, Washington D.C - Harga telur di Amerika Serikat melonjak hingga lebih dari 150 persen akibat wabah flu burung. AS dilaporkan telah meminta Eropa mengekspor kelebihan telur. Sejauh ini, hanya satu atau dua negara yang nampak tertarik.
Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah konsumen di Amerika Serikat harus membayar lebih dari USD 10 atau lebih dari Rp165 ribu hanya untuk beli selusin telur! Wabah flu burung dituduh jadi penyebab kekurangan telur dan lonjakan harga sebesar ini.
Advertisement
Baca Juga
Lebih dari 166 juta burung liar dan domestik telah dimusnahkan sejak jenis flu burung H5N1 pertama kali terdeteksi oleh otoritas Amerika Serikat (AS) pada awal tahun 2022.
Advertisement
Departemen Pertanian AS (USDA) pada minggu ini melaporkan, sejak awal tahun, lebih dari 30 juta ayam telah dimusnahkan.
Ini mencakup 12,3 persen dari stok unggas yang dikurung dalam kandang dan dan hampir 8 persen dari kawanan unggas yang tidak dikurung. Sementara kawanan unggas organik sebagian besar tidak tersentuh wabah tersebut, menurut data USDA.
Saking parahnya kekurangan telur ini, bayangkan harga naik 159 persen dalam setahun, beberapa toko bahan makanan mulai membatasi jumlah telur yang boleh dibawa pulang tiap pembeli.
Beberapa media melaporka, badan-badan pertanian di Denmark, Swedia, Belanda, Jerman, Spanyol, Prancis, dan Italia Tengah dirayu untuk melihat kemungkinan mereka mau mengekspor kelebihan pasokan telur ke AS.
Apa Eropa punya Kelebihan Telur?
Eropa sendiri juga sedang bergulat dengan wabah flu burung selama tiga tahun terakhir. Benua ini juga sebenarnya tidak sedang kelebihan telur.
Polandia, Hungaria, dan Prancis termasuk di antara negara-negara yang paling parah terkena dampak flu burung. Pada bulan Januari, Portugal melaporkan wabah di sebuah peternakan unggas di dekat ibu kota Lisbon.
Tahun ini, Inggris Raya juga menerapkan langkah-langkah ketat pengendalian penyakit, menyusul dugaan kasus flu burung di County Tyrone, Irlandia Utara.
AS sendiri secara historis telah memberlakukan pembatasan impor telur dari sebagian besar negara Uni Eropa karena kekhawatiran tentang penyakit unggas, terutama flu burung.
Hans-Peter Goldnick, presiden Asosiasi Telur Jerman, mengatakan meskipun Jerman mengekspor telur di pasar perdagangan komoditas, volumenya sangat kecil.
Berbicara kepada lembaga penyiaran publik Jerman NDR pada hari Rabu (19/03), ia mengatakan pasokan telur untuk Paskah aman, tetapi mendesak warga Jerman untuk "mengonsumsi telur seperti biasa dan tidak menimbunnya."
Jerman tidak memiliki banyak kelebihan pasokan telur, dan mengandalkan impor untuk lebih dari seperempat kebutuhan konsumsi telurnya pada tahun 2023, menurut data pemerintah.
Sementara seorang pejabat peterakan unggas Finlandia mengatakan kepada lembaga penyiaran publik Yle bahwa negara itu tidak dapat membantu karena pembatasan impor oleh AS.
Pejabat Swedia dan Denmark mengatakan hal serupa, bahwa birokrasi telah menghalangi upaya pemberian bantuan telur secara cepat kepada AS.
Â
AS Kekurangan Telur
Bulan lalu, kantor berita Reuters melaporkan, Turki akan memperluas ekspor telurnya ke AS, dan telah setuju mengirim tambahan 15.000 ton telur berdasarkan kesepakatan sementara dengan Washington.
Ibrahim Afyon, ketua Serikat Produsen Telur Pusat di Turki, mengatakan hingga Juli mendatang, negaranya akan mengirimkan sekitar 240 juta telur, atau sekitar enam kali lipat jumlah yang diekspor ke AS pada 2024. Ekspor tambahan akan menghasilkan pendapatan sekitar $26 juta bagi Turki.
Bulan lalu, Bloomberg melaporkan bahwa AS berencana memberlakukan kembali lisensi impor produk telur dari Belanda.
Belanda adalah eksportir telur terbesar di dunia dan rencana ekspor telur ke AS ini akan mencakup pengiriman telur cair dan bubuk, menurut European Union of Wholesale in Eggs, Egg-Products, Poultry and Game (EUWEP).
Selain pembatasan impor, Eropa akan menghadapi masalah logistik saat mengekspor telur melintasi Atlantik, karena sifat telur yang rapuh dan suhu ruangnya perlu dikendalikan. Selain itu, transportasi udara mahal, sementara pengiriman melalui laut akan memakan waktu lama mengingat masa simpan telur.
Â
Advertisement
Berapa Lama Krisis Telur di AS Akan Berlanjut?
Harga telur di AS memang mulai menurun dalam sebulan terakhir, sebagian karena permintaan yang jauh lebih rendah, dan peningkatan pasokan. Namun permintaan dapat meningkat lagi dalam beberapa bulan mendatang dan wabah flu burung yang terus berlanjut dapat terus memengaruhi produksi telur.
Akan butuh waktu 4 hingga 5 bulan untuk mengganti ayam-ayam yang dimusnahkan dan membiarkan ternak unggas mencapai kematangan usia bertelur. Bahkan setelah ayam mulai bertelur, produksi telur pada awalnya rendah dan secara bertahap meningkat seiring waktu.
Penetasan juga memerlukan waktu untuk meningkatkan produksi ayam dara baru. Banyak produsen telur mungkin ragu untuk mengisi kembali stok mereka karena takut akan wabah flu burung lebih lanjut.
Mengingat faktor-faktor ini, banyak ahli memperkirakan bahwa harga telur akan tetap tinggi, dan kekurangan tersebut mungkin akan berlangsung setidaknya hingga akhir tahun.
