Kenapa Banyak Orang Mudah Termakan Informasi Hoaks?

Otak dapat terhubung untuk mempercayai informasi secara otomatis, bahkan jika itu hoaks. Kenapa?

oleh Liputan6.com diperbarui 20 Feb 2020, 10:00 WIB
Diterbitkan 20 Feb 2020, 10:00 WIB
Ilustrasi hoaks
Ilustrasi hoaks. (via: istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Otak dapat terhubung untuk mempercayai informasi secara otomatis, bahkan jika itu hoaks. Ketika mendengar informasi baru, fakta-fakta baru tersebut tidak mengesampingkan apa yang sudah kita ketahui sebelumnya.

Munculnya hoaks hadir dari informasi baru dan lama yang hidup bersama dalam pikiran seseorang, dan beberapa faktor menentukan informasi mana yang akan dipakai ketika suatu situasi muncul. 

Sekalipun terbiasa mengetahui kebenaran informasi, otak tetap dapat mengulang informasi palsu yang bertentangan dengan fakta. Hal ini terjadi karena informasi tersebut lebih segar di masuk pikiran, dan ingatan jangka pendek lebih mudah bagi otak kita untuk diakses daripada fakta yang sudah didengar lebih lama. 

Diwartakan dari The Healthy, profesor psikologi dan pendidikan di Universitas Northwestern, David Rapp menuturkan bahwa seseorang harus berpikir lebih jauh untuk dapat mengingat pengetahuan sebelumnya, sehingga orang akan sering mengabaikan fakta-fakta yang mendukung informasi hoaks.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Simak Video Menarik Berikut:


Perlu mengecek informasi mencurigakan

Hoaks
Ilustrasi hoaks (iStockPhoto)

Seseorang juga cenderung untuk mempertimbangkan fakta yang tampaknya lebih masuk akal. Seringkali, hal itu berarti mereka lebih cocok dengan apa yang ingin mereka percayai, yang dapat menjelaskan mengapa orang percaya kepada informasi yang hoaks.

Segala sesuatunya menjadi lebih rumit ketika informasi tersebut merupakan campuran antara benar dan salah. "Itu menambah kerumitan lain, yaitu kita menyandingkan informasi yang merupakan campuran antara benar dan salah,” kata Rapp, yang menerbitkan artikel mengenai informasi hoaks dalam jurnal Current Directions in Popular Science.

Menurut Rapp, dengan semua informasi yang hoaks, perlu upaya ekstra untuk mengecek informasi yang sekiranya mencurigakan. 

“Cari sumber terpercaya yang mendukung apa yang mereka katakan dengan data, kutipan, dan bukti lainnya,” kata Rapp. Dia melanjutkan, "Dengan kemudahan di Internet, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.”.

 

Penulis: Lorenza Ferary

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya