ARA Melulu, Bursa Kembali Suspensi Saham DCII

Penghentian sementara perdagangan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) tersebut dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai.

oleh Pipit Ika Ramadhani Diperbarui 27 Feb 2025, 14:58 WIB
Diterbitkan 27 Feb 2025, 14:58 WIB
ARA Melulu, Bursa Kembali Suspensi Saham DCII
Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melakukan penghentian sementara (suspensi) pada saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) pada Kamis, 27 Februari 2025 sampai pengumuman lebih lanjut. (Liputan6.com/Angga Yuniar)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melakukan penghentian sementara (suspensi) pada saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) pada Kamis, 27 Februari 2025 sampai pengumuman lebih lanjut. Suspensi dilakukan sebagai bentuk perlindungan bagi investor atas terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan atas saham DCII.

Penghentian sementara perdagangan saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) tersebut dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. "Para pihak yang berkepentingan diharapkan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Perseroan," mengutip pengumuman Bursa, Kamis (27/2/2025).

Sebelumnya, Bursa telah melakukan suspensi saham DCII pada perdagangan 25 Februari 2025 dalam rangka cooling down. Suspensi saat itu dilakukan dengan tujuan untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII).

Sehari berselang, suspensi saham DCII dibuka dan kembali diperdagangkan pada Rabu, 26 Februari 2025. Namun saham DCII kembali melonjak dan sentuh auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 19,99 persen ke posisi 116.125. Dalam sepekan, DCII naik 81,45 persen dan naik 173,24 persen sejak awal tahun atau secara year to date (YTD).

Sebelum suspensi, Bursa telah mengumumkan peningkatan harga saham di luar kebiasaan (Unusual Market Activity/UMA) atas saham DCII. Catatan saja, pengumuman unusual market activity tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

Sehubungan dengan terjadinya UMA pada saham DCII, Bursa mengimbau kepada para investor untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat terkait atas permintaan konfirmasi bursa. Selain itu, juga mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya.

Investor juga diimbau untuk mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS. Serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

 

Sosok di Balik DCII

IHSG Dibuka di Dua Arah
Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)... Selengkapnya

Asal tahu saja, saham DCII saat ini menjadi yang paling mahal di Bursa Efek Indonesia. Kenaikan signifikan ini mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan pemecahan nilai saham (stock split) guna meningkatkan likuiditas perdagangan. Diketahui, Direktur Utama DCII, Otto Toto Sugiri, menyatakan bahwa rencana tersebut sedang dalam tahap penjajakan.

DCII merupakan perusahaan penyedia pusat data yang melantai di BEI pada Januari 2021 dengan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp 420 per saham. Sejak saat itu, harga sahamnya telah meningkat 27.548,81 persen, mengungguli banyak perusahaan teknologi ternama lainnya.

Otto Toto Sugiri adalah seorang pengusaha teknologi terkemuka di Indonesia, dikenal sebagai pelopor dalam industri pusat data. Lahir pada 23 September 1953 di Bandung, ia menyelesaikan pendidikan magister di bidang Teknik Komputer dari RWTH Aachen University, Jerman.

Karier Toto Sugiri dimulai pada 1983 sebagai General Manager IT di Bank Bali. Pada tahun 1989, ia mendirikan PT Sigma Cipta Caraka (Sigma), yang menjadi pionir dalam layanan teknologi informasi di Indonesia. Kemudian, pada tahun 1999, ia mendirikan Bali Camp, perusahaan pengembang perangkat lunak berorientasi global.

Pada 2011, Toto Sugiri mendirikan PT DCI Indonesia Tbk, perusahaan pusat data yang kini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.

Di bawah kepemimpinannya sebagai Direktur Utama sejak 2016, DCI Indonesia telah menyediakan lebih dari setengah kapasitas pusat data lokal di Indonesia dan menjadi pusat data Tier IV pertama di Asia Tenggara. Atas kontribusinya dalam pengembangan infrastruktur digital, ia dianugerahi Satyalancana Pembangunan di bidang Teknologi Informasi dan Digital pada 11 September 2023, serta Bintang Jasa Utama pada Agustus 2024 oleh Presiden Joko Widodo.

 

 

 

Jadi Saham Paling Mahal, DCII ARA Lagi

Sebelumnya, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) terus melanjutkan penguatan. Pada perdagangan hari ini, Senin 24 Februari 2025, saham DCII kembali sentuh auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 19,99 persen ke posisi 96.775. Dalam sepekan, saham DCII naik naik 107,23 persen dan naik 127,71 persen.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengumumkan adanya peningkatan harga saham di luar kebiasaan (Unusual Market Activity/UMA) atas saham DCII.

“Sehubungan dengan terjadinya Unusual Market Activity atas saham-saham tersebut tersebut, perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,” mengutip keterbukaan informasi Bursa.

Catatan saja, pengumuman unusual market activity tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Sehubungan dengan terjadinya UMA pada saham KOKA, Bursa mengimbau kepada para investor untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat terkait atas permintaan konfirmasi bursa.

Kaji Kembali 

Selain itu, juga mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya. Investor juga diimbau untuk mengkaji kembali rencana corporate action perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS. Serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Asal tahu saja, saham DCII saat ini menjadi yang paling mahal di Bursa Efek Indonesia. Kenaikan signifikan ini mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan pemecahan nilai saham (stock split) guna meningkatkan likuiditas perdagangan. Diketahui, Direktur Utama DCII, Otto Toto Sugiri, menyatakan bahwa rencana tersebut sedang dalam tahap penjajakan.

Asal tahu saja, DCII merupakan perusahaan penyedia pusat data yang melantai di BEI pada Januari 2021 dengan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp 420 per saham. Sejak saat itu, harga sahamnya telah meningkat 22.941,67 persen, mengungguli banyak perusahaan teknologi ternama lainnya.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global
Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)... Selengkapnya
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya