Sulap Rumah Jadi Arena Liburan, Solusi Plesir Aman di Masa Pandemi COVID-19

Berlibur adalah kebutuhan setiap orang khususnya setelah melakukan kegiatan melelahkan. Namun, di masa pandemi COVID-19 acara berlibur perlu dipikirkan dengan matang agar tidak merugikan diri sendiri dan pihak lain.

oleh Ade Nasihudin Al Ansori diperbarui 01 Nov 2020, 06:00 WIB
Diterbitkan 01 Nov 2020, 06:00 WIB
ilustrasi berkumpul dengan keluarga saat buka bersama/pexels
ilustrasi berkumpul dengan keluarga selama liburan di masa pandemi COVID-19/pexels

Liputan6.com, Jakarta Berlibur adalah kebutuhan setiap orang khususnya setelah melakukan kegiatan harian yang melelahkan. Namun, di masa pandemi COVID-19 berlibur perlu dipikirkan dengan matang agar tidak merugikan diri sendiri dan pihak lain.

Menurut psikolog klinis forensik Dra Kasandra Putranto, liburan identik dengan perpindahan. Baik perpindahan ke luar negeri, kota, desa, maupun keluar rumah karena konteksnya mengubah suasana. Dalam memenuhi kebutuhan berlibur tanpa harus menambah risiko tertular virus, Kasandra menyarankan untuk mengubah pola pikir. Segala sesuatu bermula dari pikiran.

“Sekarang bagaimana perubahan suasana itu kita buat dalam kepala kita. Jangan sampai karena berlibur, kewaspadaan kita jadi berkurang,” ujar Kasandra dalam acara bincang-bincang bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sabtu (31/10/2020).

Mengubah pola pikir liburan bisa dimulai dengan menarik suasana liburan ke dalam rumah. “Kalau perlu kita ubah (dekorasi) suasana rumah menjadi suasana liburan. Kemah saja bisa di dalam rumah.”

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Simak Video Berikut Ini:


Kasus Stres Selama Pandemi

Kasandra juga menyampaikan data dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia yang telah menyediakan layanan daring gratis selama tujuh bulan terakhir. Menurut data tersebut, ada hampir 15.000 pasien untuk masalah stres.

“Yang paling banyak memang orang dewasa sekitar 10 ribu termasuk lansia, anak remaja sekitar 5 ribu orang dan enam masalah yang ditemukan adalah yang pertama hambatan belajar. Jadi stres karena belajar. Setelah belajar mereka pasti ingin berlibur, lepas dari rutinitas sehari-hari.”

Masalah kedua adalah keluhan stres umum, ketiga keluhan cemas, keempat gangguan cemas itu sendiri, kelima mood swing, dan keenam gangguan psikosomatis.

“Ada fakta yang ditemukan, permintaan konseling pasien itu turun pada bulan Mei-Juni yaitu pada saat bulan puasa dan hari raya. Justru ternyata terbukti di masa itu masyarakat bisa menurunkan aktivitas. Tapi mulai masa liburan stres itu mulai meningkat lagi karena mereka ingin liburan tapi tidak bisa jadi malah tambah stres.”

Bahkan, selain pasien-pasien baru, pasien lama pun kembali lagi dengan keluhan serupa atau kambuh seperti disampaikan Kasandra.


Infografis COVID-19

Infografis 3 Hormon Bahagia Jaga Imunitas Tubuh dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 3 Hormon Bahagia Jaga Imunitas Tubuh dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya