Liputan6.com, Jakarta - Menjelang hari raya, salah satu hal yang paling dinanti oleh pekerja adalah Tunjangan Hari Raya (THR). THR ini diatur dalam Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) yang memberikan kepastian bagi karyawan mengenai hak mereka. Pada dasarnya, THR adalah tunjangan yang wajib diberikan oleh pengusaha kepada pekerja menjelang hari raya keagamaan. Namun, bagaimana cara perhitungannya? Mari kita bahas lebih dalam.
Menurut UU Cipta Kerja, perhitungan THR untuk karyawan tergantung pada masa kerja mereka. Bagi karyawan yang sudah bekerja selama satu bulan atau lebih, mereka berhak atas THR proporsional.
Baca Juga
Misalnya, jika seorang karyawan bekerja selama enam bulan, maka THR yang diterima adalah setengah dari gaji pokoknya. Sementara itu, bagi karyawan yang telah bekerja selama satu tahun atau lebih, mereka berhak mendapatkan THR sebesar satu kali gaji pokok.
Advertisement
Selain itu, penting untuk diingat bahwa gaji pokok yang dimaksud adalah gaji yang diterima sebelum hari raya keagamaan. Komponen lain seperti tunjangan tetap juga termasuk dalam perhitungan THR. Hal ini menunjukkan bahwa THR bukan hanya sekadar tambahan, tetapi hak yang harus dipenuhi oleh pengusaha.
Ketentuan Umum THR Menurut UU Cipta Kerja
UU Cipta Kerja mengatur beberapa ketentuan penting terkait THR. Pertama, aturan ini berlaku untuk semua jenis pekerja, baik karyawan tetap maupun tidak tetap. Kedua, THR harus dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan. Jenis hari raya yang dimaksud pun disesuaikan dengan keyakinan masing-masing karyawan, seperti Idul Fitri, Natal, Waisak, dan Nyepi.
Dalam konteks ini, THR dianggap sebagai pendapatan non-upah yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan karyawan dan keluarganya selama hari raya. Hal ini mempertegas bahwa THR bukan sekadar bonus, melainkan hak yang harus diberikan oleh pengusaha.
“Pemberian THR merupakan bentuk apresiasi terhadap kontribusi pekerja selama ini,” ungkap seorang ahli hukum ketenagakerjaan, Dr. Andi Setiawan.
Advertisement
Rincian Perhitungan THR
Perhitungan THR berdasarkan masa kerja sangat penting untuk dipahami oleh kedua belah pihak. Berikut adalah rumus yang digunakan:
- Pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih: THR = 1 bulan upah (gaji pokok + tunjangan tetap).
- Pekerja dengan masa kerja kurang dari 12 bulan: THR = (masa kerja / 12) * penghasilan satu bulan.
Contoh perhitungan dapat membantu memperjelas hal ini:
- Karyawan A bekerja selama 6 bulan dengan gaji Rp5.000.000. Maka, THR = (6/12) * Rp5.000.000 = Rp2.500.000.
- Karyawan B bekerja selama 3 bulan dengan gaji Rp4.000.000. Maka, THR = (3/12) * Rp4.000.000 = Rp1.000.000.
Dengan adanya formula dan contoh perhitungan, diharapkan baik pemberi kerja maupun karyawan dapat memahami cara menghitung THR dengan tepat. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman dan memastikan hak-hak pekerja terpenuhi.
Pentingnya Memahami Ketentuan THR
Memahami ketentuan THR sangat penting bagi pekerja dan pengusaha. Bagi pekerja, pengetahuan ini membantu memastikan bahwa hak mereka terpenuhi sesuai ketentuan. Sementara bagi pemberi kerja, pemahaman yang baik tentang perhitungan THR memudahkan dalam merencanakan anggaran dan memenuhi kewajiban secara tepat.
“Ketepatan dalam perhitungan THR mencerminkan profesionalisme dan tanggung jawab perusahaan terhadap kesejahteraan pekerja,” tambah Dr. Andi Setiawan.
Selain itu, penting untuk selalu merujuk pada peraturan terbaru dan berkonsultasi dengan pihak terkait jika ada ketidakjelasan dalam proses perhitungan. Dengan demikian, diharapkan hubungan kerja dapat berjalan harmonis dan saling menguntungkan.
Advertisement
