Kak Seto Angkat Bicara soal Pernyataan Anies Baswedan yang Sebut Nasionalisme Tak Ditentukan dari Tempat Tinggal

Psikolog Seto Mulyadi ungkap nasionalisme yang dimiliki masyarakat Indonesia timbul bukan tanpa alasan.

oleh Ade Nasihudin Al Ansori Diperbarui 26 Feb 2025, 18:00 WIB
Diterbitkan 26 Feb 2025, 18:00 WIB
Mahasiswa Gelar Demo di Patung Kuda
(Liputan6.com/Faizal Fanani)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sempat menyinggung soal Kabur Aja Dulu. Dalam unggahan video di akun X, Anies menyampaikan bahwa mencintai Indonesia bukan sekadar merasa bangga saat keadaan negara dalam kondisi baik tapi juga dalam keadaan yang berat.

"Cinta itu diuji saat negara sedang menghadapi banyak tantangan. Wajar jika terkadang kita lelah, karena perjuangan tanpa istirahat itu bisa terasa berat," kata Anies dalam video tersebut.

Dalam video yang sama Anies juga menyebut soal nasionalisme bukan ditentukan oleh tempat tinggal seseorang tetapi saat seseorang tetap berkontribusi bagi Indonesia di mana pun berada.

"Banyak tokoh bangsa kita yang dulu lama tinggal di luar negeri, tetapi tetap memberikan kontribusi besar bagi Indonesia. Jadi, nasionalisme itu bukan soal di mana kita tinggal, tetapi bagaimana kita tetap memberi manfaat bagi negeri ini, sekecil apa pun," kata Anies.

Terkait pernyataan yang disampaikan Anies Baswedan, psikolog Seto Mulyadi mengapresiasi pandangan Anies yang dinilai jelas. Seto juga mengiyakan bahwa meski di luar negeri nasionalisme terhadap Tanah Air ada.

"Pernyataannya cukup jernih bahwa nasionalisme bisa dibangun meski mereka ada di luar negeri. Intinya jiwa nasionalisme dan cinta Tanah Air tetap ada di dalam jiwa anak-anak muda yang sekarang ada di luar negeri," kata pria yang akrab disapa Kak Seto kepada Health Liputan6.com lewat sambungan telepon, Sabtu (15/2//2025). 

Seto menambahkan, nasionalisme yang dimiliki masyarakat Indonesia timbul bukan tanpa alasan.

“Mereka melihat semua fenomena secara fair (adil), suasana rukun, gotong royong, nilai budaya tinggi itu dimiliki oleh Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara lain, termasuk negara maju,” kata 

Menurutnya, para pemuda Indonesia melihat berbagai informasi tentang negara lain, tidak hanya soal indahnya negara lain tapi juga konflik-konflik yang terjadi di dalamnya.

“Mereka melihat, beberapa informasi kan dengan mudah ditangkap oleh anak-anak muda saat ini. Bagaimana di negara lain ada kebebasan penggunaan senjata api, kerusuhan di Jerman, kerusuhan di Amerika, kerusuhan di negara lain yang dibilang maju tapi suasananya kok kacau seperti itu,” tambahnya.

 

Diperkuat dengan Nilai Agama dan Pancasila

Banyak anak muda menilai bahwa kondisi Indonesia sedang tidak stabil hingga muncul seruan #KaburAjaDulu, tapi unsur pegangan agama dan Pancasila menjadi penguat nasionalisme.

“Jadi mereka tetap menghargai Indonesia dengan NKRI-nya, dengan segala kebudayaan yang beragam, yang tetap ada unsur pegangan agama dengan Pancasila-nya dan sebagainya. Ini yang saya kira cukup banyak anak-anak Indonesia tetap bangga pada Tanah Air,” ucap Seto.

Rasa cinta Tanah Air turut diperkuat dari jalur pendidikan, yakni dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN).

“Salah satu dari lima unsur pendidikan di Indonesia adalah nasionalisme, mereka belajar soal perjuangan Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.”

 

Soal Tren #KaburAjaDulu

Terkait tren #KaburAjaDulu, Kak Seto menilai bahwa hal ini tak harus selalu dilihat dari sisi negatif. Jika ini digunakan sebagai acuan untuk mencari peluang agar sukses, maka boleh dilakukan.

“Jadi tidak sekadar putus asa terus hanya mengeluh saja, tapi ya sudah, mencari peluang. Ada yang sukses, ada yang bisa, ada yang tidak. Ada juga tokoh-tokoh muda yang tetap di Tanah Air dengan segala kreativitasnya,” jelas Seto.

Terlabih, lanjutnya, bangsa ini tengah menuju Indonesia Emas 2045. Dibutuhkan tokoh-tokoh yang dari sekarang konsisten membangun negara dengan mengumpulkan segala kekuatan.

“Jadi kita juga harus melihat bahwa kaburnya ini bukan sekadar lepas tanggung jawab terus ya udah ingin menikmati hidup yang lebih bahagia di luar, bukan ya. Ada beberapa kalangan yang justru sedang mengisi energinya dengan memanfaatkan berbagai peluang untuk bisa mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya itu di beberapa negara.”

Tujuannya tak lain untuk kembali ke Indonesia dan membangun negara ini.

“Jadi kita tidak usah langsung berpikir negatif,” saran Seto.

 

Miliki Kemiripan dengan Brain Drain

Tagar “Kabur Aja Dulu” merujuk pada keinginan anak muda untuk meninggalkan Indonesia dan mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri, baik dari segi karier, pendidikan, maupun standar hidup.

Munculnya tren ini membuat Kak Seto teringat dengan istilah Brain Drain yang merujuk pada hijrahnya orang dengan kemampuan tinggi ke negara lain karena tak terfasilitasi di negaranya.

“Saya sering dengar juga istilah Brain Drain ya, kasus-kasus fenomena kaburnya para intelektual, tokoh-tokoh muda yang energik yang kreatif tapi tidak mendapatkan tempat untuk berkembang. Akhirnya mereka mempertajam kemampuannya ke tempat lain, tapi mereka tetap memiliki nasionalisme yang tinggi sehingga pada saatnya dia akan kembali ke tanah air,” jelas Seto.

Dia memberi contoh Brain Drain dengan tokoh B. J. Habibie, Presiden ke-3 Indonesia.

“Kita lihat seperti Pak Habibie yang cukup lama di Jerman, kemudian mungkin tokoh-tokoh lain juga. Mereka nasionalismenya tetap tinggi,” kata pria yang akrab disapa Kak Seto kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Sabtu (15/2/2025).

Seto menilai, istilah tersebut memiliki kemiripan dengan #KaburAjaDulu. Jika dilihat dari pilihan katanya, ada kata “dulu” yang artinya tidak selamanya.

“Ada unsur ‘dulu’ kabur aja dulu tuh ya sementara aja, kabur dulu sebentar tapi akan kembali lagi itu yang harus digarisbawahi. Kecuali kalau tagarnya ‘Kabur Aja Ah’ jadi ya udah enggak mau balik lagi misalnya,” pungkasnya.

Infografis Heboh Tagar Kabur Aja Dulu Bergema di Medsos.
Infografis Heboh Tagar Kabur Aja Dulu Bergema di Medsos. (Liputan6.com/Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya