Liputan6.com, Dhaka - Tradisi mudik Lebaran atau Idul Fitri ternyata juga dilakukan oleh warga Bangladesh.
Pemilik angkutan umum dan petugas kereta api di Bangladesh memperkirakan perjalanan libur Idul Fitri yang juga dikenal sebagai mudik tahun ini kemungkinan akan lebih lancar, karena masa libur yang diperpanjang selama bulan Ramadan.
Baca Juga
Namun menurut thedailystar.net yang dikutip Kamis (27/3/2025), dengan meningkatnya arus pemudik terutama pada 27 dan 29 Maret, penumpang yang menuju ke utara bisa menghadapi kemacetan jika tidak ada pengelolaan lalu lintas yang tepat.
Advertisement
Pekerjaan konstruksi yang masih berlangsung di Jalan Tol Layang Dhaka-Ashulia, serta pelebaran Jalan Raya Dhaka-Rangpur dan Dhaka-Sylhet, berpotensi menyebabkan kemacetan lebih parah jika tidak ada pengamanan dari pihak kepolisian.
Selain itu, kemungkinan adanya aksi blokade jalan oleh kelompok tertentu, terutama pekerja garmen, juga dapat memperburuk situasi arus mudik Lebaran, kata para pemimpin sektor transportasi.
Libur nasional selama sembilan hari untuk Idul Fitri akan dimulai pada Jumat (28/3). Lebih dari 1 crore orang atau sekitar 10 juta orang yang diperkirakan akan meninggalkan ibu kota dan sekitarnya untuk merayakan Lebaran di kampung halaman mereka.
Setelah diresmikannya Jembatan Padma serta pelebaran tiga jembatan utama di Jalan Raya Dhaka-Chattogram, pemudik tidak lagi menghadapi kemacetan parah dalam beberapa Lebaran terakhir. Namun, proyek pelebaran Jalan Raya Dhaka-Rangpur dari Elenga, Tangail, serta kepadatan penumpang di kawasan industri Savar, Ashulia, dan Gazipur seringkali menyebabkan kemacetan, yang menghambat perjalanan pemudik.
Pengerjaan Jalan Raya Dhaka-Rangpur juga dilaporkan telah mencapai 82 persen, dan pihak proyek mengatakan bahwa mereka berhasil membuka empat jalur di sepanjang koridor utama, termasuk jalur layanan dan jembatan. Namun, masih ada dua titik yang rawan kemacetan, yakni di Jembatan Jamuna dan Gobindaganj, Gaibandha, ujar Direktur proyek, Waliur Rahman.
Jembatan Jamuna yang hanya memiliki empat jalur sempit dapat menyebabkan kemacetan besar jika ada kendaraan yang mogok di sana, karena harus ditangani lebih dulu sebelum lalu lintas kembali lancar. Sementara itu, pembangunan flyover di Gobindaganj juga berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas.
Dampak Konstruksi pada Arus Lalu Lintas Mudik
Di sisi lain, proyek konstruksi Jalan Tol Layang Dhaka-Ashulia yang masih berjalan dapat menyebabkan kemacetan di jalur Abdullahpur-Ashulia-Baipail. Begitu pula pembangunan flyover di Baipail yang bisa berdampak pada kepadatan lalu lintas di Jalan Raya Savar-Chandra, yang kerap mengalami kemacetan saat arus mudik Lebaran.
"Karena adanya pekerjaan konstruksi, sebagian besar kendaraan tidak akan menggunakan jalur Abdullahpur-Ashulia-Baipail," kata Ashok Kumar Pal, Wakil Komisaris Polisi Lalu Lintas Metropolitan Gazipur.
Sebaliknya, kendaraan akan dialihkan melalui Jalan Raya Dhaka-Mymensingh menuju wilayah utara melalui Gazipur, yang bisa menyebabkan lonjakan kepadatan lalu lintas di jalur tersebut.
“Namun, kami akan menambah 500 polisi lalu lintas untuk memastikan tidak ada kemacetan lalu lintas di wilayah Gazipur di jalan raya Dhaka-Mymensingh,” ujar Ashok Kumar Pal.
Seorang pejabat proyek pelebaran Jalan Raya Dhaka-Sylhet mengatakan bahwa saat ini mereka tengah mengerjakan dua titik utama, yakni Hatkhola dan Velanagar di Narsingdi. Karena jalan di area tersebut memiliki empat lajur, ia yakin kemacetan dapat dihindari jika pengelolaan lalu lintas dilakukan dengan baik.
Advertisement
Kenaikan Tarif Tiket Bus, Antisipasi Keamanan hingga Prediksi Kepadatan Arus Mudik
Sementara itu, kemarin sudah banyak warga yang meninggalkan Dhaka dengan bus, meskipun jumlahnya belum terlalu besar. Beberapa penumpang mengeluhkan adanya kenaikan tarif tiket secara sepihak oleh operator bus.
Salah satu penumpang, Abu Talha, yang bekerja di sektor swasta, mengungkapkan bahwa saat membeli tiket dari SI Paribahan untuk perjalanan ke Sirajganj pada 26 Maret, ia dikenakan biaya tambahan sebesar ৳150 atau sekitar Rp20 ribu dari harga tiket resmi ৳350 sekitar Rp47 ribu. Ia juga menyebut bahwa harga tiket tidak dicantumkan pada karcis yang diterimanya.
"Pada 21 Maret, saat saya mengirim keluarga saya pulang, operator bus hanya mengenakan biaya ৳350 sekitar Rp47 ribu. Tapi kali ini, mereka menaikkan harga tanpa penjelasan," ujarnya.
Menurut Mosharraf Hossain, General Manager Hanif Paribahan, jumlah penumpang yang meninggalkan Dhaka masih rendah pada 24 Maret. Namun, ia memperkirakan lonjakan akan terjadi mulai Kamis (27/3).
Suvankar Ghosh, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemilik Bus dan Truk Bangladesh, mengatakan bahwa puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 25, 27, dan 29 Maret. Penutupan pabrik garmen pada 29 Maret juga berpotensi meningkatkan kepadatan lalu lintas di Savar, Ashulia, dan Gazipur.
Menanggapi hal ini, Suvankar mengatakan bahwa mereka telah meminta pengamanan dari pihak kepolisian untuk menjamin keselamatan penumpang. Ia juga mengimbau pemilik bus agar menutup pintu kendaraan pada malam hari guna mencegah insiden yang tidak diinginkan.
Terkait dengan adanya kenaikan tarif tiket oleh sejumlah operator bus, Suvankar menyebut bahwa mereka tidak bisa mengontrol harga tiket untuk bus AC karena tidak ada tarif tetap. Namun, mereka akan mengambil tindakan terhadap bus non-AC yang terbukti melakukan pelanggaran.
Keberangkatan Penumpang dengan Kereta Api
Sementara itu, ribuan warga mulai meninggalkan Dhaka dengan kereta api setelah Bangladesh Railway memulai layanan khusus Lebaran sejak kemarin.
Sebagian besar kereta berangkat dari Stasiun Kereta Api Kamalapur tepat waktu dengan pengamanan ketat dan pemeriksaan tiket yang diperketat. Hingga pukul 13.00 waktu setempat, sebanyak 18 kereta antar kota telah berangkat, meskipun dua diantaranya mengalami keterlambatan.
Burimari Express berangkat dengan keterlambatan satu setengah jam, sementara Egaro Sindhur Express mengalami keterlambatan satu jam, kata Kepala Stasiun Anwar Hossain.
Secara keseluruhan, sebanyak 68 kereta dijadwalkan berangkat dari Dhaka kemarin, termasuk 43 kereta antar kota.
Advertisement
