7 Keistimewaan Angka 7 dalam Islam: Simbol Kebesaran dan Ketetapan Ilahi

Angka 7 dalam Islam memiliki keistimewaan yang signifikan, melambangkan kebesaran Tuhan dan kompleksitas ciptaan-Nya, tercermin dalam Al-Qur'an dan hadits.

oleh Woro Anjar Verianty Diperbarui 27 Mar 2025, 21:00 WIB
Diterbitkan 27 Mar 2025, 21:00 WIB
masjid
Ilustrasi masjid di malam yang cerah/copyright unsplash.com/Katerina Kerdi... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Dalam tradisi keagamaan Islam, terdapat berbagai simbol dan angka yang memiliki makna mendalam. Salah satu yang paling menonjol adalah keistimewaan angka 7 yang muncul berulang kali dalam Al-Qur'an, hadits, dan berbagai aspek ibadah umat Muslim. Keistimewaan angka 7 ini bukanlah sekadar kebetulan, melainkan menyimpan rahasia dan hikmah yang dapat kita pelajari untuk memahami kebesaran Allah SWT secara lebih mendalam.

Para ulama dan cendekiawan Muslim telah mengkaji keistimewaan angka 7 sejak berabad-abad lalu. Seperti yang diungkapkan oleh Syekh Abi Nashr Muhammad bin Rahman al-Hamdani dalam kitabnya "As-Sab'iyyat fi Mawa'idh al-Bariyyat", angka 7 memiliki posisi istimewa dalam kosmologi Islam. Keistimewaan angka 7 terlihat dari bagaimana Allah SWT sering menggunakan bilangan ini dalam penciptaan-Nya, mulai dari struktur langit dan bumi hingga komponen penting dalam ibadah sehari-hari.

Jika kita menelaah lebih jauh, keistimewaan angka 7 dalam Islam tidak hanya sebatas pada aspek ritual keagamaan, tetapi juga terlihat dalam struktur alam semesta itu sendiri. Para peneliti Al-Qur'an mengamati adanya sebuah sistem integral yang terkait dengan angka 7 sebagai simbol kekuasaan dan keesaan Allah SWT. Bahkan dalam ilmu numerologi Islam, keistimewaan angka 7 dipandang sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia dan alam semesta, menunjukkan bagaimana bilangan ini menjadi fondasi penting dalam memahami kebesaran ciptaan Allah.

Berikut informasi lengkapnya, yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber pada Kamis (20/3).

Promosi 1

1. Tujuh Lapis Langit dan Bumi: Simbolisme Penciptaan Sempurna

Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa Dia menciptakan tujuh lapis langit yang kokoh dan indah, dihiasi dengan berbagai bintang yang menakjubkan. Keistimewaan penciptaan ini disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an, menunjukkan betapa pentingnya struktur tujuh lapis ini dalam kosmologi Islam.

Dalam Surat An-Naba ayat 12, Allah SWT berfirman:

وَّبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًا

"Dan Kami membangun di atas kamu tujuh langit yang kokoh." (QS An-Naba:12)

Keindahan langit ini kemudian dihiasi dengan bintang-bintang yang memukau, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Hijr ayat 16:

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِى السَّمَاۤءِ بُرُوْجًا وَّزَيَّنّٰهَا لِلنّٰظِرِيْنَۙ

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya." (QS Al-Hijr:16)

Tidak hanya langit, Allah SWT juga menciptakan bumi dengan tujuh lapis yang serupa. Dalam Surat Ath-Thalaq ayat 12, Allah berfirman:

ٱللَّهُ ٱلَّذِی خَلَقَ سَبۡعَ سَمَـٰوَٰتࣲ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّ

"Allah yang menciptakan 7 langit dan menciptakan bumi juga serupa." (QS Ath-Thalaq:12)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa penciptaan tujuh lapis langit dan bumi ini merupakan bukti kebesaran Allah SWT. Menariknya, ilmu pengetahuan modern juga telah mengidentifikasi bahwa atmosfer bumi terdiri dari beberapa lapisan yang berbeda, meskipun klasifikasi modernnya tidak persis sama dengan konsep tujuh lapis yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa keistimewaan angka 7 dalam penciptaan kosmos memiliki makna mendalam yang terus relevan hingga saat ini.

2. Al-Qur'an dan Keistimewaan Angka 7

Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam juga memiliki kaitan erat dengan keistimewaan angka 7. Salah satu contoh paling jelas adalah Surat Al-Fatihah yang terdiri dari tujuh ayat dan dikenal sebagai "Sab'ul Matsani" (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang).

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hijr ayat 87:

وَلَقَدْ اٰتَيْنٰكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِيْ وَالْقُرْاٰنَ الْعَظِيْمَ

"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung."

Para ulama menafsirkan ayat ini sebagai referensi langsung kepada Surat Al-Fatihah yang terdiri dari tujuh ayat dan merupakan surat yang paling sering dibaca dalam ibadah shalat. Keistimewaan Surat Al-Fatihah ini tidak hanya terletak pada jumlah ayatnya, tetapi juga karena posisinya sebagai "pembuka" Al-Qur'an dan surat yang wajib dibaca dalam setiap rakaat shalat.

Selain itu, kalimat tauhid لآ اِلٰهَ إِلَّا اللّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوُلُ اللّهِ (Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah) yang merupakan kalimat inti dalam keimanan Islam juga terdiri dari tujuh kata jika dipecah:

  1. لآ (tidak ada)
  2. اِلٰهَ (Tuhan)
  3. إِلّا (kecuali)
  4. اللّهُ (Allah)
  5. مُحَمَّدٌ (Muhammad)
  6. رَسُوُل (utusan)
  7. اللّهِ (Allah)

Ini menunjukkan bahwa keistimewaan angka 7 bahkan terlihat dalam kalimat syahadat yang menjadi pintu masuk seseorang ke dalam agama Islam. Allah SWT menegaskan pentingnya kalimat tauhid ini dalam Surat Al-Fath ayat 26:

وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَكَانُوْٓا اَحَقَّ بِهَا وَاَهْلَهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

"Dan (Allah) mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan itu dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

3. Tujuh Anggota Tubuh untuk Sujud: Simbol Ketundukan Sempurna

Allah SWT telah menganugerahkan manusia dengan tujuh anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud kepada-Nya. Keistimewaan angka 7 dalam ibadah shalat ini menunjukkan kesempurnaan dalam bentuk ketundukan manusia kepada Sang Pencipta.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

"Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota badan: dahi (dan hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung jari-jari kedua kaki." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tujuh anggota tubuh ini meliputi dua tangan untuk berdoa, dua kaki untuk berkhidmah dalam kebaikan, dua lutut untuk bersimpuh kepada Allah SWT, dan satu wajah (dahi dan hidung) untuk bersujud kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Alaq ayat 19:

وَٱسۡجُدۡ وَٱقۡتَرِب

"Dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu kepada Allah."

Para ulama menjelaskan bahwa sujud merupakan posisi terdekat antara seorang hamba dengan Allah SWT. Ketika ketujuh anggota tubuh ini menyentuh tanah dalam keadaan sujud, manusia berada dalam kondisi penyerahan diri yang sempurna kepada Sang Pencipta. Keistimewaan angka 7 dalam ibadah sujud ini menyimbolkan kerendahan hati manusia di hadapan keagungan Allah SWT.

4. Tujuh Fase Kehidupan Manusia: Perjalanan Spiritual

Allah SWT dalam kebijaksanaan-Nya telah membagi kehidupan manusia menjadi tujuh fase yang berbeda. Keistimewaan angka 7 dalam tahapan kehidupan ini menunjukkan bagaimana Allah SWT telah mengatur perjalanan hidup manusia dengan sangat sempurna, dari lahir hingga meninggal dunia.

Fase-fase kehidupan manusia tersebut adalah:

  1. Radli (masa menyusui): Fase awal kehidupan di mana bayi masih bergantung sepenuhnya pada ibunya untuk nutrisi.
  2. Fathim (masa penyapihan): Fase ketika anak mulai diperkenalkan dengan makanan selain ASI.
  3. Shabiy (masa kanak-kanak): Fase di mana anak mulai belajar dan mengenal dunia sekitarnya.
  4. Ghulam (masa remaja): Fase pubertas dan pembentukan identitas diri.
  5. Syab (masa pemuda): Fase kematangan fisik dan mental.
  6. Kahl (masa dewasa): Fase kematangan penuh dan tanggung jawab.
  7. Syaikh (masa tua): Fase refleksi dan persiapan untuk kehidupan akhirat.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT sering mengingatkan manusia tentang berbagai fase kehidupan ini. Misalnya dalam Surat Al-Hajj ayat 5:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۗوَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْ ۚوَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۗ

"Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya."

Para ulama menjelaskan bahwa keistimewaan angka 7 dalam fase kehidupan manusia ini mengajarkan kita untuk selalu introspeksi diri dan mempersiapkan diri untuk fase berikutnya, terutama untuk kehidupan akhirat yang kekal.

5. Tujuh Lapisan Neraka: Peringatan akan Akibat Kemaksiatan

Allah SWT dalam Al-Qur'an juga menyebutkan adanya tujuh lapisan neraka yang menunggu para pendosa. Keistimewaan angka 7 dalam konteks ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi manusia tentang konsekuensi dari perbuatan maksiat dan pengingkaran terhadap ajaran Allah SWT.

Ketujuh lapisan neraka tersebut adalah:

  1. Jahannam: Lapisan yang paling ringan, diperuntukkan bagi orang-orang Muslim yang berdosa besar namun masih memiliki iman.
  2. Sa'ir: Lapisan kedua, tempat bagi orang-orang Yahudi yang menyimpang.
  3. Saqar: Lapisan ketiga, tempat bagi orang-orang Nasrani yang menyimpang.
  4. Jahim: Lapisan keempat, tempat bagi orang-orang Shabiin yang menyimpang.
  5. Hathamah: Lapisan kelima, tempat bagi orang-orang Majusi yang menyimpang.
  6. Ladza: Lapisan keenam, tempat bagi orang-orang musyrik.
  7. Hawiyah: Lapisan terdalam dan paling berat siksaannya, diperuntukkan bagi orang-orang munafik.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hijr ayat 44:

لَهَا سَبْعَةُ اَبْوَابٍۗ لِكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُوْمٌ

"Neraka Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Setiap pintu telah ditetapkan untuk golongan tertentu dari mereka."

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa tujuh pintu neraka ini menunjukkan berbagai jalan kemaksiatan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam siksa neraka. Keistimewaan angka 7 dalam konteks ini adalah untuk mengingatkan manusia akan berbagai bentuk godaan syaitan yang dapat menyesatkan mereka dari jalan yang lurus.

6. Tujuh Wilayah Teritorial: Simbolisme Keberagaman Umat

Allah SWT dalam kebijaksanaan-Nya telah membagi bumi menjadi tujuh wilayah atau teritori yang berbeda. Keistimewaan angka 7 dalam pembagian geografis ini menunjukkan bagaimana Allah SWT telah mengatur persebaran umat manusia di muka bumi.

Ketujuh wilayah tersebut adalah:

  1. Hidustan (wilayah India)
  2. Hijaz (wilayah Arab)
  3. Bashrah, Badiyah dan Kufah
  4. Irak, Syam, dan Khurasan sampai Balkha
  5. Romawi dan Armenia
  6. Negara tempat Ya'juj dan Ma'juj
  7. China dan Turkistan

Pembagian ini mencerminkan keadaan geografis dunia pada masa lampau sesuai dengan pemahaman para ulama klasik. Meskipun pembagian wilayah dunia sekarang telah berubah, konsep keberagaman suku dan bangsa tetap relevan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚاِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."

Para ulama menjelaskan bahwa keberagaman wilayah dan suku bangsa ini merupakan bagian dari tanda kebesaran Allah SWT. Keistimewaan angka 7 dalam pembagian wilayah dunia mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai keberagaman dan membangun persaudaraan antar umat manusia, meskipun berbeda latar belakang budaya dan geografis.

 

7. Keistimewaan Angka 7 dalam Kisah Para Nabi

Kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur'an juga sering melibatkan keistimewaan angka 7, menunjukkan bagaimana bilangan ini memiliki signifikansi khusus dalam sejarah kenabian dan dakwah Islam.

Dalam kisah Nabi Yusuf AS, angka 7 muncul dalam tafsir mimpi raja Mesir. Allah SWT mengabadikan kisah ini dalam Surat Yusuf ayat 43:

وَقَالَ الْمَلِكُ اِنِّيْٓ اَرٰى سَبْعَ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعَ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍ ۗيٰٓاَيُّهَا الْمَلَاُ اَفْتُوْنِيْ فِيْ رُءْيَايَ اِنْ كُنْتُمْ لِلرُّءْيَا تَعْبُرُوْنَ

"Dan raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai para pemuka kaum! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi."

Nabi Yusuf AS kemudian menafsirkan mimpi tersebut sebagai pertanda akan datangnya tujuh tahun masa subur yang akan diikuti dengan tujuh tahun masa paceklik, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 46-48:

يُوْسُفُ اَيُّهَا الصِّدِّيْقُ ۖاَفْتِنَا فِيْ سَبْعِ بَقَرٰتٍ سِمَانٍ يَّأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَّسَبْعِ سُنْۢبُلٰتٍ خُضْرٍ وَّاُخَرَ يٰبِسٰتٍ لَّعَلِّيْٓ اَرْجِعُ اِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُوْنَ

قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًا ۚفَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ

ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَّأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تُحْصِنُوْنَ

"(Setelah pelayan itu bertemu dengan Yusuf, dia berseru), "Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, dan tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui."

"Dia (Yusuf) berkata, "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan."

"Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan."

Keistimewaan angka 7 dalam kisah Nabi Yusuf AS ini mengajarkan kita tentang pentingnya perencanaan jangka panjang dan manajemen sumber daya dengan bijak.

Dalam kisah lain, Allah SWT menghukum kaum 'Ad, kaum Nabi Hud AS, dengan angin topan selama tujuh malam dan delapan hari. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Haqqah ayat 6-7:

وَاَمَّا عَادٌ فَاُهْلِكُوْا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍۙ

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّامٍ حُسُوْمًا ۖفَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰى كَاَنَّهُمْ اَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

"Dan adapun kaum 'Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin. Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang pohon kurma yang telah kosong (lapuk)."

Keistimewaan angka 7 dalam kisah azab ini menunjukkan bagaimana Allah SWT menggunakan bilangan ini sebagai ukuran dalam memberikan hukuman kepada kaum yang mendustakan ajaran para nabi-Nya.

Keistimewaan angka 7 dalam Islam menunjukkan bagaimana Allah SWT telah memilih bilangan ini untuk menjadi simbol penting dalam berbagai aspek penciptaan dan ajaran agama. Dari struktur alam semesta hingga ritual ibadah, dari kisah para nabi hingga kehidupan sehari-hari manusia, angka 7 hadir sebagai pengingat akan kesempurnaan dan kebesaran Allah SWT.

 
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya