Ada Momentum Lebaran, Fundamental Ekonomi RI Semakin Menguat?

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada Desember 2024 hingga momentum lebaran tahun 2025 menunjukkan fundamental yang jauh lebih kuat, dibandingkan saat krisis ekonomi tahun 1998 dan krisis keuangan global 2008.

oleh Tira Santia Diperbarui 01 Apr 2025, 07:00 WIB
Diterbitkan 01 Apr 2025, 07:00 WIB
Stasiun Pasar Senen Dipadati Pemudik
Pada Rabu (26/3/2025), Stasiun Gambir, Jakarta mencatat angka keberangkatan sekitar 98 persen dari kapasitas 21.252 tiket yang dijual. (Liputan6.com/Herman Zakharia)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia pada Desember 2024 hingga momentum lebaran tahun 2025 menunjukkan fundamental yang jauh lebih kuat, dibandingkan saat krisis ekonomi tahun 1998 dan krisis keuangan global 2008.

"Kondisi ekonomi Indonesia saat ini (Desember 2024–awal 2025) menunjukkan fundamental yang jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis ekonomi tahun 1998 dan krisis keuangan global 2008," kata Josua kepada Liputan6.com, Senin (31/3/2025).

Menurutnya, dengan berbagai indikator ekonomi yang lebih stabil, Indonesia berada dalam posisi yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan ekonomi global.

Hal itu tercermin dari inflasi dan Stabilitas Harga. Inflasi saat ini berada pada level yang sangat rendah dan terkendali, bahkan mencatatkan deflasi sebesar -0,09% (yoy).

Angka ini jauh lebih baik dibandingkan dengan inflasi tinggi 82,4% pada tahun 1998 dan 11,1% pada tahun 2008. Kondisi ini mencerminkan keberhasilan kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga stabilitas harga, serta efektivitas pengendalian harga bahan pokok dan energi yang dilakukan oleh pemerintah.

Selain itu, nilai tukar rupiah juga relatif stabil dengan depresiasi hanya -1,06% secara year-to-date hingga Februari 2025. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan pelemahan drastis -197% pada tahun 1998 dan -35% pada tahun 2008.

Stabilitas ini mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat, didukung oleh aliran modal asing yang tetap terjaga serta kebijakan Bank Indonesia yang responsif dalam menjaga keseimbangan pasar valuta asing.

Selain itu, stabilitas sektor keuangan juga turut terjaga, yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah di level 2,08%. Angka ini berada di bawah ambang batas aman 5% dan jauh lebih baik dibandingkan 30% pada tahun 1998 maupun 3,8% pada tahun 2008.

"Stabilitas sektor keuangan turut terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang rendah di level 2,08%, di bawah ambang batas aman 5%, dan jauh lebih baik dibandingkan 30% pada 1998 maupun 3,8% pada 2008," ujarnya.

 

Ketahanan Sektor Eksternal

Nilai Tukar Rupiah Menguat Atas Dolar
Teller tengah menghitung mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (Liputan6.com/Angga Yuniar)... Selengkapnya

Lebih lanjut, Josua menyebut bahwa ketahanan sektor eksternal semakin kuat dengan cadangan devisa yang mencapai USD 156,1 miliar. Jumlah ini cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, jauh meningkat dari USD 17,4 miliar pada tahun 1998 dan USD 50,2 miliar pada tahun 2008.

"Ketahanan sektor eksternal semakin kuat dengan cadangan devisa yang mencapai USD 156,1 miliar, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri," katanya.

Selain itu, rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa juga menurun menjadi 2,0xdibandingkan 8,6x pada tahun 1998 dan 3,1x pada tahun 2008.

Hal ini mencerminkan kemampuan Indonesia dalam mengelola kewajiban luar negerinya secara lebih baik dan meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap guncangan eksternal.

 

Kondisi Fiskal yang Terkelola dengan Baik

dolar ke rupiah
Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, selalu mengalami perubahan setiap saat terkadang melemah terkadang juga dapat menguat.... Selengkapnya

Di sisi fiskal, rasio utang pemerintah terhadap PDB tetap terjaga di angka 39,7%, jauh lebih rendah dibandingkan 100% pada tahun 1998, meskipun sedikit lebih tinggi dari 27,4% pada tahun 2008.

Begitu pula, rasio utang luar negeri terhadap PDB menurun signifikan menjadi 30,4%, dari 116,8% pada tahun 1998 dan 33,2% pada tahun 2008. Rasio ini menunjukkan bahwa beban utang pemerintah masih dalam batas yang aman dan terkendali, sehingga ruang fiskal tetap tersedia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Secara keseluruhan, Indonesia saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih siap dan resilien dalam menghadapi tekanan global, dengan fondasi ekonomi yang solid dan kebijakan yang relatif terjaga," ujarnya.

Dengan berbagai indikator yang menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan periode krisis sebelumnya, optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan tetap tinggi.

Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan terus menjaga stabilitas ekonomi dan melakukan reformasi yang diperlukan untuk memperkuat daya saing serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya