Bill Gates Taruh 66% Dana Yayasan di 3 Saham Ini, Mana Paling Moncer?

Bill Gates dikenal sangat dermawan. Ia adalah salah satu miliarder yang paling banyak beramal. Gates mundur dari jabatannya sebagai CEO Microsoft pada tahun 2000 untuk lebih fokus pada yayasan nirlabanya.

oleh Pipit Ika Ramadhani Diperbarui 02 Apr 2025, 17:30 WIB
Diterbitkan 02 Apr 2025, 17:30 WIB
Bill Gates
Pendiri perusahaan raksasa Microsoft, Bill Gates. Bersama mantan istrinya, Melinda Gates, ia mendirikan Bill & Melinda Gates Foundation dengan tujuan meningkatkan layanan kesehatan global dan mengurangi kemiskinan di seluruh dunia. (AFP PHOTO/SAUL LOEB)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Bill Gates adalah salah satu miliarder paling terkenal di dunia. Pendiri Microsoft ini menjadi orang pertama yang mencapai kekayaan bersih USD 100 miliar pada tahun 1999, jauh sebelum orang lain (Jeff Bezos baru mencapainya pada 2017).

Namun, Bill Gates juga dikenal sangat dermawan. Ia adalah salah satu miliarder yang paling banyak beramal. Gates mundur dari jabatannya sebagai CEO Microsoft pada tahun 2000 untuk lebih fokus pada yayasan nirlabanya.

Bersama mantan istrinya, Melinda Gates, ia mendirikan Bill & Melinda Gates Foundation dengan tujuan meningkatkan layanan kesehatan global dan mengurangi kemiskinan di seluruh dunia. Dalam 30 tahun terakhir, mereka telah menyumbangkan sekitar USD 47,7 miliar ke yayasan tersebut.

Portofolio investasi yayasan ini sangat terkonsentrasi, yang mencerminkan pengaruh Gates dan teman lamanya, Warren Buffett. Dari total aset sekitar USD 44 miliar, sekitar dua pertiganya diinvestasikan dalam hanya tiga saham.

Melansir Yahoo Finance, Rabu (2/4/2025), berikut adalah tiga saham utama yang dimiliki oleh yayasan Gates:

1. Microsoft (25%)

Saat Microsoft pertama kali melantai di bursa pada 1986, Gates memiliki 45% sahamnya. Kini, ia memiliki kurang dari 1%, karena banyak sahamnya telah disumbangkan ke yayasan. Pada 2022 saja, Gates mendonasikan saham Microsoft senilai sekitar USD 5 miliar.

Saat ini, yayasan masih memiliki sekitar 28,5 juta saham Microsoft dengan nilai sekitar USD 11,2 miliar. Saham Microsoft telah naik lebih dari 60% sejak akhir 2022, melampaui indeks S&P 500.

Keberhasilan Microsoft didorong oleh posisinya dalam bidang kecerdasan buatan (AI), terutama melalui layanan cloud Azure dan investasinya di OpenAI. Pendapatan dari layanan Azure AI naik 157% dalam setahun terakhir, dan permintaan yang terus meningkat menunjukkan potensi pertumbuhan lebih lanjut.

Selain itu, Microsoft juga mengembangkan perangkat lunak berbasis AI seperti Copilot untuk meningkatkan produktivitas di berbagai bidang, termasuk Office dan GitHub. Dengan semua keunggulan ini, saham Microsoft diperdagangkan dengan valuasi yang lebih tinggi dari rata-rata pasar, tetapi dianggap layak karena potensi pertumbuhan jangka panjangnya.

 

2. Berkshire Hathaway (24%)

Bill Gates
Pendiri perusahaan raksasa Microsoft, Bill Gates (Alex Wong/Getty Images/AFP)... Selengkapnya

Warren Buffett bukan hanya teman dan mantan pengawas yayasan Gates, tetapi juga salah satu donatur terbesarnya. Sejak 2006, ia rutin menyumbangkan saham Berkshire Hathaway kepada yayasan.

Saat ini, yayasan memiliki 19,7 juta saham kelas B Berkshire Hathaway dengan nilai sekitar USD 10,5 miliar. Saham perusahaan ini telah mencapai valuasi tertinggi sepanjang masa sebesar USD 1,15 triliun.

Keberhasilan Berkshire didorong oleh bisnis intinya, terutama di bidang asuransi, yang mencatatkan kenaikan laba operasional sebesar 27% tahun lalu. Namun, Buffett sendiri tampaknya merasa saham Berkshire sudah terlalu mahal saat ini, mengingat ia menghentikan program pembelian kembali saham sejak kuartal ketiga tahun lalu.

Dengan valuasi saham Berkshire yang kini lebih tinggi dari rata-rata historisnya, investor mungkin lebih baik menunggu harga turun sebelum membeli saham ini.

 

3. Waste Management (17%)

Bill Gates
Pendiri perusahaan raksasa Microsoft, Bill Gates (AFP PHOTO/JOSHUA LOTT)... Selengkapnya

Saham Waste Management telah lama menjadi bagian dari portofolio yayasan Gates, dan jumlahnya terus bertambah. Perusahaan ini bergerak di bisnis pengelolaan limbah, yang sifatnya stabil dan tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi ekonomi.

Yayasan memiliki 32,2 juta saham Waste Management dengan nilai sekitar USD 7,4 miliar. Berbeda dengan saham Microsoft dan Berkshire Hathaway yang sering diperjualbelikan, yayasan hampir tidak pernah menjual saham Waste Management, menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap bisnis ini.

Waste Management adalah perusahaan pengelolaan sampah terbesar di AS, dengan jaringan rute pengumpulan yang sangat efisien. Perusahaan ini juga agresif dalam ekspansi, termasuk akuisisi perusahaan pengelolaan limbah medis, Stericycle.

Pada 2025, perusahaan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 16,4%, dengan sebagian besar berasal dari akuisisi. Selain itu, Waste Management memiliki keunggulan besar karena menguasai banyak tempat pembuangan akhir (landfill), yang sangat sulit diduplikasi oleh pesaing karena regulasi ketat.

Dengan valuasi yang cukup wajar dan prospek bisnis yang stabil, saham Waste Management menjadi pilihan yang menarik bagi investor yang mencari investasi defensif di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya