AS Klaim Rusia-Ukraina Capai Kesepakatan Gencatan Senjata, tapi Kremlin Malah Ajukan Persyaratan yang Ditolak Zelenskyy

AS di era Trump melunakkan retorikanya terhadap Rusia. Utusan Trump, Steve Witkoff, bahkan menyatakan dia tidak menganggap Putin sebagai orang jahat — pernyataan yang mencemaskan pejabat Eropa yang memandang pemimpin Rusia sebagai musuh berbahaya.

oleh Khairisa Ferida Diperbarui 26 Mar 2025, 09:00 WIB
Diterbitkan 26 Mar 2025, 09:00 WIB
Ilustrasi perang Rusia-Ukraina.
Ilustrasi perang Rusia-Ukraina. (Dok. Unsplash/zalab8)... Selengkapnya

Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat (AS) pada Selasa (25/3/2025), menyatakan berhasil memediasi dua kesepakatan terpisah dengan Ukraina dan Rusia untuk menghentikan serangan di Laut Hitam dan terhadap infrastruktur energi. Sebagai bagian dari kesepakatan, AS sepakat mendorong pencabutan sebagian sanksi terhadap Rusia—langkah yang dinilai sebagai bentuk dukungan tidak langsung terhadap Rusia.

Ini menjadi komitmen formal pertama antara pihak-pihak yang bertikai sejak Donald Trump dilantik - sebuah terobosan yang sejalan dengan upayanya mengakhiri perang dan membangun hubungan lebih dekat dengan Moskow, meski menuai kekhawatiran Kyiv dan sekutu Eropa.

Kesepakatan AS-Rusia mencakup konsesi lebih besar dibanding dengan Ukraina, termasuk janji AS untuk mendukung pencabutan sanksi internasional atas ekspor pertanian dan pupuk Rusia - tuntutan utama Rusia yang selama ini belum terpenuhi.

Namun, Kremlin bersikeras kesepakatan Laut Hitam hanya berlaku jika akses beberapa bank Rusia ke sistem keuangan internasional dipulihkan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menolak persyaratan itu, menegaskan kesepakatan tidak mengikatkan pencabutan sanksi sebagai prasyarat.

"Dengan sangat menyesal, bahkan sekarang - di hari perundingan ini pun - kita sudah bisa melihat bagaimana Rusia mulai memanipulasi," ujar Zelenskyy seperti dikutip dari CNA. "Mereka dengan sengaja memelintir isi kesepakatan dan pada hakikatnya sedang menipu para mediator kita maupun masyarakat internasional."

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, "Kami butuh jaminan yang jelas. Dan mengingat pengalaman buruk kesepakatan dengan Kyiv sebelumnya, satu-satunya jaminan adalah perintah langsung dari Washington kepada Zelenskyy dan timnya untuk mematuhi kesepakatan."

Zelenskyy menyatakan bahwa gencatan senjata akan segera berlaku dan jika Rusia melanggarnya, dia akan meminta Trump untuk memberlakukan sanksi tambahan dan meningkatkan pasokan senjata ke Ukraina.

"Kami tidak percaya pada Rusia, tapi kami akan bersikap konstruktif," ujarnya.

Kesepakatan ini tercapai setelah pembicaraan paralel di Arab Saudi, menyusul telepon terpisah Trump dengan Zelenskyy dan Vladimir Putin pekan lalu. Putin menolak proposal Trump untuk gencatan senjata penuh selama 30 hari, yang sebelumnya didukung Ukraina.

"Kami membuat banyak kemajuan," kata Trump kepada wartawan pada Selasa, sembari menambahkan bahwa ada 'permusuhan besar' dalam perundingan, namun dia yakin dapat menghentikan perang.

Menteri Pertahanan Ukraina Rustem Umerov mengungkapkan Kyiv akan menganggap setiap pergerakan kapal militer Rusia di luar bagian timur Laut Hitam sebagai pelanggaran dan ancaman. Dalam kasus itu, Ukraina berhak penuh untuk membela diri.

Kesepakatan yang Terburu-buru

Kondisi Pulau Ular yang Berhasil Kembali Direbut Ukraina dari Rusia
Tentara Ukraina berdiri dengan latar belakang helikopter militer Rusia yang rusak di Pulau Ular, Laut Hitam, Ukraina, 18 Desember 2022. Pasukan Rusia menduduki pulau itu pada awal-awal invasinya ke Ukraina, namun akhirnya mundur beberapa bulan kemudian. (AP Photo/Michael Shtekel)... Selengkapnya

Sepanjang konflik, Rusia kerap menyerang infrastruktur energi Ukraina menggunakan rudal dan drone, dengan dalih fasilitas sipil tersebut mendukung upaya perang Kyiv. Sebagai respons, Ukraina mengintensifkan serangan jarak jauh ke kilang minyak dan gas Rusia yang menjadi sumber pendanaan dan pasokan bahan bakar militer negara itu.

Mengenai gencatan senjata, Kremlin menyatakan jeda serangan energi akan berlaku selama 30 hari sejak 18 Maret, tanggal ketika Putin pertama kali membahas hal ini dengan Trump. Namun, Ukraina menegaskan baru akan menerima jeda setelah tercapai kesepakatan formal.

Adapun kesepakatan maritim menyasar isu krusial di awal perang ketika blokade Rusia terhadap pelabuhan Ukraina - salah satu eksportir gandum terbesar dunia - memperparah krisis pangan global. Pasca keberhasilan serangan Ukraina yang memaksa Rusia menarik armadanya dari Laut Hitam timur, aktivitas pelabuhan Ukraina perlahan pulih mendekati level pra-perang, meski masih rentan serangan udara.

Persyaratan Rusia terkait pencabutan sanksi, termasuk pemulihan akses bank pertaniannya ke sistem SWIFT, memerlukan persetujuan Eropa. Sementara Trump sendiri mendorong penyelesaian cepat perang yang dia janjikan dalam kampanye, dengan pendekatan lebih akomodatif terhadap Rusia yang diklaim dapat membuka peluang bisnis.

Ukraina dan sekutu Eropa-nya cemas bahwa kesepakatan terburu-buru yang didorong AS akan mengorbankan keamanan mereka dan memaksa Ukraina menerima tuntutan Rusia, termasuk meninggalkan ambisi NATO dan menyerahkan wilayah sengketa.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya