Hari Kesadaran Anosmia 27 Februari, Ketahui Penyebab dan Gejala Anosmia

Pada beberapa kasus, penyebab anosmia juga dipicu oleh penyumbatan di rongga hidung yang terkait dengan tumor, polip hidung, dan kelainan tulang hidung.

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 27 Feb 2025, 17:00 WIB
Diterbitkan 27 Feb 2025, 17:00 WIB
2 Terapi Sederhana untuk Pulihkan Indra Penciuman Akibat Covid-19
Anosmia atau kehilangan indra penciuman menjadi salah satu gejala Covid-19. Simak cara mengatasinya di sini. (FOTO: Unsplash.com/Elly Johnson).... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Hari Kesadaran Anosmia atau Anosmia Awareness Day diperingati setiap 27 Februari. Sesuai namanya, peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap Anosmia, yakni kondisi medis atau gangguan pada indra penciuman yang cukup mengganggu.

Mengutip dari National Today, peringatan Hari Kesadaran Anosmia pertama kali dicanangkan oleh Daniel Schein pada 2012. Ia merupakan salah satu penderita anosmia yang sudah didiagnosis sejak masih duduk di kelas lima sekolah dasar.

Pada 2011, Schein baru memutuskan untuk meneliti tentang Anosmia hingga akhirnya mendirikan organisasi bernama Anosmia Awareness.

Ini adalah organisasi nirlaba untuk menyebarkan kesadaran bagi mereka yang kehilangan indra penciuman. Mereka juga dapat mendukung pusat penelitian di seluruh dunia untuk meneliti pilihan pengobatan bagi penderita anosmia.

Schein juga membentuk komunitas di media sosial Facebook hingga menggandeng berbagai institusi dan lembaga yang menelaah tentang rasa dan penciuman. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran akan anosmia.

Penyebab Anosmia

Anosmia bisa terjadi karena beberapa kondisi medis, seperti hidung tersumbat, flu, influenza, sinusitis, alergi, maupun kebiasaan merokok. Pada beberapa kasus, penyebab anosmia juga dipicu oleh penyumbatan di rongga hidung yang terkait dengan tumor, polip hidung, dan kelainan tulang hidung.

Pada kasus yang lebih parah, anosmia bisa terjadi akibat kerusakan pada sistem saraf dan otak, baik yang bersifat sementara maupun permanen. Kondisi ini umumnya terkait dengan diabetes, bedah otak, tumor otak, cedera kepala, proses penuaan, aneurisma otak, sindrom kallmann, sindrom klinefelter, alzheimer, parkinson, huntington, kekurangan nutrisi (zinc), efek samping obat-obatan, dan lain sebagainya.

Selain itu, anosmia yang berkaitan dengan kerusakan di sistem saraf dan otak bisa juga disebabkan oleh penyakit paget, sindrom sjogren, multiple sclerosis, skizofrenia, hingga infeksi virus covid-19. Namun, anosmia karena covid-19 umumnya hanya bersifat sementara.

Gejala Anosmia

Seperti dikatakan sebelumnya, anosmia adalah kondisi saat seseorang tidak mampu atau tidak peka terhadap aroma tertentu. Jika kondisi ini terjadi tanpa dibarengi flu atau pilek, sebaiknya segera hubungi dokter untuk dilakukan pemeriksaan. 

Beberapa gejala penyerta yang kerap dialami penderita anosmia adalah kepala pusing, bicara tidak jelas, kehilangan indra perasa, dan tubuh terasa lemas. Nantinya, dokter akan merekomendasikan untuk melakukan beberapa pemeriksaan pendukung, seperti CT Scan maupun MRI.

Penulis: Resla

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya