Investasi Properti Komersial Asia Pasifik Naik 23%, Bagaimana Indonesia?

Lonjakan investasi lintas negara terjadi di Asia Pasifik didukung oleh minat yang kuat terhadap aset perkantoran dan logistik dari investor asing di pasar-pasar utama seperti Australia, Jepang, dan Singapura.

oleh Arthur Gideon Diperbarui 27 Feb 2025, 18:40 WIB
Diterbitkan 27 Feb 2025, 18:40 WIB
Investasi Properti
Asia Pasifik mencatat pertumbuhan tahunan investasi properti sebesar 10% dengan volume mencapai USD 34,9 miliar pada kuartal 2024. (Dok JLL)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan konsultan properti global JLL menyebutkan bahwa investasi properti komersial di Asia Pasifik naik 23% secara tahunan (YoY) pada tahun 2024 dengan nilai mencapai USD 131,3 miliar. Angka ini investasi di 2022. Selain itu, volume investasi di kuartal IV 2024 naik 10% YoY dan mencapai USD 34,9 miliar, menandai pertumbuhan lima kuartal berturut-turut.

CEO Asia Pacific Capital Markets JLL Stuart Crow menjelaskan, ppertumbuhan tahunan selama lima kuartal berturut-turut untuk properti komersial di Asia Pasifik ini merupakan bukti dari ketahanan jangka panjang kawasan ini.

“Meskipun terdapat perbedaan di setiap pasar, investor terus menemukan peluang seiring dengan stabilnya valuasi dan pelonggaran persyaratanpinjaman," kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (27/2/2025).

"Ke depannya, kami memperkirakan 2025 akan menjadi tahun yang kuat untuk masuk ke pasar, di mana pelaku pasar yang bergerak lebih awal dapat memperoleh keuntungan dari situasi yang kurang kompetitif, terutama di sektor-sektor utama seperti perkantoran dan logistik.” kata dia.

Data JLL menunjukkan bahwa dalam setahun penuh, semua sektor properti utama mencatat pertumbuhan volume investasi, dengan volume investasi lintas negara kuartalan mencapai angka tertinggi yang tercatat sejak akhir 2021. Volume investasi lintas negara yang kuat mencapai USD 23,8 miliar pada 2024, meningkat 43% YoY dari waktu yang sama tahun lalu.

Lonjakan investasi lintas negara ini didukung oleh minat yang kuat terhadap aset perkantoran dan logistik dari investor asing di pasar-pasar utama seperti Australia, Jepang, dan Singapura.

Jepang terus menjadi pasar yang paling aktif di kawasan ini, dengan volume perdagangan mencapai USD 10,7 miliar pada kuartal IV, meningkat 145% YoY berkat tingginya permintaan untuk properti logistik dan perkantoran.

 

 

Kondisi Indonesia

Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Turun 5,6 Persen Akibat Covid-19
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)... Selengkapnya

Di Indonesia, realisasi investasi di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran masuk dalam 5 besar subsektor dengan kontribusi terbesar. Subsektor ini menyumbang Rp122,9 triliun (7,2%) dari total realisasi investasi nasional pada tahun 2024 yang mencapai Rp 1.714,2 triliun.

Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan, pertumbuhan investasi yang berkelanjutan di sektor properti Indonesia menunjukkan bahwa sektor ini tetap menarik serta mencerminkan persepsi yang baik di kalangan investor asing maupun domestik mengenai iklim investasi di Indonesia.

"Di tahun 2025, kami optimis sektor ini terus memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur serta ruang yang mendukung ekspansi bisnis dan gaya hidup yang terus berkembang,” ujar dia.

 

Sektor Perkantoran Asia Pasifik

Sektor perkantoran di Asia Pasifik terus mengalami rebound yang kuat, didorong oleh permintaan yang stabil dari para penyewa. Hal ini membantu mempertahankan momentum pertumbuhan di masing-masing pasar. Volume investasi perkantoran mencapai $48,8 miliar pada tahun 2024, meningkat 12% secara tahunan.

Pada kuartal 4, Korea Selatan memimpin di kawasan ini dalam hal volume investasi perkantoran, didukung oleh lingkungan yang kondusif akibat penurunan suku bunga utang senior (senior loan) untuk gedung perkantoran utama. Karena pembiayaan skala besar tetap berisiko, investor terlihat lebih cenderung memilih aset-aset berskala menengah dan stabil.

Logistik tetap menjadi kelas aset favorit, dengan tingginya permintaan yang kuat mendorong transaksi portofolio besar di Jepang, Australia, dan India, sehingga menyebabkan penurunan imbal hasil (yield compression) di sektor ini. Investor domestik dan asing tetap optimistis terhadap logistik Jepang berkat pertumbuhan harga sewa.

Volume investasi logistik di Australia juga pulih, terutama di pasar utama seperti Sydney dan Melbourne.

 

Sektor Ritel

Di sektor ritel, volume investasi meningkat 28% YoY pada 2024, didominasi oleh modal swasta di Australia, sementara pasar ritel utama di Singapura terus mengalami pertumbuhan sewa yang stabil. Di Korea Selatan, perusahaan menjadi pemimpin investasi, dengan fokus pada peluang-peluang peningkatan nilai tambah.

Terlepas dari ketidakpastian akibat kebijakan fiskal pemerintah AS dan keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga bulan ini, Asia Pasifik tetap menjadi tujuan yang menarik bagi investasi global,” kata Pamela Ambler, Head of Investor Intelligence, Asia Pasifik, JLL.

 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya