Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak jatuh ke wilayah negatif setelah naik satu dolar AS dalam perdagangan Rabu pekan ini. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik kepada mitra dagang sehingga memicu kekahwatiran perang dagang global dapat meredam permintaan minyak mentah.
Mengutip CNBC, Kamis (3/4/2025), harga minyak mentah Brent ditutup naik 46 sen atau 0,6 persen ke posisi USD 74,95 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 51 sen atau 0,7 persen ke posisi USD 71,71.
Baca Juga
Harga minyak mentah AS naik satu dolar AS dan kemudian berubah negatif selama konferensi pers Donald Trump pada Rabu sore. Ia mengumumkan tarif pada mitra dagang termasuk Uni Eropa, China, dan Korea Selatan.
Advertisement
Pada perdagangan Kamis, harga minyak turun USD 2 setelah pengumuman Donald Trump tersebut. Harga minyak Brent berjangka turun USD 1,97 atau 2,63 persen ke posisi USD 72,98 per barel. Harga minyak WTI berjangka terpangkas USD 1,98 atau 2,76 persen menjadi USD 69,73. Demikian mengutip Yahoo Finance, Kamis pekan ini.
Selama berminggu-minggu Donald Trump telah menggembar-gemborkan 2 April sebagai "Hari Pembebasan," yang membawa bea baru yang dapat mengguncang sistem perdagangan global.
Bagan yang mencantumkan negara dan tarif yang ditunjukkan Trump selama pengumumannya tidak merinci tarif pada Kanada dan Meksiko. Kanada mengekspor sekitar 4 juta barel minyak mentahnya per hari ke Amerika Serikat.
Kebijakan tarif Trump dapat memicu inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan sengketa perdagangan, yang kemungkinan telah membatasi kenaikan harga minyak.
Â
Â
Â
Â
Â
Resnposn Meksiko Meredakan Kekhawatiran
"Harga minyak mentah telah menghentikan reli bulan lalu, dengan Brent menemukan beberapa resistensi di atas $75, dengan fokus untuk saat ini beralih dari pengurangan pasokan yang disebabkan sanksi ke pengumuman tarif Trump dan potensi dampak negatifnya pada pertumbuhan dan permintaan," kata Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen.
Komentar dari Meksiko meredakan beberapa kekhawatiran tentang perang dagang antara kedua negara setelah Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan pada Rabu bahwa Meksiko tidak berencana untuk mengenakan tarif balasan terhadap Amerika Serikat.
Donald Trump juga mengancam akan mengenakan tarif sekunder pada minyak Rusia, dan pada Senin ia memperketat sanksi terhadap Iran sebagai bagian dari kampanye "tekanan maksimum" pemerintahannya untuk memangkas ekspornya.
Menambah gambaran pasokan global yang kompleks, Rusia, eksportir minyak terbesar kedua di dunia, pada Rabu memberlakukan pembatasan pada rute ekspor minyak utama lainnya, menangguhkan tambatan di pelabuhan Laut Hitam Novorossiisk sehari setelah membatasi pemuatan dari jaringan pipa utama Kaspia.
Â
Advertisement
Produksi Minyak Rusia
Rusia memproduksi sekitar 9 juta barel minyak per hari, atau hanya di bawah sepersepuluh dari produksi global. Pelabuhannya juga mengirimkan minyak dari negara tetangga Kazakhstan.
Sementara itu, investor pada Rabu mengabaikan sebagian besar data persediaan minyak mentah pemerintah AS yang pesimistis. Persediaan minyak mentah AS membukukan peningkatan yang sangat besar sekitar 6,2 juta barel minggu lalu, data Badan Informasi Energi menunjukkan.
"Menurut saya, laporan itu pesimis, dengan persediaan minyak mentah yang lebih besar dan total persediaan minyak bumi meningkat," kata analis UBS Giovanni Staunovo.
"Tetapi pasar menganggapnya netral, karena peningkatan minyak mentah didorong oleh peningkatan tajam dalam impor minyak mentah Kanada, kemungkinan menjelang ketakutan akan penerapan tarif baru," ia menambahkan.
