Liputan6.com, Jakarta- Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara bersedekah, membantu sesama, atau melakukan kebaikan lainnya. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu keburukan yang terselubung.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menjelaskan bahwa keburukan tidak selalu berupa tindakan nyata yang merugikan orang lain. Ada bentuk keburukan yang lebih halus dan sering tidak disadari, yaitu cara berpikir yang tampak baik, tetapi sebenarnya bisa membahayakan orang lain.
"Saat kita tidak bisa berbuat baik aktif, misalnya nggak bisa sedekah, nggak bisa menolong orang, setidaknya keburukan kita tidak menimpa orang lain," ujar Gus Baha dalam ceramahnya, yang dinukil darii kanal YouTube @gondelanulama.
Advertisement
Gus Baha mencontohkan bahwa keburukan terselubung bisa muncul dalam pikiran yang menurut diri sendiri tampak mulia, tetapi sebenarnya merugikan orang lain.
Sebagai contoh, seseorang bisa saja berpikir ingin menjadi kaya raya agar bisa menjadi dermawan. Secara sekilas, ini tampak sebagai niat yang baik. Namun, ada sisi lain yang jarang disadari dalam pemikiran seperti ini.
Menurut Gus Baha, ketika seseorang berambisi menjadi kaya agar bisa bersedekah, secara tidak langsung orang tersebut membayangkan bahwa orang lain membutuhkan kedermawanannya. Padahal, orang lain juga mungkin memiliki ambisi yang sama untuk menjadi kaya dan tidak ingin menerima bantuan.
Baca Juga
Simak Video Pilihan Ini:
Kebaikan Subjektif
"Misalnya kita punya pikiran ingin jadi orang kaya raya yang dermawan. Itu artinya, kan, pikiran baik karena ingin jadi dermawan. Tapi artinya bayangkan orang lain semua butuh derma kamu. Mana mau orang lain kamu bayangkan miskin butuh derma kamu?" jelasnya.
Pemikiran seperti ini disebut sebagai kebaikan yang subjektif, karena seseorang merasa sedang memiliki niat yang baik, padahal ada kemungkinan orang lain tidak ingin berada dalam posisi penerima bantuan.
Dalam kehidupan sosial, banyak orang terjebak dalam pola pikir bahwa membantu orang lain berarti harus berada dalam posisi yang lebih tinggi secara ekonomi atau status. Padahal, membantu tidak selalu harus dalam bentuk materi.
Gus Baha menekankan bahwa membantu sesama tidak harus menempatkan diri sebagai pihak yang lebih kuat. Terkadang, cukup dengan tidak menambah beban orang lain, seseorang sudah melakukan kebaikan yang besar.
Sikap rendah hati dan tidak menganggap diri lebih baik daripada orang lain juga menjadi bagian dari kebaikan sejati. Ketika seseorang berpikir bahwa dirinya lebih baik karena mampu membantu, itu bisa menjadi bentuk kesombongan yang terselubung.
Di sisi lain, banyak orang tanpa sadar menilai kehidupan orang lain berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Misalnya, seseorang bisa berpikir bahwa orang yang tidak memiliki banyak harta adalah orang yang membutuhkan bantuan, padahal orang tersebut mungkin merasa cukup dengan kehidupannya.
Gus Baha mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Tidak semua orang ingin mendapatkan pertolongan dalam bentuk yang kita anggap baik.
Advertisement
Pentingnya Menjaga Hati dan Pikiran
Dalam konteks ini, memahami perspektif orang lain menjadi sangat penting. Tidak semua orang yang hidup sederhana merasa dirinya miskin, dan tidak semua orang yang kaya merasa dirinya berkecukupan.
Kesadaran untuk tidak memaksakan sudut pandang sendiri kepada orang lain menjadi bagian dari adab dalam bersosialisasi. Ketika seseorang memandang orang lain dengan prasangka tertentu, itu bisa menjadi bentuk keburukan yang tidak disadari.
Keburukan terselubung juga bisa muncul dalam bentuk kebiasaan menilai orang lain secara sepihak. Seseorang bisa merasa dirinya benar hanya karena memiliki niat baik, tanpa mempertimbangkan bagaimana niat itu berdampak pada orang lain.
Sikap seperti ini bisa menyebabkan kesalahpahaman dalam hubungan sosial. Banyak konflik dalam masyarakat terjadi bukan karena niat buruk, tetapi karena cara pandang yang tidak memahami sudut pandang orang lain.
Gus Baha menekankan bahwa dalam Islam, menjaga hati dan pikiran dari kesombongan adalah hal yang sangat penting. Bahkan niat baik pun harus dikendalikan agar tidak berubah menjadi bentuk kesombongan terselubung.
Seseorang bisa merasa dirinya lebih baik karena berniat membantu orang lain, tetapi di saat yang sama, tanpa sadar ia sedang merendahkan orang lain. Oleh karena itu, introspeksi diri menjadi hal yang sangat penting.
Dalam banyak kasus, kebaikan yang hakiki adalah kebaikan yang tidak menuntut pengakuan atau balasan. Seseorang yang benar-benar ingin membantu tidak perlu merasa lebih tinggi atau lebih baik dari orang yang dibantu.
Gus Baha mengajak umat Islam untuk lebih berhati-hati dalam berpikir dan berperilaku. Tidak semua niat baik membawa kebaikan bagi orang lain, dan tidak semua bentuk pertolongan dibutuhkan oleh orang yang kita anggap perlu ditolong.
Pemahaman ini diharapkan bisa membantu seseorang dalam menjalani kehidupan sosial yang lebih harmonis. Tidak perlu selalu menjadi pahlawan bagi orang lain, cukup dengan tidak menambah beban orang lain, seseorang sudah menjalankan kebaikan yang nyata.
Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul
