Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan antariksa swasta Intuitive Machines kembali mengirim wahana pendarat ke Bulan, kali ini menargetkan daerah dekat kutub selatan dengan tujuan eksplorasi yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Dikutip dari VOA Indonesia, Kamis (27/2/2025), wahana bernama Athena ini lepas landas pada Rabu (26/2) menggunakan roket SpaceX dari Kennedy Space Center milik NASA, menempuh jalur cepat menuju Bulan dengan perkiraan pendaratan pada 6 Maret 2025.
Advertisement
Baca Juga
Misi ini menjadi bagian dari gelombang eksplorasi Bulan yang semakin intens. Sebelumnya, dua perusahaan dari AS dan Jepang juga mengirim wahana pendarat mereka ke Bulan menggunakan roket yang sama. Bahkan, Firefly Aerospace yang berbasis di Texas diperkirakan akan tiba lebih dulu akhir pekan ini.
Advertisement
Bukan pertama kalinya Intuitive Machines mencoba mendaratkan wahana di Bulan. Tahun lalu, perusahaan ini berhasil membawa AS kembali ke permukaan Bulan setelah lebih dari 50 tahun. Namun, misi tersebut mengalami kendala teknis, menyebabkan wahana pendarat terbalik setelah mendarat.
Kini, perusahaan asal Texas itu telah melakukan berbagai perbaikan, termasuk meningkatkan sistem pendaratan. Pendaratan yang sukses sangat penting, terutama karena wahana ini membawa eksperimen ilmiah senilai puluhan juta dolar untuk NASA. Salah satunya adalah bor khusus yang dirancang untuk mengambil sampel tanah di bawah permukaan Bulan.
"Tentu saja, kita kali ini akan lebih baik daripada sebelumnya. Namun, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi," ujar Trent Martin, Wakil Presiden Senior Sistem Antariksa Intuitive Machines.
Ini adalah klub yang teramat elit. Hanya lima negara yang berhasil mendarat di Bulan selama beberapa dekade: Rusia, AS, China, India, dan Jepang. Bulan dipenuhi dengan puing-puing dari banyak kegagalan di masa lalu.
Menjelajahi Kawah Gelap di Bulan
Athena, yang memiliki tinggi 4,7 meter, akan mendarat sekitar 160 kilometer dari kutub selatan Bulan. Salah satu misi utamanya adalah mengirim pesawat nirawak bernama Grace ke dalam kawah gelap di dekat lokasi pendaratan.
Pesawat Grace, yang dinamai sesuai pelopor pemrograman komputer Grace Hopper, akan melakukan serangkaian uji lompatan menggunakan pendorong berbahan bakar hidrazin serta sistem navigasi berbasis kamera dan laser. Jika semuanya berjalan lancar, wahana ini akan masuk ke dalam kawah berkedalaman sekitar 20 meter untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut.
Para ilmuwan berharap bisa mendapatkan pengukuran langsung mengenai keberadaan es di dasar kawah, dengan menggunakan peralatan ilmiah dari Hungaria dan Jerman. Ini menjadi langkah penting dalam eksplorasi Bulan, mengingat es di kawah-kawah ini berpotensi digunakan sebagai sumber air minum, oksigen, dan bahkan bahan bakar roket bagi misi luar angkasa di masa depan.
Advertisement
