para peneliti, fraktur stres berulang dari jenis ini adalah cedera umum pada tentara dalam perjalanan panjang, kata para peneliti.


Infografis Dampak Bermain Game Berlebihan

Infografis Dampak Bermain Game Berlebihan (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis dampak bermain video game berlebihan (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya