Astronom Temukan Titik Merah Kecil di Alam Semesta

Fenomena ini menunjukkan bahwa gas yang memancarkan cahaya berputar di sekitar wilayah pusat dengan kecepatan luar biasa, mengorbit lebih dari 1.000 km per detik.

oleh Switzy Sabandar Diperbarui 29 Mar 2025, 05:00 WIB
Diterbitkan 29 Mar 2025, 05:00 WIB
Alam Semesta
Ilustrasi Alam Semesta yang dikatakan kini dapat dibuat peta barunya berkat FRB (Fast Radio Burst) atau semburan radio cepat. (Pixabay/51581)... Selengkapnya

Liputan6.com, Jakarta - Teleskop James Webb (JWST) berhasil menangkap gambar 'Little red dots' atau si bintik merah kecil (LRDs). Para ilmuwan menganggap titik-titik ini adalah spektrumnya sangat melebar karena Doppler gerak.

Fenomena ini menunjukkan bahwa gas yang memancarkan cahaya berputar di sekitar wilayah pusat dengan kecepatan luar biasa, mengorbit lebih dari 1.000 km per detik. Dikutip dari laman Science Alert (28/3/2025), LRDs menunjukkan bahwa material tersebut mengorbit lubang hitam supermasif, yang memberi daya pada inti galaksi aktif (AGN).

LRDs diperkirakan berada di galaksi yang berjarak miliaran tahun cahaya dari Bumi, menandakan bahwa fenomena ini terjadi pada tahap awal pembentukan alam semesta. Untuk mengeksplorasi misteri ini lebih jauh, penelitian baru ini mengamati 12 LRD yang spektrum resolusi tingginya telah dikumpulkan oleh JWST.

Tim kemudian membandingkan data tersebut dengan model lubang hitam supermasif. Model tersebut mengasumsikan cakram akresi yang berputar cepat di sekitar lubang hitam yang tertanam dalam awan galaksi muda.

Pertama-tama, mereka menemukan bahwa awan di sekitarnya harus sangat terionisasi. Hal ini berarti bahwa partikel gas di sekitarnya telah kehilangan sebagian besar elektronnya, menciptakan lingkungan yang ekstrem dan berenergi tinggi.

Dengan lapisan elektron bebas yang padat yang mengelilingi galaksi, sebagian besar sinar-X dan cahaya radio akan diserap. Apabila selubung tersebut cukup padat untuk menghalangi sinar-X dan radio, lubang hitam perlu menghasilkan energi pada tingkat yang sangat tinggi untuk membuat si bintik merah kecil ini menyala terang dalam warna merah dan inframerah.

Berdasarkan pengamatan, lubang hitam harus mengumpulkan massa mendekati Batas Eddington, yang merupakan tingkat maksimum untuk pengumpulan materi. Di luar tingkat tersebut, intensitas cahaya yang dihasilkan begitu kuat sehingga akan mendorong materi lebih cepat daripada gravitasi yang dapat menyatukannya.

Peneliti percaya bahwa LRDs berperan penting dalam memahami evolusi awal galaksi. Lubang hitam supermasif yang sedang tumbuh ini kemungkinan menjadi pusat bagi galaksi-galaksi awal yang berkembang pesat di alam semesta muda.

Studi ini juga memperkuat gagasan bahwa lubang hitam supermasif dapat tumbuh lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya. Semua ini menggambarkan bahwa LRD adalah lubang hitam supermasif yang sangat muda yang tumbuh dengan cepat dan kuat.

Hal ini didukung oleh perkiraan massa lubang hitam ini dalam penelitian terbaru, yang menempatkannya pada sekitar 10.000 hingga 1.000.000 massa matahari. Akan tetapi, angkanya masih jauh lebih kecil daripada lubang hitam supermasif pada umumnya yang bisa mencapai miliaran massa matahari.

(Tifani)

Video Pilihan Hari Ini

EnamPlus

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya