Antraks di Suatu Daerah Tidak Bisa Hilang Total, Kementan: Tapi Bisa Dikendalikan

Penyakit antraks yang ditularkan dari hewan ke manusia sudah cukup lama terdeteksi di Indonesia. Anda pun mungkin salah satu yang mempertanyakan mengapa penyakit satu ini tidak pernah hilang.

oleh Diviya Agatha diperbarui 07 Jul 2023, 08:00 WIB
Diterbitkan 07 Jul 2023, 08:00 WIB
Bacillus anthracis, bakteri penyebab antraks
Bacillus anthracis, bakteri penyebab antraks. Antraks yang jika sudah menginfeksi suatu daerah maka tidak bisa hilang sepenuhnya, hanya bisa dikendalikan penularannya agar tidak terus terjadi. (Ilustrasi: Wikipedia)

Liputan6.com, Jakarta Penyakit antraks yang ditularkan dari hewan ke manusia sudah cukup lama terdeteksi di Indonesia. Anda pun mungkin salah satu yang mempertanyakan mengapa penyakit satu ini tidak pernah hilang.

Jawabannya, antraks memang tidak bisa hilang total dari suatu daerah.

Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Dr drh Nuryani Zainuddin mengungkapkan bahwa penyakit antraks bukanlah penyakit yang bisa dibebaskan.

"Penyakit antraks bukan penyakit yang bisa dibebaskan. Jadi, tidak ada itu pembebasan suatu wilayah terkait dengan antraks," ujar Nuryani saat konferensi pers bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Kamis (6/7/2023).

"Hanya bisa dikendalikan, karena kenapa? Karena dia membentuk spora di tanah dan lingkungan," sambungnya.

Sudah Ada di RI Sejak 1884

Nuryani menjelaskan, antraks di Indonesia sudah ada sejak tahun 1884. Bahkan, setiap tahunnya, antraks memang masih bermunculan.

"Setiap tahun memang terjadi kasus (antraks) yang sporadis, tidak endemis. Pada daerah tertentu-tentu saja, karena spora itu ada di daerah tertentu saja. Ketika ada faktor risiko, spora ini akan aktif menginfeksi kembali," kata Nuryani.

Kabar baiknya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan penularan antraks agar tidak terus terjadi.

Menurut Nuryani, pencegahan dan pengendalian penyakit satu ini bisa dilakukan pada sumbernya yakni dengan melakukan vaksinasi di area endemi antraks, kontrol lalu lintas, dan tindakan disposal pada hewan terinfeksi.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.


Hal Terpenting Jika Ingin Hentikan Penularan Antraks

Antraks
Petugas Dinas Pertanian & Kesehaan Bone Bolango Melakukan vaksinasi Terhadap Sapi untuk Mencegah penularan Antraks. (Foto: Aldiansyah Mochammad Fachrurrozy/Liputan6.com)

Lebih lanjut Nuryani mengungkapkan bahwa sebenarnya yang paling penting dalam pengendalian antraks adalah meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap antraks.

Sementara itu, sambil pemerintah berupaya memperkuat surveilans pada daerah endemi atau terancam, investigasi lapangan, dan pengobatan tepat.

Begitupun dengan kolaborasi lintas sektor. Menurut Nuryani, kolaborasi antara Kementan, Kemenkes, pemerintah daerah, dan stakeholders lainnya tak kalah penting dalam upaya pengendalian antraks.


Kenapa Antraks Tidak Bisa Hilang Sepenuhnya?

Waspada Antraks, Tegal Setop Terima Daging Sapi dari Yogyakarta
DKPP Tegal menghentikan lalu lintas daging sapi dari Yogyakarta. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Seperti diketahui, bakteri penyebab antraks dapat membentuk spora.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes RI, Dr Imran Pambudi mengungkapkan bahwasanya bakteri penyebab antraks yang kontak dengan udara memang akan membentuk spora yang sangat resisten terhadap lingkungan dan bahan kimia tertentu.

"Bakteri penyebab antraks ini bila kontak dengan udara itu akan membentuk spora, dimana spora ini fungsinya sebagai pelindung," ujar Imran.

"Sehingga bakteri yang ada di dalam spora ini akan sulit untuk mati, karena dia terlindungi dengan spora, dan ini bisa bertahan hingga puluhan tahun di dalam tanah," sambung Imran.


Proses Transmisi Antraks dari Tanah ke Hewan dan Manusia

Waspada Antraks, Tegal Setop Terima Daging Sapi dari Yogyakarta
DKPP Tegal menghentikan lalu lintas daging sapi dari Yogyakarta. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Lebih lanjut Imran mengungkapkan bahwa transmisi antraks dari tanah ke hewan dan kemudian menginfeksi manusia terjadi dalam beberapa tahapan.

Pertama, bakteri Bacillus anthracis mulanya berubah menjadi spora di dalam tanah dan rerumputan. Bakteri kemudian bisa bertahan hidup hingga lebih dari 40 tahun.

"Kemudian (kedua), spora ini bisa masuk-masuk ke manusia. Masuk lewat luka pada tubuh, makan, minum dengan yang punya kandungan spora tadi," kata Imran

"Bakteri ini juga bisa dimakan oleh hewan dimana nanti hewan yang sakit dikonsumsi oleh manusia. Jadi ada dua, bisa langsung dari tanah sendiri. Bisa juga masuknya melalui hewan yang sakit," tambahnya.

Infografis Siap-Siap Kenaikan Gaji PNS 2024 Diumumkan 16 Agustus 2023. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Siap-Siap Kenaikan Gaji PNS 2024 Diumumkan 16 Agustus 2023. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya