Mengenal Kehidupan Suku Naulu di Dusun Sepa Maluku

Suku Naulu merupakan sekelompok masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir selatan Pulau Seram, Maluku. Tepatnya, di Dusun Sepa, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 01 Mar 2025, 00:00 WIB
Diterbitkan 01 Mar 2025, 00:00 WIB
Pantai Tujuh, Tandingan Ora di Maluku Tengah
Berlokasi tak terlalu jauh, eksotisme pantai Tujuh boleh diadu dengan Maldievs-nya Indonesia, Ora.... Selengkapnya

Liputan6.com, Maluku - Suku Naulu merupakan salah satu suku asli Maluku. Mereka masih mempertahankan beberapa tradisi klasiknya dalam kehidupan sehari-hari.

Suku Naulu merupakan sekelompok masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir selatan Pulau Seram, Maluku. Tepatnya, di Dusun Sepa, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.

Mengutip dari indonesiakaya.com, masyarakat Suku Naulu dan Suku Huaulu sebenarnya masih berada dari satu nenek moyang. Konon, mereka berasal dari satu ayah dengan ibu berbeda.

Namun karena permasalahan adat, keduanya dipisahkan ke utara dan selatan. Kedua suku ini pun masing-masing berkembang pesat menjadi Naulu dan Huaulu.

Hal ini pula yang melatarbelakangi kemiripan beberapa tradisi asli mereka. Hal ini juga terlihat dari penggunaan kain merah yang disebut kain berang oleh setiap laki-laki dewasa dalam suku tersebut.

Suku Naulu yang hidup di Dusun Sepa memiliki lokasi yang lebih dekat dengan kehidupan modern. Oleh sebab itu, mereka cenderung lebih modern dan lebih maju dalam hal pembangunan.

Dusun Sepa memiliki lima permukiman yaitu Bonara, Naulu Lama, Hauwalan, Yalahatan, dan Rohua. Meski memiliki kehidupan lebih modern, tetapi masyarakat Suku Naulu memiliki beberapa tradisi yang cukup mengerikan untuk diterapkan dalam kehidupan modern.

Salah satu tradisi Suku Naulu yang paling terkenal adalah tradisi memenggal kepala. Tradisi ini dilakukan sebagai ritual dalam beberapa upacara adat, salah satunya upacara pendirian rumah adat baru.

Mereka membutuhkan tengkorak kepala manusia sebagai ritual persembahan kepada dewa. Tradisi pemenggalan kepala juga merupakan tanda kedewasaan dari para kaum pria Naulu.

Zaman dahulu, seorang anak laki-laki harus menyerahkan sebuah kepala terpenggal kepada warga desa. Hal itu merupakan pembuktian bahwa ia sudah dewasa.

Namun saat ini, tradisi mengerikan tersebut sudah dilarang secara hukum. Pada 2005, terjadi tragedi kriminal yang berlatar belakang tradisi ini.

 

Promosi 1

Tradisi Lain

Suku Naulu juga memiliki tradisi lain yang masih bertahan hingga sekarang. Adalah mengucilkan wanita yang pertama haid dan akan melahirkan.

Terdapat sebuah bilik berukuran 2×2 meter yang disebut tikusune. Bilik ini berfungsi sebagai tempat pengasingan kaum hawa yang akan melahirkan atau mendapat menstruasi pertamanya.

Biasanya, mereka akan secara otomatis mengasingkan diri dari keluarganya dan menempati bilik tikusune. Mereka akan menetap di sana hingga masa haid maupun melahirkan selesai.

Setelah masa tersebut dilewati, mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Sebagai penyambutan, keluarga akan mengadakan pesta.

Dalam hal kepercayaan, Suku Naulu mempercayai kekuatan-kekuatan roh nenek moyang. Mereka percaya adanya pencipta yang disebut Upu Kuanahatana.

Sistem kepercayaan ini sebenarnya merupakan bagian dari animisme, yakni percaya pada kekuatan-kekuatan roh nenek moyang. Mereka percaya bahwa roh tersebut berpengaruh besar dalam kehidupan manusia, sehingga layak untuk disembah dan dipuja. Dalam kependudukan Indonesia yang modern, kepercayaan Naulu ini dianggap sebagai agama Hindu.

Keberadaan Suku Naulu dengan berbagai tradisi dan kepercayaannya merupakan bukti bahwa Indonesia memiliki ragam kebudayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. Dengan demikian, mereka akan terus ada di tengah kehidupan yang semakin modern.

Penulis: Resla

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya