Profil dan Perjalanan Karier Yati Pesek, Jatuh Cinta dengan Kesenian Sejak Usia 7 Tahun

Profil lengkap Yati Pesek, seniman senior yang menghadapi hinaan Gus Miftah namun tetap berkarya di dunia hiburan.

oleh Nurul Diva diperbarui 08 Des 2024, 14:22 WIB
Diterbitkan 08 Des 2024, 14:22 WIB
MIftah bersam yati Pesek saat perfom
Pesinden Yati Pesek ternyata masih merasakan sakit hati atas perkataan Gus Miftah dua tahun lalu yang menyebutnya jelek dan hal lainnya. Hal ini terungkap melalui unggahan Erick Estrada di Instagram pada Jumat (6/12).

Liputan6.com, Jakarta Sosok seniman legendaris asal Yogyakarta bernama Yati Pesek kini menjadi perhatian warganet. Keadaan ini terjadi, setelah video lawas yang melibatkan Gus Miftah viral di media sosial karena dinilai merendahkan. Dalam rekaman tersebut, Yati menghadapi hinaan terkait fisik dan profesinya sebagai sinden oleh pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji tersebut. Hal ini langsung menimbulkan reaksi marah di kalangan warganet, karena tindakan Miftah dianggap tidak pantas sebagai pendakwah.

Sebagai pelaku seni kawakan, nama Yati Pesek memang tak boleh dianggap remeh. Perannya amat besar di kesenian wayang orang hingga ketoprak. Bahkan, banyak seniman dan budayawan yang lebih dulu eksis menaruh kagum akan kemampuan Yati yang serba bisa.

Berikut ini adalah perjalanan karier Yati Pesek dari awal hingga kini, dirangkum Liputan6 dari berbagai sumber, Minggu (8/12).

Sudah Menekuni Seni Tari Sejak Usia 7 Tahun

Yati Pesek lahir di Yogyakarta pada 8 Agustus 1952. Sejak kecil ia sudah dikenalkan dengan lingkungan yang kaya akan budaya dan seni tradisional, dari kedua orang tuanya yang merupakan pelaku karawitan. Yati kemudian memulai kariernya sebagai penari dan banyak diminta untuk menjadi pembuka kesenian wayang orang yang dulu kondang sebagai kesenian rakyat.

Kemudian, Yati juga menceburkan diri di dunia sinden dalam banyak pertunjukan wayang kulit. Keahlian vokalnya yang khas dan aksi panggungnya yang berkarakter kemudian mampu menuai decak kagum para penonton pada masa-masa itu. 

Dalam dekade-dekade awal kariernya, Yati menjelajahi berbagai peran, dari sinden hingga pelawak. Ia dikenal dengan gayanya yang autentik, menggunakan logat dan budaya Jawa untuk menciptakan daya tarik yang luas. Penampilan panggungnya sering kali diiringi oleh humor, menjadikannya salah satu seniman yang dihormati di kalangan masyarakat seni tradisional.

Banyak Menuai Kagum Pesohor Seni Kala Itu

Yati Pesek
Rekaman suara Yati Pesek berisi pengakuan sakit hati dihina Miftah Maulana di depan umum dibongkar Erick Estrada. Yati Pesek hanya diam dan memendam. (Foto: Dok. Instagram @erickestradaindonesia)

Karier Yati Pesek mencapai puncaknya ketika ia mulai berkolaborasi dengan grup-grup lawak ternama. Namanya semakin melejit setelah bergabung dengan Srimulat, grup lawak legendaris yang telah melahirkan banyak komedian besar Indonesia.

Kemampuannya untuk menyampaikan humor yang membumi namun penuh makna membuatnya direkrut oleh sutradara Arifin C Noer untuk menghidupkan suasana di film Serangan Fajar tahun 1982. Tak berselang lama, Yati juga mulai tampil di berbagai program televisi dan diundang dalang tenar, Ki Mantep Sudarsono untuk ikut pentas di Taman Ismail Marzuki di tahun 1986.

Keberhasilannya tidak hanya terbatas pada seni peran, tetapi juga sebagai pembawa acara dalam berbagai pertunjukan budaya. Ini juga yang kemudian menggerakkan seorang Bagong Kussudiardja untuk merekrutnya sebagai pemain ketoprak di program bernama Plesetan bersama Marwoto dan Daryadi

Yati Pesek Kecewa Terhadap Gus Miftah 

Sayangnya, eksistensi Yati Pesek tak selalu dihargai. Baru-baru ini, seorang pendakwah bernama Miftah dianggap merendahkan senimah lintas zaman itu. Dalam sebuah video yang viral, Gus Miftah tampak melontarkan komentar yang dinilai tidak pantas mengenai fisik dan profesi Yati dalam sebuah pertunjukan seni.

Komentar tersebut memunculkan berbagai reaksi, mulai dari empati hingga kritik terhadap sikap Gus Miftah. Meski Gus Miftah telah mengungkapkan niat untuk meminta maaf, Yati menegaskan pentingnya tata krama dan penghormatan dalam setiap interaksi.

Menurut informasi yang beredar, Yati merasa kecewa lantaran ia sudah menganggap Miftah sebagai gurunya. Yati mengungkapkan bahwa dalam berkesenian dirinya selalu menjunjung tinggi budi pekerti dan tata krama.

Dampak Kontroversi pada Karier Yati Pesek

Gus Miftah. (Foto: Dok. Instagram @gusmiftah)
Gus Miftah. (Foto: Dok. Instagram @gusmiftah)

Meski dihantam kontroversi, Yati Pesek terus menunjukkan profesionalisme dan dedikasinya dalam dunia seni. Ia tetap tampil dalam berbagai acara, membuktikan bahwa ia mampu menghadapi tantangan dengan keteguhan hati.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa seniman, terutama yang berasal dari latar belakang tradisional, masih menghadapi stereotip dan stigma di masyarakat. Namun, Yati memilih untuk menjadikan insiden ini sebagai motivasi untuk terus berkarya dan menginspirasi generasi muda.

Melalui perjalanan kariernya, Yati telah membuktikan bahwa seni adalah sarana untuk menyampaikan pesan, menghibur, dan membangun jembatan antara generasi.

Pelajaran dari Perjalanan Karier Yati Pesek

Perjalanan hidup Yati Pesek menggambarkan betapa pentingnya menghormati seni tradisional dan para pelakunya. Ia adalah simbol ketekunan, dedikasi, dan kemampuan untuk beradaptasi dalam berbagai situasi, baik itu di panggung tradisional maupun modern.

Kisahnya juga mengingatkan kita bahwa kritik dan penghinaan tidak seharusnya menghapus kontribusi besar seorang seniman terhadap budaya dan masyarakat. Sebaliknya, insiden ini menjadi peluang bagi kita untuk lebih menghargai seni tradisional dan peran perempuan di dalamnya.

FAQ: Pertanyaan Seputar Yati Pesek

Q: Apa peran utama Yati Pesek dalam dunia seni?

A: Yati Pesek dikenal sebagai sinden dan komedian, yang memadukan seni tradisional dengan hiburan modern.

Q: Bagaimana reaksi Yati Pesek terhadap hinaan Gus Miftah?

A: Yati menyatakan rasa sakit hatinya namun tetap mengedepankan tata krama dalam merespons insiden tersebut.

Q: Apa yang membuat Yati Pesek bertahan di dunia hiburan?

A: Kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai media, dari panggung tradisional hingga televisi, menjadi kunci keberhasilannya.

 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Video Terkini

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya