Liputan6.com, Jakarta - Pada Jumat malam, Elon Musk mengumumkan telah menjual perusahaan media sosialnya, X dahulu bernama Twitter, ke xAI, perusahaan kecerdasan buatan (AI) miliknya. xAI akan membayar USD 45 miliar atau sekitar Rp 745,51 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.567) untuk X, sedikit lebih mahal dibandingkan harga yang dibayar Musk saat membeli pada 2022.
Namun, kesepakatan baru ini mencakup utang sebesar USD 12 miliar atau sekitar Rp 198,80 triliun. Musk menulis di akun X-nya kesepakatan ini membuat nilai X menjadi USD 33 miliar atau sekitar Rp 546,71 triliun.
Baca Juga
“Masa depan xAI dan X saling terhubung. Hari ini, kami secara resmi mengambil langkah untuk menggabungkan data, model, komputasi, distribusi, dan talenta. Kombinasi ini akan membuka potensi besar dengan menggabungkan keahlian AI canggih xAI dengan jangkauan luas X," tulis Musk, dikutip dari CNN, Sabtu (29/3/2025).
Advertisement
Musk tidak mengumumkan perubahan langsung pada X, meskipun chatbot AI xAI bernama Grok sudah terintegrasi ke dalam platform media sosial tersebut. Ia mengatakan, kombinasi ini akan “memberikan pengalaman yang lebih cerdas dan bermakna.” Menurut dia, nilai perusahaan gabungan ini mencapai USD 80 miliar atau sekitar Rp 1.325 triliun.
Musk telah melakukan banyak perubahan pada X sejak membelinya pada 2022, yang menyebabkan beberapa pengiklan besar meninggalkan platform tersebut. Ia memecat 80% karyawan perusahaan, mengubah sistem verifikasi akun, dan mengaktifkan kembali akun yang sebelumnya ditangguhkan, termasuk akun kelompok supremasi kulit putih.
Meskipun nilai X lebih rendah dibandingkan harga yang dibayarkan Musk saat membelinya, perusahaan ini mengalami pemulihan. Pada Oktober lalu, firma investasi Fidelity memperkirakan nilai X turun hampir 80% sejak dibeli Musk. Namun, pada Desember, nilai X mulai pulih meskipun masih sekitar 30% dari harga pembelian awal.
Ingin Bangun Reputasi sebagai Pemimpin di AI
Berita ini juga muncul di tengah sorotan terhadap peran Musk di Departemen Efisiensi Pemerintah dalam pemerintahan Trump, yang menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana ia masih fokus pada perusahaannya, terutama Tesla. Dengan menggabungkan X dan xAI, Musk dapat menyelaraskan usahanya dengan lebih efisien.
Musk juga ingin membangun reputasi sebagai pemimpin di bidang AI, yang menjadi fokus utama bagi pemerintahan Trump dan industri teknologi. Awal tahun ini, Musk memimpin kelompok investor yang berusaha membeli OpenAI, pembuat ChatGPT, dengan harga hampir USD 100 miliar—langkah besar dalam persaingannya dengan CEO OpenAI, Sam Altman.
Belum jelas bagaimana akuisisi ini akan membantu ambisi AI Musk. Namun, integrasi yang lebih erat dengan X memungkinkan xAI untuk lebih cepat memperkenalkan model AI dan fitur terbaru ke khalayak luas.
Kebangkitan X yang mengejutkan
Sejumlah pengiklan besar yang sebelumnya meninggalkan X akibat meningkatnya ujaran kebencian di platform kini mulai kembali. X telah menonaktifkan beberapa akun pro-Nazi dari program periklanannya setelah banyak pengiklan hengkang. Amazon dan Apple dikabarkan mulai kembali berinvestasi dalam kampanye iklan di X—sebuah tanda pemulihan bagi platform tersebut.
Stabilisasi merek ini juga membantu para pemegang obligasi X yang sebelumnya mengalami kerugian besar untuk menjual miliaran dolar utang X dengan harga 97 sen per dolar awal bulan ini, meskipun dengan tingkat bunga yang tinggi.
Advertisement
Pemulihan Nilai X
Pada Februari, Bloomberg melaporkan X sedang dalam pembicaraan untuk mengumpulkan dana yang bisa membuat nilai perusahaan mencapai USD 44 miliar.
Namun, belum jelas mengapa xAI menilai X lebih rendah dari angka yang dikabarkan bisa didapat dari investor. X masih harus melunasi utang besar yang, menurut Musk, mencapai USD 12 miliar.
Salah satu faktor utama pemulihan nilai X dalam beberapa bulan terakhir adalah xAI, di mana X kabarnya memiliki kepemilikan saham. Bulan lalu, xAI mencari pendanaan dengan valuasi USD 75 miliar, menurut Bloomberg.
Namun, faktor terbesar kebangkitan X hampir pasti adalah Musk sendiri. Dengan posisinya sebagai pegawai khusus pemerintah di bawah Presiden Trump, Musk kini memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan pemerintah federal, yang ia manfaatkan untuk melakukan perubahan cepat.
Para investor yang bertaruh pada X kemungkinan besar lebih percaya pada kepemimpinan Musk dibandingkan model bisnisnya.
Tahun lalu, Musk mengubah X menjadi platform yang mendukung Trump, menggunakan media sosial ini untuk memperkuat kampanye presiden tersebut. Ia juga kerap mengunggah teori konspirasi rasis tentang kebijakan imigrasi pemerintahan Biden dan berbicara tentang “woke mind virus,” istilah yang sering digunakan kelompok konservatif untuk menyebut gerakan progresif.
Kini, dengan Trump kembali menjabat dan Musk bekerja di pemerintahan, X kembali menjadi platform sosial media utama untuk mengikuti perkembangan pemerintahan Trump. Musk juga menggunakan X untuk mengumumkan beberapa kebijakan barunya di Departemen Efisiensi Pemerintah.
