Ilmuwan Temukan Planet Liar yang Miliki Atmosfer Layaknya Kue Lapis

Para peneliti menggunakan dua instrumen utama JWST, yakni Near-Infrared Spectrograph (NIRSpec) dan Mid-Infrared Instrument (MIRI), untuk memahami atmosfer objek ini.

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 27 Mar 2025, 01:00 WIB
Diterbitkan 27 Mar 2025, 01:00 WIB
Ilustrasi Planet, Tata Surya
Ilustrasi Planet, Tata Surya (Photo created by brgfx on Freepik.com)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan berhasil memetakan cuaca dari sebuah objek antariksa yang diberi nama SIMP 0136+0933 dengan bantuan Teleskop Luar Angkasa James Webb. SIMP 0136+0933 merupakan objek mirip planet yang tidak mengorbit bintang mana pun, sehingga dijuluki rogue planet atau planet liar.

Melansir laman Live Science pada Rabu (26/03/2025), para ilmuwan menemukan bahwa objek ini memiliki atmosfer yang sangat kompleks dan berlapis-lapis. Bahkan dalam studi yang diterbitkan di jurnal The Astrophysical Journal Letters pada 3 Maret 2025 lalu ini, para peneliti menemukan awan logam seperti besi, mineral langka, senyawa karbon, dan fenomena aurora di ketinggian tinggi.

Para peneliti menggunakan dua instrumen utama JWST, yakni Near-Infrared Spectrograph (NIRSpec) dan Mid-Infrared Instrument (MIRI), untuk memahami atmosfer objek ini. Mereka mengumpulkan lebih dari 6.000 set data dalam waktu hampir enam jam pada 23 Juli 2023, mencakup berbagai panjang gelombang inframerah pendek dan menengah.

Dari data ini, para ilmuwan membuat kurva cahaya (light curves) atau grafik yang menunjukkan bagaimana kecerahan inframerah berubah seiring waktu. Menariknya, mereka menemukan bahwa kecerahan ini tidak berubah secara seragam.

Beberapa panjang gelombang meningkat, sebagian menurun, dan sebagian tetap. Namun, pola-pola ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga kluster utama, yang masing-masing tampaknya berasal dari lapisan atmosfer yang berbeda.

Kluster pertama berasal dari lapisan bawah atmosfer, yang dipenuhi oleh awan besi. Kluster kedua tampaknya berasal dari lapisan atas yang mengandung awan forsterit, sebuah mineral silikat yang mengandung magnesium.

Kluster ketiga tidak cocok dengan awan mana pun, melainkan diperkirakan berasal dari kantong panas (hotspots) di atmosfer bagian atas. Kemungkinan besar akibat aurora radio yang mirip dengan cahaya utara di Bumi, namun dalam panjang gelombang radio.

Meski sebagian besar perilaku atmosfer dapat dijelaskan oleh model awan dan aurora, masih ada fenomena yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya. Terutama mengapa bentuk kurva cahaya pada kluster pertama begitu beragam.

Para ilmuwan menduga bahwa hal ini disebabkan oleh keberadaan senyawa karbon, seperti karbon monoksida, yang dapat menyerap radiasi dalam panjang gelombang tertentu pada waktu tertentu. SIMP 0136+0933 telah diamati sebelumnya oleh Teleskop Luar Angkasa Spitzer milik NASA.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa atmosfer objek ini sangat tidak stabil dan mengalami fluktuasi signifikan dalam spektrum inframerah. Namun, penyebab dari fluktuasi tersebut baru kini mulai terkuak melalui observasi detail JWST.

 

Promosi 1

SIMP 0136+0933 Bukan Planet

SIMP 0136+0933 bukanlah planet dalam arti konvensional, karena tidak mengelilingi bintang seperti halnya bumi mengelilingi matahari. Namun, ia juga tidak cukup besar untuk disebut bintang gagal atau brown dwarf.

SIMP 0136+0933 berada di Nebula Carina, sekitar 20 tahun cahaya dari bumi. SIMP 0136+0933 dikenal sebagai objek massa planet bebas paling terang di belahan langit utara, karena tidak berada dekat dengan bintang terang.

Hasilnya, objek ini bisa diamati secara langsung tanpa gangguan cahaya bintang. SIMP 0136+0933 juga memiliki hari yang sangat singkat, yakni hanya 2,4 jam, artinya ia berputar sangat cepat pada porosnya.

Penemuan atmosfer pada SIMP 0136+0933 memperluas pemahaman kita tentang keanekaragaman atmosfer di luar Tata Surya. SIMP 0136+0933 bukan hanya objek eksotis, tapi juga laboratorium alami bagi ilmuwan untuk memahami proses atmosfer yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Para peneliti berencana melakukan studi lanjutan menggunakan Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman, yang dijadwalkan meluncur pada 2027.

(Tifani)

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya