Harga Minyak Dunia Melonjak karena Masalah Utang AS Hampir Capai Kesepakatan

Meskipun harga minyak dunia mengalami kenaikan, pelaku pasar tetap berhati-hati karena pembicaraan utang mungkin berlarut-larut dan ada kekhawatiran baru tentang kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan depan.

oleh Arthur Gideon diperbarui 27 Mei 2023, 08:40 WIB
Diterbitkan 27 Mei 2023, 08:40 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Jumat karena para pejabat Amerika Serikat (AS) yang melakukan perundingan tampaknya hampir mencapai kesepakatan mengenai plafon utang.

Kesepakatan utang AS ini menjadi titik cerah pada harga minyak dunia setelah adanya sentimen negatif dari Rusia dan Arab Saudi menjelang pertemuan kebijakan OPEC+ berikutnya.

Mengutip CNBC, Sabtu (27/5/2023), harga minyak mentah Brent naik 69 sen atau 0,9 persen menjadi USD 76,95 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 84 sen atau 1,2 persen menjadi USD 72,67 per barel.

Secara mingguan, kedua tolok ukur harga minyak ini membukukan kenaikan minggu kedua dengan Brent naik 1,7 persen sementara WTI naik 1,6 persen.

Meskipun harga minyak mentah mengalami kenaikan, pelaku pasar tetap berhati-hati karena pembicaraan utang mungkin berlarut-larut dan ada kekhawatiran baru tentang kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan depan. Jika bunga baik maka akan membebani permintaan minyak mentah.

Seorang pejabat administrasi Presiden AS Joe Biden mengatakan, meskipun ada kemungkinan negosiator akan mencapai kesepakatan untuk menaikkan plafon utang pemerintah AS sebesar USD 31,4 triliun di Jumat. Tetapi pembicaraan dapat dengan mudah berlanjut hingga akhir pekan ini.

 


Pernyataan Rusia

Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Harga minyak sempat mengalami tekanan pada perdagangan sebeliumnya setelah Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak melihat bahwa prospek pengurangan produksi OPEC+ lebih lanjut pada pertemuannya di Wina pada 4 Juni kemungkinan besar tidak akan terjadi.

Rusia cenderung membiarkan volume produksi minyak tidak berubah karena Moskow puas dengan harga dan produksi saat ini. Hal ini berdasarkan pernyataan dari tiga sumber yang mengetahui pemikiran Rusia kepada Reuters.

Tentu saja hal ini sangat kontras dengan petunjuk sebelumnya tentang kemungkinan pengurangan produksi dari Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, pemimpin de-facto Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memperingatkan penjual pendek untuk berhati-hati.

Taruhan pada jatuhnya harga minyak dunia pun telah meningkat.

“Saya pikir kita semua waspada di sini menjelang pertemuan OPEC minggu depan,” kata John Kilduff, partner di Again Capital.

 


Permintaan Bensin

Sementara itu, permintaan bensin di AS diperkirakan akan tetap kuat dengan grup AAA yang memperkirakan liburan akhir pekan Memorial Day pada 27-29 Mei akan menjadi yang tersibuk ketiga untuk perjalanan otomotif sejak 2000.

Di sisi pasokan, rig minyak AS turun lima menjadi 570 rig minggu ini, menurut laporan dari perusahaan jasa energi Baker Hughes Co. Pada bulan Mei, jumlah minyak turun 21 rig, yang merupakan penurunan bulanan terbesar sejak Juni 2020.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang ketat di Eropa telah membatasi kenaikan harga, dengan kepala Bank Sentral Belanda Klaas Knot mengatakan Bank Sentral Eropa membutuhkan setidaknya dua kenaikan suku bunga 25 basis poin lagi.

Infografis Heboh Kabar China Klaim Natuna hingga Tuntut Setop Pengeboran Migas. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Heboh Kabar China Klaim Natuna hingga Tuntut Setop Pengeboran Migas. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓
Loading

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya