Tarif Donald Trump Tebar Ketakutan, Harga Minyak Anjlok

Aturan tarif yang akan dijalankan oleh Presiden AS Donald Trump ini akan memicu perang dagang global yang lebih besar dan kemudian berdampak kepada harga minyak dunia.

oleh Arthur Gideon Diperbarui 02 Apr 2025, 08:49 WIB
Diterbitkan 02 Apr 2025, 08:40 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia
Harga minyak berjangka Brent turun 39 sen atau 0,5% menjadi USD 74,38 per barel. Harga tertinggi sesi tersebut berada di atas USD 75 per barel. Ilustrasi harga minyak dunia (dok: Foto AI)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada perdagangan hari Selasa karena para pelaku pasar bersiap menghadapi tarif timbal balik yang akan diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Rabu waktu setempat. Aturan yang akan dijalankan oleh Trump ini akan memicu perang dagang global yang lebih besar dan kemudian berdampak kepada harga minyak dunia.

Namun, ancaman Donald Trump untuk mengenakan tarif sekunder pada minyak Rusia dan menyerang Iran memicu kekhawatiran pasokan, sehingga membatasi kerugian.

Dikutip dari CNBC, Rabu (2/4/2025), harga minyak berjangka Brent turun 39 sen atau 0,5% menjadi USD 74,38 per barel. Harga tertinggi sesi tersebut berada di atas USD 75 per barel. Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 38 sen atau 0,5% menjadi USD 71,10 per barel.

Pada perdagangan hari Senin, kontrak-kontrak minyak Brent dan WTI AS berakhir pada level tertinggi dalam lima minggu.

Gedung Putih tidak memberikan perincian tentang ukuran dan cakupan tarif yang dikonfirmasi akan diberlakukan Presiden Trump pada hari Rabu.

"Pasar mulai sedikit gelisah dengan waktu kurang dari 24 jam lagi," kata Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger.

"Kita mungkin kehilangan beberapa pasokan Meksiko, Venezuela, dan Kanada, tetapi pasti ada kemungkinan bahwa penurunan permintaan dapat melampaui barel-barel tersebut," tambahnya.

Sebuah jajak pendapat yang dijalankan oleh salah satu media internasional terhadap 49 ekonom dan analis pada bulan Maret memproyeksikan bahwa harga minyak akan tetap tertekan tahun ini akibat tarif AS dan perlambatan ekonomi di India dan Tiongkok.

Sentimen ini masih diperparah dengan OPEC+ yang akan meningkatkan pasokan.

 

Promosi 1

Sanksi Iran

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)
Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)... Selengkapnya

Pertumbuhan global yang lebih lambat akan menekan permintaan bahan bakar, yang dapat mengimbangi pengurangan pasokan apa pun akibat ancaman Trump.

"Sementara sanksi yang lebih ketat terhadap Iran, Venezuela, dan Rusia dapat membatasi pasokan global, tarif AS kemungkinan akan meredam permintaan energi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, yang pada gilirannya akan memengaruhi permintaan minyak lebih jauh," kata analis SEB Ole Hvalbye.

"Akibatnya, bertaruh pada arah yang jelas bagi pasar telah - dan tetap - menantang," tambah dia. 

Presiden Trump pada hari Minggu mengatakan dia akan mengenakan tarif sekunder sebesar 25% hingga 50% pada pembeli minyak Rusia jika Moskow mencoba menghalangi upaya untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Tarif pada pembeli minyak dari Rusia, eksportir minyak terbesar kedua di dunia, akan mengganggu pasokan global dan merugikan pelanggan terbesar Moskow, Tiongkok dan India.

Trump mengancam Iran dengan tarif serupa dan juga dengan pengeboman jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih mengenai program nuklirnya.

 

Kesepakatan OPEC+

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)
Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)... Selengkapnya

Harga minyak mendapat sedikit dukungan setelah Rusia memerintahkan terminal ekspor minyak utama Kazakhstan untuk menutup dua dari tiga tambatannya di tengah kebuntuan antara Kazakhstan dan OPEC+ - Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, ditambah sekutu yang dipimpin oleh Rusia - atas kelebihan produksi.

dua sumber industri mengatakan kepada salah satu kantor berita internasional mengatakan bahwa Kazakhstan harus mulai memangkas produksi minyak sebagai akibatnya Sumber lain mengatakan pekerjaan perbaikan di terminal Konsorsium Pipa Kaspia akan memakan waktu lebih dari sebulan.

Pasar akan mengamati pertemuan komite menteri OPEC+ pada tanggal 5 April untuk meninjau kebijakan. OPEC+ berada di jalur yang tepat untuk melanjutkan kenaikan produksi sebesar 135.000 barel per hari pada bulan Mei.

OPEC+ telah menyetujui kenaikan produksi serupa untuk bulan April.

Sementara itu, lima analis yang disurvei memperkirakan rata-rata persediaan minyak mentah AS turun sekitar 2,1 juta barel dalam seminggu hingga 28 Maret.

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

Produksi Liputan6.com

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya