Sejak Kecil, Anak-Anak di Jepang Belajar Hadapi Gempa Lewat Lagu

Salah satu hal yang bisa Indonesia tiru dari Jepang adalah pemerintah mempersiapkan anak-anak sigap hadapi bencana.

oleh Benedikta Desideria diperbarui 07 Agu 2018, 12:30 WIB
Diterbitkan 07 Agu 2018, 12:30 WIB
Dampak Kerusakan Akibat Gempa 6,1 SR di Osaka
Pelajar sekolah berlindung di halaman sekolah di Ikeda, Osaka, Jepang, Senin (18/6). Tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan terkait gempa bumi yang melanda Osaka. (Takaki Yajima/Kyodo News via AP)

Liputan6.com, Jakarta Salah satu yang bisa Indonesia tiru dari Jepang adalah cara pemerintah Negeri Matahari Terbit itu mempersiapkan anak-anak mampu menghadapi gempa. Caranya, lewat berbagi pengetahuan tentang risiko bencana dan latihan menghadapi bencana. 

"Jepang tahu bahwa negaranya rawan gempa. Makanya, pemerintah Jepang mendidik penduduknya tahan banting menghadapi bencana. Dari kecil mereka sudah dididik menghadapi gempa, tsunami itu seperti apa," cerita Sigit, warga negara Indonesia yang saat ini bermukim di Tokyo. 

Sigit yang kini bersama keluarganya tinggal di Negeri Sakura mengungkapkan, anak-anak di Jepang yang berada di nursery school dan TK sudah diajari cara menghadapi gempa. Contohnya, ketika anaknya yang saat itu berusia 3-4 tahun, rutin diberi latihan cara menghadapi gempa lewat lagu di sekolahnya. 

"Informasi menghadapi gempa itu dibuat semenyenangkan mungkin agar anak kecil kalau ada gempa sudah tahu harus meringkuk, melindungi kepala," cerita Sigit saat dihubungi Liputan6.com lewat telepon ditulis Selasa (7/8/2018).

Latihan menghadapi gempa tersebut bakal diulang di kelas setiap tiga bulan sekali.

 

 

Titik evakuasi

20160420-Korban Gempa Jepang Pilih Mengungsi di Mobil -Kumamoto
Warga menjadi mobil mereka sebagai tempat mengungsi setelah gempa dahsyat di Mashiki, prefektur Kumamoto, Jepang, 17 April 2016. Para warga memang pindah ke beberapa lokasi pengungsian, tapi mereka tidur di dalam mobil. (Kazuhiro NOGI/AFP)

Latihan menghadapi gempa untuk anak-anak yang dilakukan di sekolah itu terbukti efektif. Ketika gempa datang, anak Sigit sudah tahu harus berbuat apa. Pernah beberapa waktu lalu gempa kecil menggoyang Tokyo, anaknya sudah tahu, dengan sendirinya muncul kesadaran 'Eh gempa ya? Merunduk ya'.

Sigit juga merasa tak bakal panik bila saat anaknya sekolah ada gempa. Ia sudah tahu harus ke titik evakuasi mana guna menjemput anaknya. 

"Karena sudah jelas ya titik evakuasi terdekat dari sekolah itu di mana. Jadi, tanpa menghubungi sekolah, bisa tahu harus menjemput ke mana," katanya. 

Lanjutkan Membaca ↓
Loading

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya