Jokowi: Hilirisasi Bisa Dorong PDB per Kapita Indonesia Tembus Rp 153 Juta dalam 10 Tahun

Jokowi kembali menyoroti program hilirisasi di Indonesia, khususnya nikel, yang sudah menghadapi berbagai tantangan dari berbagai badan global.

oleh Natasha Khairunisa Amani diperbarui 30 Agu 2023, 18:15 WIB
Diterbitkan 30 Agu 2023, 18:15 WIB
Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri acara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (23/8/2022). Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut angkat bicara perihal rencana harga BBM naik untuk subsisi jenis Pertalite.

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memprediksi Indonesia akan memiliki produk domestik bruto (PDB) per kapita hingga USD 10.900 dalam 10 tahun mendatang. Hal itu dapat tercapai jika negara konsisten melakukan program hilirisasi.

Jokowi kembali menyoroti program hilirisasi di Indonesia, khususnya nikel, yang sudah menghadapi berbagai tantangan dari berbagai badan global salah satunya dari World Trade Organization (WTO), Uni Eropa, serta kritikan baru baru ini dari International Monetary Fund (IMF).

Namun, Jokowi tetap percaya diri, terus menyerukan banding dan memastikan hilirisasi terus berjalan meski ditantang berbagai pihak.

"Karena kalau ini kita konsiten lakukan terus menerus dan tidak surut, perkiraan kita 10 tahun yang akan datang GDP per kapita kita sudah mencapai USD 10.900 atau Rp. 153 juta," ujar Jokowi dalam pidatonya pada Pembukaan Mahasabha XIII KMHDI 2023,yang disiarkan Youtube resmi Sekretariat Presiden, Rabu (30/8/2023).

"Kemudian 15 tahun yang akan datang, akan masuk ke USD 15.800 GDP per kapita kita atau Rp217 juta, dan pada saat Indonesia emas hitungan kita sudah mencapai USD 25 ribu income per kapita kita atau Rp. 331 juta. Artinya, kita sudah masuk jadi negara maju," jelas Jokowi.

"Karena memang tidak akan ada negara mana pun yang memberi kita karpet merah kalau kita tidak merebutnya sendiri, gak ada. Jangan berharap itu," tandasnya.

 

 

 

Sederet Kebijakan Indonesia Dikritik IMF, Mulai Hilirisasi hingga Moneter

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. Dok: Twitter @KGeorgieva

Pernyataan terbaru Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, menyoroti adanya kritik dari Dana Moneter Internasional (IMF) terkait cara kerja kebijakan moneter Indonesia. 

Dalam pernyataannya, Perry menegaskan, Indonesia memiliki cara tersendiri untuk mengedalikan inflasi, salah satunya dengan mengatur kebijakan moneter, tidak hanya menaikan suku bunga, tetapi juga kebijakan nilai tukar rupiah, dan kebijakan pasar keuangan.

Ia pun mengakui pihaknya beberapa kali mengeluarkan kebijakan diluar jalur yang ada.

"Kita tidak peduli dengan pernyataan IMF," kata Perry dalam acara ASEAN Fest, dikutip Rabu (23/8/2023). 

"Apa yang kita lakukan, kami tahu anda lebih pintar, tapi kami lebih berpengalaman. kamu mungkin berpikir lebih pintar, tapi kami lebih berpengalaman, tapi kita juga menggunakan kebijakan moneter makroprudensial dan fiskal," sambungnya.

Melihat kebelakang, ini bukan pertama kalinya IMF mengeluarkan kritik terhadap kebijakan ekonomi Indonesia.

IMF Kritik Kebijakan Hilirisasi

IMF
IMF (IMF)

Beberapa waktu lalu, IMF mengkritik kebijakan hilirisasi di Indonesia, salah satunya terkait larangan ekspor nikel. 

IMF, dalam publikasi laporan Article IV Consultation, menyebutkan bahwa Indonesia perlu mempertimbangkan kebijakan itu secara bertahap dan tidak memperluasnya pada komoditas lain.

"Potensi manfaat jangka panjang dari kebijakan hilirisasi perlu dipertimbangkan terhadap biayanya, yang mencakup limpahan lintas batas," tulis IMF dalam laporan Article IV Consultation.

"Biaya fiskal dalam hal pendapatan (negara) tahunan hilang saat ini tampak kecil, dan harus dipantau sebagai bagian dari penilaian biaya-manfaat ini," jelas IMF.

IMF Kritik Kebijakan Hilirisasi RI : Masih Diperlukan Analisa

FOTO: IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 1,5 persen pada Oktober, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada Juni sebesar minus 0,3 persen. (Liputan6.com/Johan Tallo)

IMF mengatakan, diperlukan adanya analisa rutin terkait biaya dan manfaat dari hilirisasi, juga perlu diinformasikan dengan menekankan pada keberhasilan serta apakah ada urgensi perluasan hilirisasi ke jenis mineral lain.

"Kebijakan industri juga harus dirancang dengan cara yang tidak menghalangi persaingan dan inovasi, sambil meminimalkan limpahan lintas batas yang negatif," kata lembaga itu.

"Dalam konteks ini, pihak berwenang harus mempertimbangkan kebijakan dalam negeri yang mencapai tujuannya untuk meningkatkan nilai tambah dalam produksi, dengan menghapus pembatasan ekspor secara bertahap dan tidak memperluas pembatasan tersebut ke komoditas lain," tambah IMF. 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya