Cara Menyapih Anak ala Ibu Betawi Tempo Dulu

Menyapih biasanya dilakukan saat usia anak menginjak dua tahun. Namun, ada pula yang melakukannya lebih awal sebelum si anak berusia dua tahun.

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 31 Mar 2025, 20:00 WIB
Diterbitkan 31 Mar 2025, 20:00 WIB
cara menyapih anak
cara menyapih anak ©Ilustrasi dibuat AI... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Menyapih adalah proses penghentian pemberian ASI saat usia anak sudah cukup. Masyarakat Betawi tempo dulu memiliki cara unik untuk menyapih anak.

Menyapih biasanya dilakukan saat usia anak menginjak dua tahun. Namun, ada pula yang melakukannya lebih awal sebelum si anak berusia dua tahun.

Mengutip dari Seni & Budaya Betawi, menyapih bagi masyarakat Betawi tempo dulu harus dilakukan melalui berbagai tradisi. Konon, nyapih atau sapih dalam masyarakat Betawi tempo dulu tak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Dahulu, seorang ibu harus meminta bantuan ke dukun beranak untuk menyapih anaknya. Menariknya lagi, si ibu akan datang ke dukun beranak pada hari Jumat.

Menurut kepercayaan orang Betawi, Jumat adalah sayyidul ayyam penghulu hari-hari. Hal itu karena banyaknya keistimewaan pada hari Jumat.

Saat datang ke dukun beranak, si ibu juga harus membawa teh, gula, serta buah-buahan untuk keperluan anak yang akan disapih. Nantinya, teh dan gula tersebut akan dibacakan mantra di pangkeng oleh dukun.

Setelahnya, teh dan gula yang telah didoakan akan diberikan lagi pada sang ibu. Saat malam tiba dan si anak menangis meminta susu, maka ibu atau bapak harus membuatkan teh dari bahan tersebut.

Selain membacakan mantra atau jampi-jampi, dukun beranak juga akan membuat ramuan obat oles berbahan daun sirih, kapur sirih, dan gambir. Obat oles ini nantinya dioleskan di puting sekitar payudara.

Sering pula menyapih tidak berjalan mulus karena tak jarang ada bayi yang tidak peduli dengan rasa obat olesan. Saat inilah dukun akan mencari formula bahan olesan baru untuk menyapih anak.

Salah satu pesan yang ditekankan oleh dukun beranak jika ingin menyapih adalah harus tega. Selain itu, ada mitos menyapih lainnya yang saat itu juga kerap dilakukan, yakni menutupi payudara dengan celana dalam suami agar tidak bengkak karena terlalu banyak air susu yang tidak dikeluarkan.

Setelah proses menyapih berhasil, si ibu akan datang kembai ke dukun beranak untuk 'mulangin syarat'. Ia akan datang dengan membawa nasi, pesmol bandeng, semur daging, opor ayam, acar kuning, dan kerupuk udang. Selain itu, ada juga bawaan lain berupa pisang ambon atau raja serta kue-kue tradisional Betawi, salah satunya apem.

Penulis: Resla

Promosi 1

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya