S&P 500 Ditutup Menguat, Investor Wall Street Menanti Tarif Trump

Investor saham kembali mendapat hasil yang buruk pada perekonomian hari Selasa karena ancaman tarif, dengan survei manufaktur Institute for Supply Management yang hasilnya lebih rendah dari perkiraan dan berada dalam wilayah kontraksi.

oleh Arthur Gideon Diperbarui 02 Apr 2025, 07:51 WIB
Diterbitkan 02 Apr 2025, 07:50 WIB
Wall Street
Indeks S&P 500 ditutup naik 0,38% menjadi 5.633,07. Sedangkan indeks Nasdaq Composite naik 0,87% dan berakhir pada 17.449,89. Untuk Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 11,80 poin atau 0,03% hingga ditutup pada 41.989,96. Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - S&P 500, indeks acuan di bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa yang cukup cukup bergejolak. Pelaku pasar saham Wall Street menunggu kejelasan pengenaan tarif yang akan dijalankan oleh Presiden AS Donald Trump.

Selain itu, Wall Street juga menghadapi tekanan dari data ekonomi yang lebih lemah dari yang diharapkan.

Mengutip CNBC, Rabu (2/3/2025), Indeks S&P 500 ditutup naik 0,38% menjadi 5.633,07. Sedangkan indeks Nasdaq Composite naik 0,87% dan berakhir pada 17.449,89. Untuk Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 11,80 poin atau 0,03% hingga ditutup pada 41.989,96.

Gerak S&P 500 mengikuti pola perdagangan yang sama dari hari Senin dan menyentuh titik tertingginya pada hari Selasa. Sektor barang konsumsi merupakan yang berkinerja terbaik hari ini. Saham Tesla naik 3,6%, sementara saham Nike naik 2%.

Investor kembali mendapat hasil yang buruk pada perekonomian hari Selasa karena ancaman tarif, dengan survei manufaktur Institute for Supply Management yang hasilnya lebih rendah dari perkiraan dan berada dalam wilayah kontraksi.

Biro Statistik Tenaga Kerja juga mengatakan bahwa lowongan pekerjaan bulan Februari juga sedikit di bawah perkiraan.

Pengumuman Tarif

Gedung Putih pada hari Rabu waktu setempat diperkirakan akan mengumumkan tarif timbal balik atas barang-barang dari hampir semua negara. Investor berharap pendekatan yang sempit terhadap penerapan pungutan tersebut.

Gedung Putih pada hari Selasa menegaskan bahwa tarif Trump akan berlaku segera setelah diumumkan.

"Kurangnya kepastian dan kerahasiaan telah membuat pasar menjadi gila," kata analis pasar global Freedom Capital Markets Jay Woods.

"Namun, kita mengalami koreksi, jadi perspektif adalah kuncinya," tambah dia.

 

Promosi 1

Tarif 20%

Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)
Ilustrasi wall street (Photo by Patrick Weissenberger on Unsplash)... Selengkapnya

Pada hari Selasa, The Washington Post melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk menerapkan tarif sekitar 20% untuk sebagian besar impor ke AS. Dalam laporan tersebut — yang mengutip tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut — mencatat bahwa belum ada keputusan akhir yang dibuat.

Ketidakpastian telah membuat brusa saham sangat volatil. Indeks S&P 500 pada hari Senin menyentuh level terendah dalam enam bulan sebelum pulih.

Untuk kuartal pertama, indeks tersebut turun 4,6%, sementara Nasdaq Composite turun 10%. Itu menandai kinerja kuartalan terburuk untuk kedua indeks acuan sejak 2022.

DJIA turun 1,3% selama tiga bulan pertama tahun ini.

"Meskipun risiko peristiwa yang lebih tinggi yang muncul menciptakan ruang untuk reli bantuan potensial jika tarif tidak terlalu agresif, risikonya bisa dibilang masih menurun, dengan pasar kemungkinan meremehkan risiko perdagangan," tulis asisten wakil presiden Barclays Anshul Gupta dalam catatan hari Selasa.

Roller Coaster

iIvestor saham menanti pengumuman tarif dari Presiden Donald Trump pada hari Rabu. Analis kebijakan Washington dari Raymond James, Ed Mills mengatakan ketidakpastian tidak akan hilang dengan cepat.

"Saya pikir kita akan segera menerapkan beberapa tarif, setidaknya untuk yang disebut 'dirty 15' besok, mungkin akan diperluas sedikit. Saya pikir kita juga akan mendapatkan investigasi ke seluruh dunia," kata Mills kepada "Power Lunch" CNBC pada hari Selasa.

Namun, ia menambahkan bahwa investigasi tersebut berarti bahwa" "kita berada di roller coaster itu, setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, mungkin hingga akhir tahun," tutup dia. 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya